Search and Hit Enter

Muktamar Kelas Dunia

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) diberi amanah untuk menjadi tuan rumah Rapat Akbar Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-48. Menjadi bagian penting event strategis seperti Muktamar Muhammadiyah, saya sebagai alumnus UMS, tentu saja berbangga. Terlebih, UMS tengah dalam ikhtiar menuju World Class University pada 2029.

Lebih dari itu, Muhammadiyah kini benar-benar semakin bermanfaat. Bermula dari inisiasi mulia seorang Muhammad Darwis yang kemudian dikenal dengan Kiai Haji Ahmad Dahlan, pada 18 November 1912 di Kauman, Yogyakarta, Muhammadiyah terus berkembang hingga menjadi organisasi gerakan dakwah internasional. Cahaya Muhammadiyah benar-benar mencerahkan semesta.

Muhammadiyah mendunia didorong oleh amanat Muktamar ke-47 tahun 2015. Sebelumnya, tepatnya pada 2014, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) membantu rakyat Palestina. MDMC turun tangan pula saat gempa Nepal 2015 dengan mengirimkan relawan ke sana.

Catatan lainnya, Muhammadiyah terlibat dalam resolusi konflik dan menjadi mediator dialog antara Muslim Moro dan Pemerintah Filipina, juga turut memberikan bantuan medis dan menyalurkan ribuan paket bantuan untuk Muslim Rohingnya, Myanmar.

Secara organisasi, Muhammadiyah telah melahirkan 24 Pimpinan Cabang Muhammadyah Istimewa (PCIM) di lima benua, yakni Mesir, Iran, Sudan, Belanda, Jerman, Inggris, Libya, Malaysia, Prancis, Amerika Serikat, Jepang, Pakistan, Australia, Rusia, Taiwan, Tunisia, Turki, Korea Selatan, Tiongkok, Arab Saudi, India, Maroko, Yordania, dan Yaman.

Kurang lebih bersemangat sama, pada Senin (24/10/2022), dilakukan penandatanganan kerja sama antara UMS dengan Tongmyong University Korea Selatan di Edutorium KH Ahmad Dahlan. Bentuk kerja samanya dalam bentuk credit transfer dan double degree. UMS akan membuka kelas untuk program under-graduate atau S1 di Tomyong University. Artinya, UMS berkesempatan membuka cabang untuk program sarjana di Korea Selatan.

Internasionalisasi syiar Muhammadiyah melalui UMS ini tentu saja tidak serta merta muncul atau lahir instant. Sebelumnya, pada pertengahan 2017, Quacquarelli Symonds (QS) World University Ranking memeringkat UMS pada urutan kedelapan dari sembilan perguruan tinggi di Indonesia yang masuk dalam daftar kampus dunia. UMS, satu-satunya perguruan tinggi swasta dalam daftar tersebut. Pemeringkatan dilakukan terhadap lebih dari 959 perguruan tinggi di 84 negara di dunia, didasarkan pada academic reputationcitation (predikat) per facultyemployer reputationfaculty studentinternational faculty, dan international student.

Menurut University Rankings (Unirank), UMS merupakan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terbaik nasional tahun 2019. Apabila digabungkan dengan rangking Perguruan Tinggi Negeri (PTN), UMS berada di urutan 10.

Sejumlah 26 Program Studi (Prodi) UMS telah terakreditasi A, sedangkan 25 Prodi lainnya terakreditasi B. Tidak ada Prodi yang terakreditasi C. Artinya, telah lebih dari 50 persen Prodi terakreditasi A. Dari 630 tenaga pendidik, sebanyak 167 orang lulus S3, sementara 103 orang sedang studi S3. Berarti, sejumlah 40 persen tenaga pendidik di UMS sudah atau sedang menempuh studi S3.

Indonesia Mendunia

Ikhtiar UMS menjadi ‘World Class University’ tidak kurang dan tidak lebih sebenarnya selaras dengan pendidikan nasional. UMS tidak berdiri dan eksis sendirian. Seperti diketahui, pendidikan nasional adalah pendidikan yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.[1]

Zaman terus berubah dengan dinamikanya sendiri-sendiri. Upaya UMS menjadi World Class University pada 2029 nanti menjadi relevan, karena masa ini berbarengan dengan gelombang Industri 4.0 dan era Supersmart Society 5.0. Zaman yang dipenuhi Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), Big Data Analytics, Robotics, Augmented Reality, Cloud Computing, dan Blockchain.[2]

Dengan menjadi World Class University, secara strategis, UMS siap berhadapan dengan zaman super pintar. Keberhasilan UMS pada akhirnya juga dapat dianggap sebagai keberhasilan pendidikan nasional yang ‘tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman’. Kampus bukan lagi hanya tempat belajar yang terpisah dengan realitas. Pada proporsinya, kampus UMS dapat menjadi jawaban atas persoalan zaman.

Selanjutnya, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[3]

Apalagi pada konteks proyeksi generasi, Indonesia tengah menjemput Generasi Emas 2045. Pada momentum bersejarah 2045 tersebut, Indonesia genap berusia 100 tahun. Ketika itu, Indonesia memanen bonus demografi. Diperkirakan, sejumlah 70 persen penduduk Indonesia dalam usia produktif (15-64 tahun). Sementara sisanya, tidak produktif, yakni penduduk berusia di bawah 14 tahun dan di atas 65 tahun.

Sejauh apa kesiapan UMS? Anda dapat menilik program Akselerasi Doktor, berupa ‘Smart Ph.D Partnership’, antara UMS dengan Perguruan Tinggi Malaysia, khususnya Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI). Selain itu, beasiswa ke luar negeri, perekrutan doktor baru, dan studi lanjut S3 secara reguler. UMS intens mendampingi puluhan Doktor dan Lektor Kepala untuk menjadi Guru Besar. Kesempatan beasiswa diberikan pula kepada mahasiswa asing.

Perpustakaan UMS pun terakreditasi A. Lembaga Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UMS masuk dalam kategori Cluster Mandiri. UMS terus meningkatkan jumlah jurnal bereputasi internasional hingga lebih dari 500 Scopus. UMS juga melakukan kerja sama dengan Perguruan Tinggi Luar Negeri, seperti Journal Collaboration atau Publication, Visiting Professor, Student Exchange, Lecture Exchange, Student Internship.

Kualifikasi kemumpunian UMS sudah jelas berdampak pada semua lulusannya. Pada saat dan tempat yang berbeda, ribuan alumni UMS mengaliri semua sektor kehidupan. Ketika kualifikasi lulusan UMS benar-benar mumpuni, berarti dapat bermanfaat luas bagi masyarakat dan dunia. Pengalaman para alumni selama belajar di UMS dapat diterapkan, bahkan menginspirasi pihak lain untuk terus melakukan kemanfaatan serupa. SDM Indonesia pun dapat mendunia.

Bagian dari Solusi Persoalan Global

Setidaknya, ada lima isu global yang dominan pada tahun 2022, yakni pemulihan pasca-pandemi Covid-19, pengentasan kemiskinan menuju tenggat waktu capaian SDGs 2030, akuntabilitas iklim, kesetaraan gender dan hak-hak perempuan, serta krisis dan konflik kemanusiaan.[4]

Umumnya, persoalan-persoalan global diupayakan solusinya melalui jalur politik. Namun, menurut saya, politik tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Sebab, pendidikan yang berkembang dengan baik dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Oleh karena itu, konsep kajian politik pendidikan harus mengambil irisan dampak positif bagi masyarakat luas.

Pengambilan kebijakan, misalnya, tidak dapat mengabaikan pembentukan karakter secara holistik, sesuai dengan konsep pendidikan karakter. Persoalan yang sempat ramai diperbincangkan adalah tentang rancangan peta jalan pendidikan nasional, seputar frasa agama yang dihilangkan, dan jelas menyimpang dari esensi pendidikan di Indonesia. Pendidikan harus kembali kepada marwah pendidikan Indonesia yang kaya budi pekerti luhur. Contoh lain, pendidikan harus sesuai ideologi Pancasila, sehingga generasi muda mampu menjaga NKRI dan pendidikan perpolitikan, serta mengawal isu-isu peta konsep pendidikan di Indonesia.

Pendidikan yang tepat, salah satunya diperjuangkan oleh UMS, pada akhirnya dapat menjadi bagian dari solusi persoalan global. Mengutip pernyataan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, bahwa UMS merupakan kebanggaan Muhammadiyah, pada akhirnya kita akan terus berikhtiar dan berdoa untuk menjadikan UMS kebanggaan dunia. Wallahu a’lam.

[1] Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 2.

[2] Astrid Savitri. 2019. Revolusi Industri 4.0: Mengubah Tantangan Menjadi Peluang di Era Disrupsi 4.0. Yogyakarta: Penerbit Genesis.

[3] Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 pasal 3.

[4] https://unfoundation.org/blog/post/5-global-issues-to-watch-in-2022/?gclid=CjwKCAiA8bqOBhANEiwA-sIlN1JOEkBzowobYZpb2hpGnzp6DKtBPOd2U4fpf0wb_n6eXixuLHiH_BoCGVQQAvD_BwE. Diakses 6 November 2022.

Ditayangkan Surakarta Daily.
Sumber foto: UMS