Search and Hit Enter

Menjadi Pesantren Muhammadiyah

Pesantren Muhammadiyah menjadi salah satu kajian penting menjelang dan saat Muktamar. Pertengahan Agustus 2022, misalnya, seminar Pra-Muktamar Muhammadiyah ke-48 digelar di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Tema yang disajikan, ‘Pesantren Muhammadiyah Berkemajuan dan Tantangan Masa Depan’. Tema tersebut dijabarkan dalam dua pembahasan, Strategi Pengembangan Pesantren Muhammadiyah Berkemajuan serta Sistem Pembelajaran, Manajemen, dan Kepemimpinan Pesantren Muhammadiyah Berkemajuan.[1]

Mengapa pesantren? Karena, Muhammadiyah memerlukan kaderisasi ulama mumpuni yang berkesinambungan. Ulama yang dimaksud tidak sekadar cerdik cendekia dalam keislaman. Ulama Muhammadiyah haruslah seorang ahli ilmu agama sekaligus mujahid dakwah dan pembimbing umat.[2]

Kaderisasi ulama Muhammadiyah menyeimbangkan, mengelola, dan memadukan produk-produk kader ulama lulusan pusat pendidikan tinggi di Dunia Islam, khususnya Timur Tengah, dan produk kader ulama cendekiawan dan teknolog hasil pendidikan tinggi di Dunia Barat.[3]

Bagi saya, sebenarnya sungguh menarik membahas kiprah Muhammadiyah dalam lokus pendidikan pesantren. Namun, sudut pandangnya tidak perlu membandingkan diri dengan semua saudara Muslim yang juga bertekun pada jalur pendidikan pondok pesantren. Kita tidak perlu pula terperangkap pada sejarah kepesantrenan, khususnya Islam di Indonesia.

Mari menilik dan saling bercerita tentang boarding shool di luar Islam yang memang ada. Kita hanya perlu melihat dari luar pagar bahwa seminari, misalnya, juga seperti pondok pesantren. Seminari dikenal sebagai lembaga pendidikan bagi calon pastor Katolik Roma. Misal yang lain adalah Shaolin Temple. Vihara Buddhist Zen di Gunung Song dekat Kota Zengzhou, Provinsi Henan, ini tempat mendidik dan mengembangkan seni bela diri Tiongkok, di antaranya Shaolin Kung Fu.

Atau negara pun punya pendidikan asrama. Sebut saja IPDN, STAN, AKMIL, AKPOL, dan masih banyak lagi nama-nama sekolah berbasis asrama yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke. Masing-masing memiliki tujuan dan manajemen berbeda, tapi pola asuhnya relatif mirip, keasramaan.

Ledalero, Seminari Terbesar di Dunia

Anda mengenal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero di Pulau Flores? Berdiri sejak 20 Mei 1937, areal Seminari Tinggi yang beralamat di Bukit Ledalero, Desa Nitakloang, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, tersebut, mulanya hanyalah sebuah bukit yang dianggap angker oleh penduduk. Bukit ini dijauhi karena diyakini sebagai hunian roh-roh yang mudah tersinggung.

Berpuluh tahun berlalu, tepatnya pada pertengahan Mei 2019, Ledalero diakui sebagai lembaga pusat pendidikan calon imam terbesar di dunia oleh lembaga rekonsiliasi internasional, Faith Matters. Ribuan alumni Ledalero tersebar di berbagai tempat sebagai imam misionaris dan awam yang berkiprah di berbagai bidang.[4]

Faith Matters menilai, Ledalero tidak hanya harum namanya di Indonesia, tetapi juga bagi orang Katolik di mana saja. Para imam dididik dan dikirim ke berbagai penjuru dunia untuk memberitakan Injil, dengan tidak hanya berkhotbah, tetapi memerangi kemiskinan dan ketidakadilan.[5]

Apa kelebihan Ledalero? Walaupun harus mengatasi tantangan bahasa dan perbedaan budaya, para misionaris tamatan Ledalero umumnya dapat menemukan cara untuk mendekati umat. Mereka berkarya dalam pelayanan pastoral di paroki, serta menjadi guru dan pendidik atau pemimpin. Beberapa di antaranya dikenal sebagai pejuang kemanusiaan dan pembela hak-hak warga dan umat yang miskin dan tersisih.

Semakin hari, kehadiran banyak dosen dalam berbagai bidang keahlian, khususnya dalam bidang ilmu-ilmu sosial, membuat Ledalero semakin terbuka untuk menanggapi masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Pendekatan pembangunan bukan lagi satu-satunya, tetapi juga pendekatan advokasi bagi rakyat yang menjadi korban pembangunan.

Pendidikan Ledalero adalah proses saling menjernihkan dan memperkaya. Para Seminaris melakukan pertobatan untuk menjadi rendah hati, serta meluluhkan benteng keangkuhan diri. Ketulusan dan kejujuran selalu diperjuangkan, meski tidak sedikit yang harus dibayar untuk itu. Kepekaan sosial dan keberanian menanggapi masalah-masalah sosial sangatlah penting. Mereka punya cara untuk mengatasi godaan kenyamanan diri dan kelompok sendiri.

Shaolin, Pendidikan Seni Bela Diri Berbasis Agama

Apabila Anda pencinta film-film kungfu, Biara Shaolin sangatlah Anda kenal. Gerakan bela diri yang enak dipandang mata itu ternyata andalan menghalau kejahatan. Kuil Shaolin, tak lain adalah tempat para biksu belajar seni bela diri berbasis agama.

Kepala Shoul N. Eisenberg untuk Urusan Asia Timur, Universitas Tel Aviv, Meir Shahar, dalam karyanya, berjudul The Shaolin Monastery: History, Religion, and the Chinese Martial Arts[6] menulis, Kuil Shaolin dibangun pada 497 Masehi di rumah seorang biksu India bernama Batuo. Ia pergi berkelana ke Luoyang[7] untuk menyebarkan ajaran agama Buddha. Selanjutnya, pada 517 Masehi, seorang biksu bernama Bodidharma memperkenalkan Shaolin ke dunia luar. Ajaran Bodhidharma berbasis pada Chan Buddhisme dan cara hidup senam yang kemudian berkembang menjadi kungfu.

Para biksu Kuil Shaolin dikenal memiliki keahlian bela diri yang digunakan untuk memertahankan diri dari penjajah dan perampok. Mereka berlatih keras dan mengombinasikan gerakan seni bela diri dengan ajaran spritual Budha. Dengan begitu, mereka dapat menjaga kesehatan, mengobati penyakit, melindungi gunung terkenal tempat mereka belajar, menjaga kuil kuno, membangun pertahanan diri, dan memukul mundur musuh.

Biksu Shaolin berlatih kungfu sebagai cara mengendalikan keinginan fisik. Mereka meniru keindahan gerakan hewan untuk menyelaraskan diri dengan alam. Filosofi, Buddhisme, dan meditasi diramu dalam sistem pendidikan yang teruji selama lebih dari 1.500 tahun. Tidak semua biksu Shaolin, seorang petarung hebat. Mereka adalah biksu Buddhis yang berlatih kungfu dengan teknik Shaolin, tetapi bukan biksu petarung.[8]

Pola pikir dan pola hidup biksu Shaolin mengacu pada pribadi yang seimbang, tangguh, dan mampu memahami diri sendiri. Aspek bela diri hanya manifestasi fisik dari pemahaman spiritualitas. Berlatih kungfu Shaolin merupakan salah satu cara memahami Buddhisme. Setiap biksu diharuskan berlatih kungfu secara intens, mengendalikan diri, dan bermeditasi. Para biksu berkomitmen penuh dan berdedikasi tinggi untuk menjalani hidup sesuai ajaran Buddha.

Sistem pendidikan di Biara Shaolin memang berbeda. Murid diharuskan mulai terlebih dulu dengan menghapal semua ajaran, lalu meningkat menjadi ‘saya tahu artinya, tapi lupa ayatnya’ dan puncaknya adalah ‘saya tidak tahu artinya, tapi kalau diperlukan akan keluar dan mengalir spontan begitu saja dengan sendirinya’. Prinsip yang sama diterapkan dalam penguasaan ilmu bela diri.[9]

Kader Umat Terbaik

Bagaimana dengan Pesantren Muhammadiyah? Paparan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam seminar Pra-Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Universitas Muhammadiyah Semarang, pada Februari 2000, sangatlah penting dicatat. Ketika itu, Pak Haedar menyampaikan tujuh ciri Pesantren Berkemajuan.[10]

Pertama, Pesantren Muhammadiyah berbasis pada sistem pendidikan Islam modern. Sebuah ciri khas Muhammadiyah sejak awal pendiriannya. Integrasi agama dan ilmu pengetahuan adalah karakter dari pendidikan Islam modern.

Kedua, pesantren berkemajuan berarti santri, ustaz, dan pimpinannya memiliki pemikiran yang berorientasi ke depan dan menjadi teladan yang baik. Pikiran maju menjadi karakter unik Muhammadiyah. Al-Quran bukan hanya diingat dan dipahami, tetapi menjadi amal yang nyata. Ketiga, pesantren berkemajuan memiliki infrastruktur yang maju dan modern. Keempat, pesantren berkemajuan memiliki keyakinan pada prinsip-prinsip agama, sikap, dan paham Muhammadiyah.

Kelima, pesantren berkemajuan menjadi institusi yang membawa dan mencapai tujuan Muhammadiyah, yaitu Masyarakat Islam yang Sebenar-benarnya (MIYS). Pesantren Muhammadiyah harus menciptakan kader umat terbaik (khair al-ummah).

Keenam, pesantren berkemajuan membangun sistem yang maju. Tata kelola dan administrasi dilakukan oleh ahlinya, sedangkan astiz, para ustaz, para pimpinan, dan santri hanya fokus pada pengembangan keilmuan. Ketujuh, pesantren berkemajuan memiliki wawasan kemasyarakatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal. Pesantren Muhammadiyah memandang Pancasila sebagai dar al-‘ahdi wa al-syahadah.

Tujuh ciri Pesantren Muhammadiyah tersebut, secara konseptual, telah sangat komprehensif, menjawab persoalan zaman. Implementasi yang disesuaikan keadaan masing-masing pesantren bisa jadi sedikit berbeda, tapi prinsip-prinsipnya, tidak jauh berbeda. Mari berdoa untuk kebaikan Pesantren Muhammadiyah, tempat anak-anak kita tumbuh, belajar, dan berbakti, menjadi kader umat terbaik.

[1] https://ump.ac.id/Berita-2710-Pesantren.Muhammadiyah.Berkemajuan.di.Bahas.di.UMP..html. Diakses 15 Oktober 2022.

[2] Syamsul Hidayat dalam Abd Rohim Ghazali, dkk (ed.). 2015. Kosmopolitanisme Islam Berkemajuan. Surakarta: Muhammadiyah University Press. h. 224-225.

[3] ibid. h. 226.

[4] https://www.seminariledalero.org/sejarah-singkat. Diakses 15 Oktober 2022.

[5] http://www.stfkledalero.ac.id/public/detail/faith-matters-the-miracle-of-flores-the-world-s-largest-seminary. Diakses 15 Oktober 2022.

[6] Shahar, Meir. 2008. The Shaolin Monastery: History, Religion, and the Chinese Martial Arts. Hawai’i: University of Hawai’i Press.

[7] Kini bagian dari Provinsi Henan, Tiongkok.

[8] https://shaolin.org/shaolin/greatest.html. Diakses 15 Oktober 2022.

[9] Jusuf Sutanto. 2010. T’ai Chi: The Great Harmony, Seni Menjalani Kehidupan, Falsafah Gerakan Manfaat. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. h. 168.

[10] https://ibtimes.id/?p=15505. Diakses 16 Oktober 2022.

Ditayangkan Surakarta Daily.
Foto: Pondok Pesantren Muhammadiyah Daarul Arqom Tulung Klaten.