Search and Hit Enter

Biduk Kasih Astha Warsa

Sungguh aku tak akan melupakan saat-saat itu. Kisah seorang gadis belasan tahun nan gesit yang sehari-hari berkelebat tekun, tak jauh dari tempatku merintis imaji tentang dunia yang lebih baik. Sesekali aku melihatnya. Terkadang, aku menyapanya. Kaku, seadanya, takut mengganggu, canggung, dan dag dig dug rasanya.

Aku tak mengenalnya. Tapi sepertinya aku sangat mengenali paras itu, tatap itu, senyum itu. Entah di mana. Lusinan kali barangkali tiap saatnya, aku bertanya pada diriku, siapa gerangan gadis gesit itu. Termasuk perihal, mengapa aku tiba-tiba punya energi luar biasa untuk memerhatikan dan memikirkannya.

Usut punya usut, si gadis memang sosok yang minim petunjuk. Satu-dua orang memberikan kabar tentangnya, meski juga patah-patah dan tak benar-benar tahu. Aku semakin belingsatan. Selalu saja tak mudah, bahkan sekadar untuk berkenalan. Bukan hanya semakin misterius rasanya, hari-hari terasa seperti berjuang untuk entah. Berharap pada sesuatu yang tak bisa teraih semacam umumnya.

Dalam keputusasaan yang tak mudah menyusun penjelasannya, suatu sore, tanpa sengaja aku berjumpa si gadis di sebuah gang kecil, tak jauh dari tempatku bertugas. Bak pungguk memeluk bulan, sontak aku berburu buas.

“Mau ke mana?” tanyaku garing.

“Ini nunggu jemputan,” jawab doi tak tenang. Matanya terus menatap jalan, seperti mencari-cari sesuatu.

“Lho? Memangnya mau ke mana?” masih saja garing pertanyaanku. Sama.

“Jogja,” kata si gadis singkat.

“Boleh minta nomor telepon?” aku memberanikan diri.

Suasana semakin aneh rasanya. Tapi begitulah. Ketika kesempatan yang didapat sangat-sangatlah singkat, setidaknya kalian harus bertanya, mau ke mana.

Si gadis tentu saja serba-salah. Semisal nomor telepon dikasih, belum terlalu kenal. Misal tidak diberikan, kok permohonannya setengah memaksa. Walhasil, aku mendapatkan nomor telepon itu. Meski tampaknya, si gadis tengah mencari cara agar bisa segera berlalu meninggalkanku.

Kami pun berpisah. Bermodalkan nomor telepon si gadis, sebisa mungkin aku bergerilia. Pesan terkadang berbalas, terkadang tidak. Terkadang berbalas cepat, terkadang hingga penghujung hari baru berbalas. Betapa teknologi informasi dapat menolong orang-orang sepertiku. Entah apa jadinya bila tidak ada telepon genggam di masa itu.

Beberapa tahun kemudian, aku menikahi si gadis. Cerita yang ringkas, bukan? Karena, terlalu banyak hal manis yang bisa diceritakan. Saking banyaknya, jadi tak mudah menuliskannya satu per satu dalam waktu singkat. Kalian tahu, kan, kalau ada yang manis, berarti ada yang pahit? Kita bisa tahu rasanya manis, ya kalau ada pahitnya.

Kurang lebihnya begitu. Tentang manis dan pahit itu. Manis dan pahit hidup bersama si gadis. Tapi kata orang, setelah menikah, aku tampak lebih bersih, lebih bisa mendengarkan, dan lebih realistis. Pada masa sebelumnya, hidup bersih bukan hal mudah buatku. Aku juga lebih sering bicara, ketimbang mendengar. Dan yang paling parah, dahulu, aku sulit realistis.

Sebutlah aku mendamba idealitas, hidup yang sulit realistis sebenarnya mengkompensasi ketidakmampuanku atas realitas. Teknisnya, lebih baik sulit realistis, agar tidak kentara ketidakmampuan itu. Berlindung pada gagasan ideal tentang sesuatu, tapi melempem drastis saat harus bersua dengan realitas.

Menikahi si gadis mengubah perilakuku perlahan, tapi hingga tahap signifikan. Aku tiba-tiba tidak sedang merasa menjadi orang lain, atau orang baru. Aku merasa tetap menjadi diriku, tapi lebih baik. Aku merasa tetap bisa bercita-cita, tapi dengan capaian yang lebih mudah. Aku tak lagi merasa kesepian.

Delapan tahun berlalu, dua putri mengagumkan menjadi anugerah tak terkira selanjutnya. Perjalanan hidup yang tak mudah, tapi menyenangkan. Terima kasih, Cinta.