Search and Hit Enter

Sabtu Surakartan #003: the Royal Kartasura Culture, Regency Branding Sukoharjo

Desember, Sabtu Surakartan kali ketiga, Sabtu (26/12/2020), digelar daring bersama Google Meet. Agenda akhir tahun yang membludak beriring pandemi Covid-19 yang belum mereda menjadi alasan kuatnya. Kelebihannya, forum diskusi literasi bulanan ini bisa diikuti oleh lebih banyak penulis, karena tidak harus hadir secara fisik seperti sebelum-sebelumnya.

Tema yang diangkat tentang ‘Keraton Kartasura Surakartan: Sejarah Kearifan dan Basis Ekonomi Lokal Kabupaten Sukoharjo’. Diantarkan penulis novel sejarah Bedah Kartasura, Kun Prastowo, suasana forum dibawa menuju abad ke-17, saat Keraton Kartasura masih eksis, hingga lahirnya Surakarta dan Yogyakarta. Pengisahan ulang yang jarang dilakukan tersebut memberi sudut pandang renyah tentang Kartasura yang menawan di masa lalu.

Pemateri kedua, Bagus Sigit Setiawan, pegiat komunitas Kartasura. Sekian waktu, ternyata warga Kartasura telah bersumbangsih pada perawatan Keraton Kartasura, dalam arti membersihkan dan menata bangunannya, hingga ke pemanfaatan publik dalam bentuk event-event menarik. Sebagai cagar budaya, diharapkan Keraton Kartasura dapat diakses semua kalangan warga, dengan tetap mempertahankan karakter asli bangunan.

Dua pembahas sama-sama berkontribusi referensi tentang Keraton Kartasura yang tidak melulu tentang perang-perang tak terlupakan itu. Berbagai data dikemukakan, dan tentu saja, data yang sulit ditemukan di tengah informasi berserak tentang Keraton Kartasura yang mafhum dipahami hanya sebagai sejarah konflik Mataraman.

Memotret Keraton Kartasura dalam angle kekinian yang telah kompleks, ternyata gampang-gampang susah. Gampang, karena secara bukti, meski dengan banyak keterbatasan, Keraton Kartasura masih ada dan terawat. Susah, karena Keraton Kartasura kini sekadar salah satu cagar budaya Surakartan yang pamornya tak segemerlap Keraton Kasunanan, Ngayogyakarta, Mangkunegaran, atau Pakualaman.

Namun, lebih dari semua itu, partisipasi warga Kartasura sebagai pelestari Keraton adalah modal sosial terbesar. Rasa memiliki yang tidak selalu dikalkulasi untung dan rugi. Dedikasi yang tidak monoton tentang viral atau tidak sebuah aksi ditekuni. Visi kekartasuraan yang dibina sejak inisiatif membersihkan rumput di sekitaran Keraton dilakukan.

Bukan hanya itu, seperti disampaikan Bagus Sigit Setiawan, animo warga ternyata juga perihal kesejarahan. Bahwa Keraton Kartasura, sebagaimana adanya, dapat menjadi komoditas utama entitas apa pun yang terhubung, oleh sejarah juga oleh bisnis mutakhir, semisal pariwisata. Bahwa siapa yang paling bisa menyajikan narasi seputar kesejarahan Keraton Kartasura maka dialah ‘pemilik’ de facto eksistensi keraton yang kini secara administratif menjadi bagian dari Kecamatan dengan nama sama.

Destinasi, sejarah, dan rasa memiliki warga adalah tiga komponen utama ‘penjaga’ Keraton Kartasura. Ketiganya dapat diracik masif dengan sentuhan pemassalan, dengan benar-benar menjaga keaslian, dari semangat hingga bangunannya. Terlebih, Keraton Kartasura memang bak ‘permata’ yang meski terkubur jutaan kepentingan tetaplah mewah dan bersinar indah.

The Royal Kartasura Culture

Saya tertarik memunculkan istilah ‘the Royal Kartasura Culture’ untuk membangun branding Keraton Kartasura. Ada kesamaan istilah dengan the British Royal Family, misalnya. Kata ‘royal’ dapat bermakna khusus sebagai representasi kerajaan, raja, atau nasab penguasa. Sementara the Royal Kartasura Culture lebih merujuk pada Keraton Kartasura sebagai simbol budaya Mataraman. Terlalu ngoyo, kah? Tidak juga. Karena sejarah Kartasura tak mungkin terhapus oleh jejak buruk di masa silam. Begitu memang keadaannya.

Simbol budaya berarti kaya pranata dan mampu mengayomi banyak pihak dengan pranatanya tersebut. Masyarakat berbudaya adalah embrio penting kreativitas, untuk selanjutnya, mewujud dalam bingkai kebijakan pemerintah seputar ekonomi dan politik. Ya kesejahteraan ujung semua ini. Kesejahteraan yang dibangun dari pranata budaya penuh keadaban dan peka zaman.

Dalam konteks regency branding, misalnya. Pemerintah Kabupaten Sukoharjo dapat mengandalkan Keraton Kartasura sebagai jati diri. Perihal ikon pemersatu, sebab memiliki sejarah luar biasa yang dapat terus dirawat dan dilestarikan. Keraton Kartasura dapat memperkenalkan Kabupaten Sukoharjo hingga ke seluruh dunia.

Lebih lanjut, Keraton Kartasura dapat menjadi etalase komoditas lokal Kabupaten Sukoharjo, mulai pangan, kerajinan, hingga wisata. Bahwa untuk menarik pembeli, pintu masuknya bisa dikreasi dari pengenalan sejarah dan budaya peninggalan Keraton Kartasura. Bila demikian, Kabupaten Sukoharjo dapat ‘bertanding’ secara budaya dengan Kasunanan yang secara administratif ada di wilayah Kota Surakarta atau Ngayogyakarta di Kota Yogyakarta.

Praktiknya, bisa jadi tak semudah dibayangkan. Tapi mengemukakan Keraton Kartasura sebagai beranda Kabupaten Sukoharjo tentu saja dapat direalisasikan. Mulai dari pembangunan website keraton sampai penyelenggaraan event untuk mendorong terjadinya transaksi. Karena memang begitu cara ekonomi tumbuh dan bergerak. Welcome to the Royal Kartasura Culture.

Ditayangkan Surakarta Daily.