Search and Hit Enter

PSS Sleman, Identitas Warga Sleman Bagian dari Jogja

Adalah Perserikatan Sepakbola Sleman, akrab disebut PSS, dan dahulu bernama Perserikatan Sepakraga Sleman. Lahir pada Kamis Kliwon, 20 Mei 1976, semasa periode kepemimpinan Bupati KRT Suyoto Projosuyoto, PSS lantas membangun monumen perjalanannya dari waktu ke waktu, berikut pasang surut prestasi, dan turut dalam dinamika persepakbolaan Tanah Air yang ngeri-ngeri sedap itu.

Manajemen klub berjuluk Elang Jawa, familier diucap Elja, atau Laskar Sembada, baru saja menyelesaikan Rapat Kerja untuk menyatukan visi kerja tahun 2021, sekaligus meresmikan kantor serba guna bernama ‘Omah PSS’ di Ngaglik, Sabtu (12/12/2020). Di tengah ketidakpastian Liga 1, menurut Direktur Utama PT PSS, Marco Gracia Paulo, apa pun yang terjadi, persiapan yang matang tetaplah diperlukan.

Bagi saya, kabar digelarnya Rapat Kerja manajemen PSS seperti mereproduksi energi positif menjadi optimisme hidup, di tengah masa pandemi Covid-19. Sumbangsih semangat yang sangat berarti bagi warga Sleman, terutama, karena memasuki November 2020, status Gunung Merapi naik dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III). Pandemi dan status Siaga Merapi dalam satu waktu tentu bukan hal sederhana.

Beruntung, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sleman, pada 9 Desember 2020, berjalan dengan baik. Kekhawatiran berbagai pihak atas penyelenggaraan Pilkada dijawab dengan ketaatan pada protokol kesehatan. Kini, Pemerintah Kabupaten Sleman tengah bersiap melaksanakan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) e-voting tahun 2020.

Secara de facto, PSS dan warga Sleman bisa dibilang satu tubuh. Eksis-tidaknya PSS dalam kancah persepakbolaan nasional bahkan internasional berpengaruh pada kebanggaan warga Sleman akan identitas lokal keslemanan. Sebaliknya, eksis-tidaknya dukungan warga Sleman kepada PSS tentu berpengaruh pada performa setiap pertandingan sepakbola yang dijalani.

Kemanunggalan tersebut bahkan luber dan mengalir jauh hingga ke luar daerah, karena dukungan pada PSS Sleman ternyata juga datang dari masyarakat non-Kabupaten Sleman. Sebuah apresiasi yang jujur, tentang PSS sebagai klub sepakbola di satu sisi dan warga Sleman sebagai ‘pemilik’ PSS di sisi lain.

PSS Tangguh Bencana

Sekian waktu, Warga Sleman akrab dan hidup berdampingan dengan Merapi, gunung berapi teraktif di Indonesia. Gunung dengan ketinggian puncak 2.930 mdpl itu telah menjadi bagian dari kearifan lokal warga Sleman. Bukan hanya itu, Kabupaten Sleman juga memiliki potensi bencana banjir, gempa bumi, puting beliung, kekeringan, tanah longsor, hingga kebakaran.

Warga Sleman sadar, alam adalah guru manusia. Untuk itu, jangan pernah memaksakan kehendak pada alam. Bila manusia memaksakan kehendak maka sama saja dengan menyemai bibit dan bencana. Hidup harmoni dengan alam adalah jalan untuk menjembatani kejujuran gunung api serta kemauan manusia hidup di sekitar gunung berapi.

Pasca-erupsi Merapi 2010, misalnya, warga Sleman segera bangkit dan kembali dapat menjalankan kehidupan sosial dan perekonomian secara normal. Dengan bersendikan pada nilai-nilai budaya lokal, berbagai tantangan dan hambatan dapat diatasi. Semangat gotong royong terbukti mampu membangkitkan kembali perekonomian dan menghilangkan trauma dengan cepat.

Hidup harmoni bersama alam Sleman tentu saja disadari PSS. Bila bencana alam terjadi, latihan dan pertandingan urung digelar. Situasi tak mudah bagi klub sepakbola yang tengah menjalani sejumlah rangkaian kompetisi, bila Merapi erupsi. Perihal khusus yang tidak dialami oleh banyak klub di Indonesia.

Dari ratusan titik lokasi pengungsi di Sleman, Stadion Maguwoharjo bahkan menjadi salah satu titik pengelolaan pengungsi terbesar, selain Gedung Youth Center di Kecamatan Mlati, GOR Sleman, dan Masjid Agung Sleman. Sebuah manifestasi semangat kegotongroyongan PSS dan warga Sleman. Stadion Maguwoharjo bukan hanya wadah laga sepakbola, tapi rumah bersama bagi warga Sleman yang mengungsi.

PSS Tangguh Bencana pada akhirnya merupakan identitas inhern bagi klub yang didirikan Suryo Saryono, Sugiarto SY, Subardi, Sudarsono KH, dan Hartadi tersebut. Dengan begitu, kesadaran bermain sepakbola di atas ancaman bencana alam justru linier dengan dukungan warga Sleman kepada PSS, karena rasa senasib sepenanggungan.

Bagian dari Jogja

Kabupaten Sleman hidup bersama kota dan kabupaten lain di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Berbeda dengan daerah lain, DIY berhasil mempertahankan diri sebagai entitas kebudayaan manunggal, yang berarti masing-masing kota dan kabupaten dapat dipersatukan dalam semangat kebudayaan kejogjaan yang lestari.

Warga Sleman menjadi paripurna ketika dapat berkolaborasi dengan warga Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul, dan Kabupaten Kulon Progo. Setiap daerah memiliki kelebihan sendiri-sendiri yang secara apa pun, tidak dapat dipisahkan. Bila salah satu daerah sedang dilanda musibah, daerah lain akan berempati turut menyelesaikan masalah.

PSS sebagai bagian dari Sleman, berarti juga bagian dari Jogja. PSS hadir mewakili identitas kejogjaan saat bertanding di mana pun. PSS sungguh berbangga dengan identitas ini, karena bila berhasil, nama Jogja pun semakin moncer dan terus menjadi tempat yang paling dirindukan rakyat Indonesia. Sebaliknya, nama Jogja yang telah begitu dikenal di dunia, sangat bermanfaat bagi eksistensi PSS di kancah persepakbolaan nasional dan dunia.

Semoga tahun 2021, PSS semakin baik dan terus tampil dengan optimisme segar yang lestari. Serupa warga Sleman, serupa warga Jogja.

Ditayangkan Jogja Daily.