Search and Hit Enter

Sabtu Surakartan #002: Gondangnesia, Gerakan Ekonomi Baru Klaten

Hujan deras mengguyur Pabrik Gula Gondang Baru saat Sabtu Surakartan #002 digelar. Saat berdiskusi, sesekali petir menggelegar sangat keras. Sore yang inspiratif, karena forum kecil ini berhasil meniatkan tatanan perekonomian baru bagi Kabupaten Klaten, khususnya, dengan Gondang sebagai ‘pembawa pesan’.

Obrolan menghangat saat Sentot Suparna, sosok penting di balik rekam jejak PG Gondang, mulai berkisah. Sekian waktu, pabrik gula peninggalan kolonial Belanda yang dibangun sejak 1860 itu telah memberi arti besar bagi perekonomian warga Klaten, khususnya. Tak hanya menggerakkan perekonomian, Gondang mampu membangun atmosfer lokalitas yang kuat, termasuk ranum sebagai komoditas politik.

Usia Pak Sentot terbilang senior. Tapi, tatapan mata dan intonasi suaranya yang khas tak menunjukkan tanda-tanda pesimisme, sedikit pun. Ia bahkan turut berusul ide-ide segar yang bisa dijalankan bersama-sama, tak melulu tentang produksi gula berikut kompleksitas politisasinya di pentas Republik.

Bersambut taut, Muhammad Ansori, pegiat komunitas Peduli Klaten, berujar lebih taktis. Gondang sebagai ikon Klaten dapat dijadikan kekuatan utama perekonomian lokal. Dalam satu waktu, gerakan ini dapat berpadu padan dengan kreativitas lokal, mulai dari seni budaya hingga pemberdayaan desa. Ansori meyakinkan hadirin bahwa Gondang bahkan dapat menjadi simpul Mataraman.

Pembicaraan mengalir dan benang merahnya pun mulai tampak. Urgensi strategisnya, relasi literasi dan transaksi menjadi kunci hadirnya Gondang dalam kemasan gerakan yang lebih segar. Literasi pada umumnya tidak langsung terkait dengan transaksi perekonomian sebuah daerah, tapi dengan sentuhan khusus, bisa berhasil.

Beberapa ulasan berikut dapat menjadi pembuka wacana ke tingkat pencapaian yang tentu saja, berasumsi dinamis. Pertama, Gondang tak hanya pabrik gula, tapi juga sumber literasi bonafid, karena usianya yang telah lewat seabad. Penulisan tentang Gondang, dahulu, sekarang, atau nanti, dapat selalu menarik, karena berdasar pada sepak terjang yang klasik.

Gondang sebagai basis literasi saatnya dibuka lebih luas dengan menurutsertakan Klaten. Apa yang menarik di Kabupaten Klaten, baik dahulu, sekarang, atau nanti, bakal menjadi prioritas utama literasi Gondang. Karena, secara de facto, Gondang dan Klaten adalah manunggal. Kemanunggalan yang dapat terus dilestarikan dengan mempertahankan narasi lokal yang berguna dan menyejahterakan. Tidak mampat atau dimampatkan oleh kepentingan sesaat.

Kedua, literasi dengan dukungan strategi media yang berbasis pada konten lokal dapat berbuah pada etalase perekonomian. Gondang dapat menghadirkan semua komoditas jual warga Klaten dan membangun sistem transaksi berbasis sumber daya lokal. Konkretnya, Gondang punya kemampuan untuk merintis pasar nasional dan internasional, dengan dukungan produksi lokal.

Produksi lokal tentu saja bukan hanya tebu, tapi bisa juga susu, ikan, atau buah. Komoditas berkualitas yang melimpah di Klaten dapat dikelola sedemikian rupa menjadi ‘pasar premium’ lantaran secara sumber daya alam, sama sekali tak berkekurangan. Bukan hanya telah berpengalaman selama ratusan tahun, warga Klaten punya kegotongroyongan yang awet, meski dunia semakin edan.

Pasar premium yang dimaksud sudah pasti berbasis peranti digital. Artinya, agenda ini jelas melibatkan semua generasi. Generasi yang lebih senior menjadi pengampu kualitas produk, sementara generasi terkini dapat memelopori transaksi dengan cara mutakhir.

Nutrisi Generasi

Atmosfer gotong royong, apabila diterjemahkan dalam sudut pandang strategi bisnis, salah satunya mengedepankan kualitas keluarga dan generasi penerus. Bahwa apa yang ditransaksikan, sebisa mungkin mampu menutrisi generasi menjadi lebih baik. Bukan hanya jasmani, tapi juga ruhani. Bukan hanya yang penting puas, tapi juga mampu bersyukur. Tak hanya pintar, tapi juga berdedikasi. Karena begitu cara kerja sistem sosial yang lestari dan mumpuni.

Bayangkan bila semua ibu di Klaten tidak lagi sungkan datang ke Gondang, karena anak-anaknya bisa banyak belajar. Bayangkan para bapak tidak lagi khawatir bila seluruh anggota keluarga menghabiskan waktu di Gondang, karena suasana inspiratif dapat melahirkan obrolan hangat yang dapat menjadi energi bagi kualitas keluarga. Dan bayangkan, semua anak terus merindukan Gondang, karena mereka, setidaknya, dapat berimajinasi, berkarya, dan bercita-cita tentang Klaten yang lebih baik, juga tentang dunia yang lebih baik.

Jadi pantaslah kiranya bila Gondang dapat menjadi ‘pendapa’ bagi Kabupaten Klaten. Karena Gondang mampu menjawab kekhawatiran keluarga-keluarga Klaten, pun menginisiasi semangat dan harapan yang terus-terusan, tanpa jeda. Bila sedang tak bersemangat, datanglah ke Gondang. Begitu kira-kira, pesannya.

‘Memeluk’ Gondang dalam khazanah literasi dan transaksi perekonomian yang berdedikasi pada nutrisi generasi, pada akhirnya dapat mengantarkan kita pada korporatisasi publik yang representatif. Gondang yang go public, misalnya. Bukan asetnya, tapi partisipasi ekonomi lokalnya. Puncaknya, semua warga Klaten dengan bangga akan berujar, “Saya dan Gondang adalah satu.” Saat itulah, Gondang bahkan dapat diandalkan oleh rakyat Indonesia. Saya menyebutnya, Gondangnesia.

Ditayangkan Surakarta Daily.