Search and Hit Enter

Catur Warsa Sang Kakak

Rembuk Senin pagi, 6 Juli 2020, memutuskan, aku tetap harus ke Purworejo, meski tanda-tanda kelahiran sudah tampak. Karena memang, tak lagi bisa dimundurkan. Beberapa berkas perlu ditandatangani. Berat rasanya, tapi harus.

Sebelum berangkat, Ibun mengelus perutnya dan berbisik, “Adek, tunggu ayah pulang, ya?”

Sepanjang perjalanan, laporan situasi real time kandungan beriring taktik penyelesaian pekerjaan secepat mungkin, pun suasana batin calon ayah dua anak, beradon membuncah tak keruan di dadaku. Detik-detik yang sungguh menegangkan.

Dan hingga hampir tengah malam kemudian, aku tiba kembali di rumah.

Meski telah larut, Mutia tak tampak mengantuk. Biasanya, dengan dibacakan beberapa buku, ia lantas tertidur. Malam itu, ia memilih banyak bercerita padaku. Entah. Mungkin suasana batinnya segenting batin ibunya.

Sejurus dua jurus, sedikit kelakar, dan ekspresi tak maksimal lantaran aku yang kelelahan, Mutia pun tertidur. Tampak tak nyenyak.

Sekira pukul 02.00, Ibun membangunkanku. Kontraksi. Aku bergegas. Bersiap. Aku angkat Mutia, pun boneka kelinci di pelukannya. Ia masih memejamkan mata. Baru beberapa jam tidurnya.

Sepanjang jalan, lengang. Jalan seperti bersiap untuk momentum ini. Lancar. Tiba di rumah sakit, telah bukaan tiga.

Mutia terjaga. Terkaget-kaget sebentar, tapi sorot matanya lantas berbinar. Seperti tak asing. Ya, empat tahun lalu, ia dilahirkan di rumah sakit ini. RSKIA Bhakti Ibu Golo. Persis di bangsal yang sama. Dini hari yang riang baginya.

Pemeriksaan dilakukan bertahap. Perlu waktu hingga bukaan terakhir, jelang kelahiran. Ibun masih kuasa berjalan kaki dari ruang bersalin ke bangsal. Ia mengkhawatirkan Mutia.

Memastikan Mutia tak mengapa, Ibun memilih rebahan sembari menahan sakit. Mutia merapatkan boneka kelinci ke perut Ibun.

“Halo Adek. Ibun, Adek suka kelinci, lho,” sapa pertamanya memecah fokus.

Ibun menatap pasrah. Beringin menjawab, tapi tak kuasa. Bahkan bila pun sedikit tersungging. Mutia tak risau. Ia terus berbicara, pertanda pedulinya menggebu. Ia tahu, Adek hendak lahir. Kebahagiaan yang ketika itu, baru ia bisa imajinasikan.

Kemarin-kemarin, salah satu diskusi panjang yang bahkan belum purna hingga kedatangan ke rumah sakit adalah tentang siapa pendamping Mutia ketika persalinan terjadi. Opsi pertama, keluarga. Dicoret. Selain jauh, apalagi musim pandemi, tak mudah menghadirkan keluarga dalam waktu cepat. Pilihan kedua, salah satu teman. Tak ditindaklanjuti. Sebab, bisa jadi tak mudah meluangkan waktu untuk itu. Usulan ketiga dan seterusnya, semua termentahkan keadaan.

Sesaat usai Subuhan, Ibun berteriak. Telah waktunya. Aku memanggil perawat. Perjalanan dari bangsal ke ruang bersalin ditempuh dengan kursi roda. Aku dan Mutia turut serta.

“Bapak bisa masuk, tapi anaknya tidak boleh,” begitu kata salah satu perawat.

Aku berjongkok, eyes to eyes. “Mutia di sini dulu, ya. Belum masuk dulu. Adek sebentar lagi lahir. Ayah masuk dulu, temani Ibun.”

Tanpa syarat, Mutia mengangguk. Ia berdiri di depan pintu ruang bersalin bersama boneka kelincinya. Aku seperti tak punya pilihan.

Prosesi persalinan pun dimulai. Terbilang lancar. Pukul 05.25 Adek lahir normal. Perempuan. Sehat. Segera aku keluar ruangan untuk mengabarkannya pada Mutia. Ia masih berdiri di tempat yang sama saat aku masuk tadi. Tidak takut. Tak menangis.

“Ayah, Adek sudah lahir?” tanyanya.

“Sudah. Perempuan. Sehat. Alhamdulillah,” jawabku.

“Mutia suka Adek perempuan,” ucapnya lagi sambil tersenyum.

Aku memeluk Mutia, erat. Suasana batinku tak terkatakan. Betapa aku merasa perlu berpikir tentang bagaimana menjaga Mutia. Pada kenyataannya, Mutia yang menjagaku. Pun Ibun dan Adek.

Adek diberi nama Afra Nadia Erlin Giyanto. Bernisbah pada Sayyidah ‘Afra binti ‘Ubaid, orang baik di masa Rasulullah SAW. Afra lahir 7 Juli 2020. Hari Perkiraan Lahir-nya 15 Juli 2020. Sementara Mutia lahir pada 12 Juli 2016 dengan HPL 7 Juli 2016. Subhanallah. Semoga keduanya salihah dan berguna bagi sesama.

Dan saat Afra berusia 5 hari, Mutia pun sampai pada milad ke-4-nya. Catur warsa.

Terima kasih, Mutia. Terima kasih, Kakak Mutia.