Search and Hit Enter

Karsa 38

“Ayah, Allah itu di mana?” tanya Mutia suatu ketika.

Aku sedikit gugup. Apa aku tak salah dengar? Juli lalu, Mutia berusia 3 tahun. Pikirku, pertanyaan serupa ini akan muncul pada usia anak, setidaknya 5 tahun. Jadi, aku belum siapkan jawaban yang paling tepat.

Atau memang benar bahwa setiap orangtua selalu punya cerita tentang anak-anaknya yang mengejutkan. Sebanding dengan zaman yang tidak bisa dilawan. Bahwa orangtua dan anak memang memiliki masa dan dunianya sendiri-sendiri.

Jibaku orangtuaku misalnya untuk memintarkanku. Salah satu soalnya, lantaran keduanya tak cukup mengenyam pendidikan formal. Tekad itu melebur dalam setiap keringat, darah, dan air mata yang tertumpah, demi masa depanku yang semoga lebih ‘berpendidikan’.

Kurang lebih, aku dapat merasakannya kini, sebagian ikhtiar dan doa itu telah mewujud dalam keseharianku yang dekat dengan beraneka hal tentang pendidikan. Ya, dalam kadar kasat mata, aku sekarang tak berkekurangan, lantaran berpendidikan.

Bagaimana denganku kini sebagai orangtua? Ikhtiar dan doaku pun tentu kurang lebih sama, agar Mutia kelak lebih baik dari hidup orangtuanya saat ini. Perihal tak mudahnya barangkali, lebih pada apakah aku mampu menjadi orangtua sejibaku orangtuaku dahulu saat mendidik dan mengantarkanku pada kehidupanku sekarang.

Dunia terasa sangat cepat berubah, sementara tangan dan kakiku tak secepat dahulu, semasa muda. Baru saja aku melek satu hal, lusinan hal lain menanti untuk aku pelajari. Belum lagi salah-salah jalan yang rasanya tidak dapat dipisahkan dari kehidupanku.

Mutia sangat suka bertanya. Tak semua pertanyaannya mampu aku jawab. Mutia sangat suka bermain dan menemukan hal baru. Tak semua rasa penasarannya bisa aku urai. Mutia terkadang perlu sosok ayah yang menyenangkan, tapi tak tiap saat aku bisa.

Hari-hari esok Mutia terus membayangiku. Bagaimana kalau lantas aku harus menghadap Sang Khalik terlebih dahulu? Bagaimana kalau dunia tiba-tiba terlanda krisis tak terkendali? Bagaimana kalau semakin sedikit orang baik yang dapat ditanya dan ditiru?

“Mutia sayang banget sama Ayah,” ucap Mutia seraya membelai wajahku.

Aku tersenyum. Tatap mata Mutia selalu mampu menembus sisi jiwa terdalamku. Sisi jiwa tempat aku memerlukan maklum tak berkesudahan. Sisi jiwa tempat aku yang mendamba diperlakukan maksum. Sisi jiwa tempat aku menemukan semangat hidup yang terus baru.

Kini, aku 38 tahun. Hidup yang sungguh membahagiakanku, detik per detiknya. Detik-detik itu terus melibas waktuku dan membuatku takut kehilangan. Tapi aku lantas tenang, karena memang harus demikian adanya. Bahwa semakin hari, semua ini akan segera hilang. Bahwa semakin hari, waktuku akan habis.

“Kalau Mutia lebih besar lagi, Mutia jadi dokter, terus periksa Ibun. Kalau Mutia lebih besar lagi, Mutia jadi pilot, terus Ibun sama Ayah duduk di belakang. Kalau Mutia lebih besar lagi, terus punya Adik, namanya Giyanto,” tutur Mutia bersemangat.