Search and Hit Enter

UMS 4.0, Ejawantah World Class University Era Disrupsi

Kamis lalu (8/8/2019), berlangsung di Gedung Auditorium Mohammad Djazman, Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sofyan Anif, dikukuhkan sebagai guru besar dalam Bidang Manajemen Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMS.

Pidato pengukuhan mengambil judul ‘Pengembangan Sumber Daya Pendidik Berbasis Continuous Professional Development Pada Disruption Era’. Menurut Sofyan Anif, permasalahan pendidikan masih menjadi prioritas pembangunan nasional. SDM pendidikan memiliki peran strategis dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pengembangan kompetensi SDM pendidik secara komprehensif sangatlah penting untuk menghadapi tantangan di era disrupsi (Industri 4.0 atau i4.0).

Momentum ini menjadi istimewa karena Sang Rektor tengah dalam ikhtiar menjadikan UMS sebagai World Class University pada 2029 nanti. Ikhtiar yang berbarengan dengan gelombang Industri 4.0, ketika Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), Big Data Analytics, Robotics, Augmented Reality, Cloud Computing, dan Blockchain telah dapat dimanfaatkan hampir di semua sektor kehidupan.

Pertengahan 2017, Quacquarelli Symonds (QS) World University Ranking memeringkat UMS pada urutan kedelapan dari sembilan perguruan tinggi di Indonesia yang masuk dalam daftar kampus dunia. UMS menjadi satu-satunya perguruan tinggi swasta yang masuk dalam daftar tersebut. Pemeringkatan dilakukan terhadap lebih dari 959 perguruan tinggi di 84 negara di dunia, didasarkan pada academic reputationcitation (predikat) per facultyemployer reputationfaculty studentinternational faculty, dan international student.

Belum lama, menurut University Rankings (Unirank), UMS merupakan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terbaik nasional tahun 2019. Apabila digabungkan dengan rangking Perguruan Tinggi Negeri (PTN), UMS berada di urutan 10.

Sebanyak 26 Program Studi (Prodi) UMS telah terakreditasi A, sedangkan 25 Prodi lainnya terakreditasi B. Tidak ada Prodi yang terakreditasi C. Artinya, telah lebih dari 50 persen Prodi terakreditasi A. Dari 630 tenaga pendidik, sebanyak 167 orang lulus S3, sementara 103 orang sedang studi S3. Artinya, sejumlah 40 persen tenaga pendidik di UMS sudah atau sedang studi S3.

Beberapa program yang tidak kalah penting adalah Akselerasi Doktor berupa ‘Smart Ph.D Partnership’ antara UMS dengan Perguruan Tinggi Malaysia khususnya Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), beasiswa ke luar negeri, perekrutan doktor baru, dan studi lanjut S3 secara reguler. UMS juga sedang melakukan pendampingan kepada 55 Doktor dan Lektor Kepala untuk menjadi Guru Besar, dengan target, semua selesai pada 2021. Kesempatan beasiswa diberikan pula kepada mahasiswa asing.

Tak hanya itu, Perpustakaan UMS pun terakreditasi A. Selain itu, Lembaga Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UMS masuk dalam kategori Cluster Mandiri. Targetnya, UMS memiliki jurnal bereputasi internasional sebanyak 500 Scopus hingga Agustus 2019. UMS terus melakukan kerja sama dengan Perguruan Tinggi Luar Negeri, seperti Journal Collaboration atau Publication, Visiting Professor, Student Exchange, Lecture Exchange, Student Internship.

Saat UMS menggelar Pengajian Ramadhan 1440 H dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Sabtu (25/5/2019), Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyatakan, kemajuan luar biasa UMS merupakan bagian dari kebanggaan Muhammadiyah.

Pasar Industri 4.0

Nurdianita Fonna (2019) menulis, istilah ‘Revolusi Industri’ diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis-Auguste Blanqui pada pertengahan abad ke-19. Fase pertama (1.0), Revolusi Industri bertempuh pada penemuan mesin yang menitikberatkan pada mekanisasi produksi. Fase kedua (2.0) masuk ke etape produksi massal yang terintegrasi dengan kontrol kualitas dan standarisasi.

Fase ketiga (3.0) memasuki tahapan keseragaman secara massal yang bertumpu pada integrasi komputerisasi. Sementara fase keempat (4.0) telah menghadirkan digitalisasi dan otomatisasi perpaduan internet dengan manufaktur.

Setahun lalu, Pemerintah Indonesia meluncurkan ‘Making Indonesia 4.0’, sebuah peta jalan (road map) strategi Indonesia memasuki era Revolusi Industri 4.0 untuk merevitalisasi industri Indonesia secara menyeluruh.

Dengan mengimplementasikan Industri 4.0, diharapkan Indonesia dapat mencapai top 10 ekonomi global pada 2030. Selain itu, mewujudkan pembukaan 10 juta lapangan kerja baru. Berdasarkan Global Competitiveness Report 2017, posisi daya saing Indonesia masih berada di peringkat ke-36 dari 100 negara.

Dalam rentang waktu selanjutnya, publik Indonesia merespons Making Indonesia 4.0 dengan berbagai konsep dan aksi yang dinamis. Institut Pertanian Bogor, misalnya, meluncurkan Agro-Maritim 4.0, yakni pengelolaan wilayah darat dan laut secara inklusif, terintegrasi dengan sistem sosial, ekonomi, dan ekologi yang kompleks.

Kementerian Pariwisata, contoh kedua, tengah berbenah untuk mendorong sektor pariwisata Tanah Air menuju Tourism 4.0. Big data perilaku travellers akan dikumpulkan via aplikasi dan sensor yang kemudian diolah untuk menciptakan seamless dan personalized travelling experience.

Data fantastis termutakhir, Kenneth Research, sebuah lembaga konsultan bisnis yang bermarkas di New York merilis laporan tentang pasar Industri 4.0 yang akan mencapai US$ 14 miliar pada 2023. Rilis yang diluncurkan awal Agustus 2019 itu menempatkan industri kedirgantaraan dan pertahanan pada urutan paling populer, disusul industri agrikultur, makanan, otomotif, chemicalelectronic dan electrical hardware, energi, farmasi dan bioteknologi, serta semi-konduktor.

Dengan meyakinkan, Kenneth Research mengetengahkan kesimpulan tentang transformasi Industri 4.0 yang akan mengubah ‘long-held dynamics in commerce and global economic balance of power’.

UMS 4.0

Industri 4.0 mau tidak mau merambah sektor pendidikan. Dengan kekhasannya yang padat teknologi tinggi dan bersistem informasi digital diharapkan mendorong sebuah pergeseran yang lebih baik. Ikhtiar UMS menuju World Class University tentu saja mensyaratkan kualifikasi i4.0.

Menurut Quacquarelli Symonds (QS), untuk mencapai akreditasi internasional, perguruan tinggi setidaknya dapat memenuhi kriteria: kualitas penelitian, lulusan kerja, kualitas pengajaran, dan infrastruktur. Empat kriteria ini dapat didesain berkualifikasi i4.0 dengan operasionalisasi bertahap, berorientasi pada kemanfaatan jangka panjang.

Target UMS untuk memiliki jurnal bereputasi internasional sebanyak 500 Scopus pada Agustus 2019 dapat dijadikan sebagai salah satu tolok ukur kriteria pertama tentang kualitas pendidikan. Target ini dapat mendorong kampus untuk terus melakukan riset terbaik berdaya dukung dan berkonten i4.0. Dokumentasi dan pendistribusian jurnal berbasis internet sangatlah penting.

Kriteria kedua tentang lulusan kerja dapat dilihat dari pengelolaan jaringan Ikatan Alumni (IKA) UMS. Laman penelusuran alumni perlu pengelolaan lebih intens. Bukan hanya tentang Big Data, alumni dapat dikonsolidasikan dengan peran keagensian berjenjang berdasarkan daerah, minat, dan profesi. Agensi dimaksudkan untuk menemukan para alumnus hingga ke pintu rumah mereka. Profiling atau semacam kisah sukses melalui media dapat pula menjadi cara lain yang efektif.

Kualitas pengajaran sebagai kriteria ketiga dapat direpresentasi dengan sistem komunikasi internal UMS yang menyasar output kolaborasi. Maksudnya, semua pihak memiliki daya dukung pada kualitas pengajaran, tidak ditumpukan pada tenaga pendidik semata. Secara sistemis, komunikasi antar-pihak internal ini menjadi kuncinya. Tanpa teknologi komunikasi yang memadai, komunikasi yang dimaksudkan akan parsial dan tidak terintegrasi.

Kriteria infrastruktur, seyogianya bukan hanya tentang fisik, tetapi juga tentang muatan nilai yang ramah lingkungan, inklusif, berkeadilan sosial, berdayaguna, menyejahterakan, berkedaulatan, berdaya saing, keberimbangan,  berilmu pengetahuan, dan tak lupa, teknologi. Mari dukung UMS sebagai World Class University yang berkualifikasi i4.0. Atau bisa kita sebut, UMS 4.0.

Ditayangkan Pabelanesia.