Search and Hit Enter

Enha Dullah, Owner Pendopo Susu Jogja Alumnus UMS

Nuansa kosmopolitan Jogja yang ngabudayan seperti tak kunjung habis dikisahkan. Pernik kuliner, misalnya. Sekian waktu ditata lebih menawan, Kawasan Alun-alun Utara (Altar) Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kini menyajikan suasana senja hingga malam yang tak terlupakan.

Satu dari sederet penjaja kuliner di Altar, Pendopo Susu, punya cerita menarik. Perihal menu penuh gizi hingga owner-nya yang alumnus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

“Jogja ini kan inspiratif. Pendopo Susu menyuguhkan menu kuliner yang dapat mendorong kreativitas pelanggan, agar melahirkan sesuatu yang inspiratif,” terang Enha Dullah, sang pemilik, suatu malam.

Menurut Dullah, kreativitas Kota Jogja harus terus dijaga. Karena, dengan begitu, banyak orang yang terus terkesan, dan selalu merindukan Kota Gudeg. Selanjutnya, kunjungan ke Jogja dapat terus meningkat, karena kenyamanan dan keramahan yang lestari.

Dari penjelasan yang singkat dan bernas ini, dapat disimpulkan bahwa Dullah telah sangat berpengalaman. Sejak lulus dari UMS, belasan tahun silam, ia jatuh-bangun merintis usaha. Apabila Anda pernah mendengar brand kenamaan dari Bantul, Bakso Granat, Dullah pemiliknya.

Dullah juga pebisnis mobil jip yang sukses. Sembari menjalankan bisnis bakso, mantan Manajer Iklan Lembaga Pers Mahasiswa (PLM) Pabelan itu menekuni bisnis mobil yang identik dengan medan keras, ban besar, perempuan cantik, dan tak lupa, fotografi itu.

Bakso dan jip, dua hal yang sama sekali berbeda. Namun Enha Dullah dapat merengkuh keduanya, dengan tidak mengabaikan salah satunya. Ketika itu, setelah bisnis baksonya mulai stabil, ia berpikir usaha sampingan yang selain menghasilkan, juga sesuai dengan passion-nya.

“Usaha jual beli mobil jip bermula dari hobi mengendarai mobil jip dan bertemu dengan komunitas jip Jogja. Jadilah saya berbisnis mobil jip,” tuturnya renyah.

Berbasis Komunitas

Tak dinyana, komunitas jip yang diikuti Enha Dullah memiliki jaringan di seluruh Indonesia. Ia menjadi tahu bahwa peluang bisnis dan pangsa pasar bisnis ini sangatlah jelas, yakni pehobi dan pencinta off-road. Melihat peluang besar tersebut, Enha Dullah semakin bersemangat untuk menggeluti bisnis barunya tersebut. Terkadang, untuk bertemu dengan calon pembeli, ia harus menemani mereka berwisata putar-putar Jogja.

Apalagi, pemain jual beli mobil jip masih sedikit, sementara barang sudah langka. Asalkan spare-part bisa disiasati, bisnis ini akan berjalan lancar. Tentu saja tidak harus ahli mesin untuk menjalankan bisnis mobil jip. Asalkan intensitas terus ditingkatkan, memahami cara kerja mobil maskulin itu bukan perkara sulit.

Jaringan luas seluruh Indonesia berkomunikasi melalui social media. Terkadang dapat pula kopi darat untuk bertransaksi. Menariknya, selalu bertemu dengan orang-orang baru, yang jelas juga berkepribadian unik, karena jip adalah mobil yang terbilang unik di zaman sekarang.

Seperti umumnya pencinta mobil langka, komunitas jip memiliki kelebihsukaan yang berbeda dari kebanyakan orang. Mereka sangat telaten mengurus mobilnya, jengkal per jengkal. Dalam satu waktu, bila Anda melihat bodi mobil jip yang tidak terpakai, kontak saja Enha Dullah. Karena bisa jadi, dalam waktu tak terlalu lama, ia akan mengubah rongsokan menjadi barang yang berguna dan bernilai jual tinggi.

Enha Dullah juga tidak membatasi diri untuk memiliki satu atau dua jenis mobil jip yang ia suka. Asalkan termasuk kategori jip, ia tak segan untuk menyentuh dan menyulapnya menjadi layak jual dan dicari. Kesungguhan tersebut tampak pada caranya bersabar mengatasi kesulitan spare-part, dan memoles penampilan mobil jip yang ia tangani.

Nah, yang lebih penting, untung bisnis mobil jip terhitung lumayan. Karena jip tidak ada patokan harga pasarnya. Barang yang sudah langka membuat patokan harganya berdasarkan kondisi barang. Selanjutnya, bila penjual dan pembeli sama-sama ridha, harga tidak menjadi soal lagi, meskipun di atas harga pasar.

Sementara itu, modal berkisar di angka Rp100 juta. Terbilang besar untuk ukuran menengah ke bawah. Namun menjadi realistis bila pasar telah terbentuk dan menghasilkan. Selain berjualan mobil, Dullah juga menjual pernak-pernik onderdilnya.

“Selain profit oriented, jualan jip itu yang penting nambah saudara dan kawan. Untung itu bonusnya. Prinsipnya, banyak teman banyak rezeki. Kalo di jip semboyannya, dari bukan siapa-siapa menjadi saudara,” ujar lulusan Syariah Fakultas Ilmu Agama Islam UMS tersebut bersemangat.

Tambah Saudara, Kuncinya

Begitulah, setelah sekian lama berurusan dengan bisnis bakso, soto, hingga susu segar yang direct selling, Dullah tak segan menggarap pasar segmented seperti bisnis jip. Meski bukan perkara mudah, perbedaan medan tersebut membuatnya semakin kuat. Ya, seperti mobil jip yang kuat di segala medan.

Bisnis-bisnis itu bertumbuh dengan cara unik masing-masing. Tapi pada prinsipnya, silaturahmi menjadi hal pentingnya.

“Tambah saudara, menurut saya, kunci berbisnis. Kemampuan saya kan begini-begini saja. Dengan bertambah saudara, saya bisa terus belajar. Saya bisa lebih banyak mendengar, melihat, dan berdiskusi dengan banyak orang yang lebih berpengalaman,” ungkap Dullah.

Bisnis dan silaturahmi, bagi Dullah, tidak dapat dipisahkan. Dengan menjaga silaturahmi, bisnisnya menjadi lancar. Dengan berbisnis, Dullah terus menambah saudara.

“Silakan mampir ke Pendopo Susu. Kita bicara hangat tentang banyak hal, agar kita semakin berguna,” pungkasnya seraya tersenyum.

Ditayangkan Pabelanesia.