Search and Hit Enter

Tahun Ketiga Putri Pemaaf

Sejak berlatih jalan, Mutia sering turut ibunya, berbelanja di pasar. Ibunya memang punya kebiasaan shopping di pasar tradisional. Tawar-menawar ala ibu-ibu, sayur mayur yang baru saja tiba, atau ikan-ikan laut yang berharga ‘wajar’ selalu menginspirasi hari dan menenangkanku. Karena itu berarti, menu makan di rumah, hampir tiap saat berkelas premium lezatnya.

Dan Mutia berkesempatan memanfaatkan koridor atau halaman luas pasar yang sebagian bisa saja beralas tanah. Sapaan hangat Bude-Bude bakul atau candaan Pakde-Pakde kuli angkut seperti akrab di mata dan telinga Mutia. Bila ke pasar malam hari, Mutia terkadang bersua purnama.

Beberapa malam lalu, Mutia sungguh sumringah. Sembari mengantre belanja, Mutia beruntung mendapatkan teman bermain, seorang bocah laki-laki sepantaran. Si bocah bersama ibunya yang juga sedang memilih sayuran.

Sesaat setelah sapa ringkas dan senyum sepakat, mereka pun berkejar-kejaran. Riuh suara anak-anak. Tepatnya, dua anak bermain dan pasar terdengar sangat meriah. Entah apa yang mereka bahas dan tertawai. Tapi tampaknya, mereka punya cara untuk mengisi waktu antrean belanja dengan aksi menyenangkan.

Tak berapa lama… brukkk!!! Si bocah laki-laki tiba-tiba jatuh terduduk. Badannya oleng, menyusul lari berputar badan yang bersemangat. Ia tampak kaget, mungkin sakit, malu, dan jelas, marah. Melihat sang kawan terjatuh, Mutia berhenti berlari, sekira satu hasta di belakangnya. Ia juga terkejut sampai tak ada respons sama sekali untuk menolong si anak laki-laki.

Waktu serasa berhenti. Mereka saling pandang untuk mengkonfirmasi kekagetan masing-masing. Si bocah laki-laki lantas berdiri dari jatuhnya dan menghampiri Mutia. Ia mendorong Mutia dengan kesal. Rupanya sang kawan berpraduga, Mutialah yang mendorongnya hingga terjatuh. Ia hendak membalas Mutia dengan cara sama, agar Mutia terjatuh pula ke tanah.

Masih di tengah kekagetannya, Mutia tak bereaksi apa pun saat didorong sang kawan. Ia tak melawan sama sekali, apalagi membalasnya. Sampai si bocah laki-laki berlari mendekat ke ibunya, dan menangis. Mutia masih takjub. Ia bergeming.

“Ayah, temennya jatuh, nangis. Berarti, Mutia minta maaf, ya?” sampainya padaku saat mendekat.

Aku sengaja memastikan olah kejadian, “Tadi Mutia dorong temennya?”

“Ndak,” jawabnya.

“Owh… tunggu saja sebentar. Nanti kalau sudah tidak nangis, ajak main lagi, ya?” saranku sedikit memutar.

Mutia mengiyakanku. Meski pada kenyataannya, sang kawan tak jua semenarik beberapa saat lalu. Semenit, dua menit, dan menit-menit berlalu, si bocah laki-laki ternyata lebih memilih bersama ibunya berbelanja dan ‘melupakan’ Mutia.

Melihat Mutia sedikit kebingungan, aku ajak doi berkeliling pasar. Mengejar kucing pasar, memilih terong dan sawi yang melimpah, sampai menghitung bintang. Ia kembali bungah dan kembali banyak bertanya padaku, serupa waktu sebelum bertemu si bocah laki-laki. Hingga waktunya pulang, tiba.

Mutia kini tiga tahun. Usia menawan yang memaksaku untuk terus belajar arti bersyukur dan mulianya memaafkan. Usia emas yang memberitahuku tentang selalu ada cara untuk ceria dan menikmati hidup. Usia mengagumkan yang memilihkanku jalan hidup ideal tanpa melupakan aksi tak ideal.

Di mozaik ketiganya, Mutia sangat suka bercerita padaku. Tentang apa saja. Sesekali, aku paham. Banyak kali, aku hanya mengira dan menyangka. Kalau ada pesan yang tak aku pahami, ia berusaha mendeskripsikannya dengan bahasa tubuh. Bahkan menggunakan alat peraga untuk menggiring persepsiku tepat seperti yang dimaui Mutia.

Belajar Iqra’, Mutia sudah sampai huruf Ta’ meski baru fathah. Tapi belajar huruf latin, ia masih berusaha melafalkannya dengan tepat. Mutia hapal doa sebelum tidur dan doa sebelum makan. Tapi belajar bernyanyi, ia terus-terusan mendendangkan lagu ‘Burung Kakak Tua’ dengan berbagai versi. Uniknya, ia suka Ode to Joy-nya Beethoven dan gitar solonya Petrucci.

Terkadang, Mutia bercita menjadi dokter. Kali lain, ia mengaku sebagai pilot. Sering pula kelak ingin menjadi Bu Guru atau chef roti. Minat bacanya luar biasa besar, sampai aku terkantuk-kantuk membacakan buku untuknya. Kalau sedang bersemangat, doi bisa mengambilkanku selusin buku yang ia pilih sendiri untuk dibaca bersama.

Suatu ketika, Mutia membelai wajahku dengan lembut.

“Ayah, ini namanya keriput. Berarti Ayah sudah tua,” tuturnya tanpa khawatir.