Rumah Baca Iqra’ dan Peradaban Kalingga

Suasana belajar dan bermain Rumah Baca Iqra’. Tampak rak-rak buku yang masih banyak kosong. Anda tertarik berdonasi buku?

Anda mengenal sebuah daerah di Jepara bernama Keling? Lebih tepatnya, Kecamatan Keling. Apabila tidak, barangkali Anda pernah mendengar sebuah kerajaan semasa abad ke-6 hingga abad ke-7 M yang adil, makmur, dan sejahtera dengan pemimpin, seorang perempuan bernama Ratu Maharani Shima? Ya, Kerajaan Kalingga. Sebagian kalangan meyakini bahwa Keling adalah nama lain dari Kalingga.

Faisal Ardi Gustama, dalam karyanya pada 2017 terbitan Brilliant Book Yogyakarta berjudul Buku Babon Kerajaan-Kerajaan Nusantara menyebut Kerajaan Kalingga sebagai induk dari Kerajaan Medang atau Mataram Kuno. Candi Angin dan Candi Bubrah di Keling menjadi bukti nyata peninggalan kejayaan masa-masa itu.  

Berada di ketinggian hingga 1.031 meter dari permukaan laut (mdpl), Keling berbatasan dengan Kabupaten Pati di sebelah timur dan di sebelah selatannya, menjulang Gunung Muria yang sarat potensi alam. Secara administratif, Keling memiliki 12 desa, yakni Bumiharjo, Damarwulan, Tempur, Gelang, Jlegong, Kaligarang, Kelet, Keling, Klepu, Kunir, Tunahan, dan Watuaji.

Kini, Kecamatan Keling dikenal sebagai penghasil kopi robusta berkualitas dunia. Selain itu, benang sutra dan pengolahan kapuk, juga menjadi produk unggulan. Menurut Sensus Pertanian 2013 (ST2013), Kecamatan Keling didominasi profesi petani, yakni sebanyak 12.064 rumah tangga, disusul peternakan (9.189), tanaman pangan (8.393), kehutanan (7.219), hortikultura (6.884), perkebunan (6.726), perikanan budidaya (53), dan perikanan tangkap (35).

Adalah Rumah Baca Iqra’ yang diinisiasi Hanik Maria Husna. Beralamat di Jalan Raya Kauman, RT 015 RW 001, Desa Klepu, Kecamatan Keling, rumah baca ini membangung positioning penuh komitmen, ‘Kami datang untuk belajar dan pulang membawa ilmu’. Sungguh tekad yang tidak berorientasi jangka pendek, tapi membidik ilmu, keilmuan, dan kemanfaatan.

Bagi Hanik, sang pelopor, ilmu bak pelita kehidupan. Salah satu sumber ilmu, sambungnya, tentu saja, buku. Maksudnya, buku secara fisik, bukan e-book. Ia yakin, meski dunia digital tak lagi dapat dilawan, buku tetap tak tergantikan. Buku tak lain merupakan jendela dunia pengetahuan.

Awalnya, Hanik prihatin, menyaksikan anak-anak usia pendidikan dasar di sekelilingnya yang nyaris tidak pernah membaca buku, selain buku sekolah. Keberadaan Rumah Baca Iqra’ diharapkan dapat memberi warna baru, di tengah serbuan game online yang sangat diminati anak-anak dan para remaja.

Rumah Baca Iqra’ juga membuka bimbingan belajar (bimbel) serta menyisipkan kegiatan kreativitas, sehingga anak-anak tidak mudah jenuh dan bosan. Tidak hanya itu, fasilitasi aspirasi anak-anak dan remaja untuk bebas belajar ekspresi dan kreasi sesuai minat pun dilakukan, semisal menggambar, mewarnai, kriya kramik, berkesenian, tulis-menulis, keterampilan tangan, mendongeng, menari, dan menyanyi. Semua itu, tanpa dikenakan biaya.

Rumah Baca Iqra’  dibuka setiap hari, dari pukul 09.00 hingga 17.00. Rencananya, Rumah Baca Iqra’ akan digunakan sebagai tempat belajar kelompok, bimbingan belajar usia dini (Calistung), matematika, praktik sains, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, serta bimbingan pelatihan pelajaran.

Aktivitas yang inspiratif dan mulia, bukan? Kovernya memang rumah baca, tapi tidak kurang tidak lebih, sebenarnya, gambaran ulang tentang Peradaban Kalingga tengah dirintis. Tertarik berdonasi buku? Segera kirim sumbangsih Anda ke alamat Rumah Baca Iqra’.  

Artikel dimuat gema-nurani.com.