Noviar: Revolusioner Permanen dan Loyalis Perkaderan Mahasiswa

Gerakan Mahasiswa berduka. Pada 7 November 2012 Pukul 16.10, Noviar berpulang ke rahmatullah. Seorang agitator di belakang layar yang mumpuni. Dekat dengan mahasiswa dan konsisten memperjuangkan kepemimpinan kaum muda.

Bagi mahasiswa atau aktivis mahasiswa kebanyakan, sosok Noviar tak begitu dikenal. Ia memang memilih untuk tidak tampil berlebihan di publik. Soal rekayasa gerakan, ia maestronya. Namun bagi aktor utama gerakan mahasiswa, nama Noviar sungguh bukan angin lalu. Bukan hanya aktivis berideologi tertentu yang dekat dengannya; berbagai aktivis dari berbagai kalangan bisa ia rangkul dalam desain gerakan segar, menuju Indonesia baru.

Suatu ketika, Noviar pernah berujar, bahwa gerakan mahasiswa sekarang, tidak lagi dapat dilakukan di Jakarta. Menurutnya, aktivis Jakarta hanya mau bergerak bila ada uangnya. Untuk itu, gerakan mahasiswa harus mulai terdistribusikan ke daerah-daerah, hingga kemudian muncul tokoh-tokoh gerakan mahasiswa baru dari daerah.

Tampaknya Noviar sudah mulai realistis. Gaya hidup mahasiswa yang praktis mulai banyak berubah, sejak gempuran Kapitalisme Global mulai mendominasi Indonesia, membuat idealisme bergerak seperti menguap, ditelan biaya kuliah yang mahal, kesempatan kerja yang mulai sempit, dan kerakusan pemimpin di sana-sini yang semakin menjijikkan.

Satu per satu, aktivis mahasiswa yang semasa kuliah bergelora mengawal perubahan, tumbang direngkuh kekuasaan. Organ per organ gerakan mahasiswa mulai dapat dibeli, untuk melanggengkan perselingkuhan pemilik modal dan pemerintahan. Hingga untuk mencari teladan istiqamah pun bukan hal mudah, kini.

Noviar semakin merasa sendirian, sewaktu kaki dan tangan yang ia punya tak bergerak secepat apa yang ia pikir. Ya, idealisme itu harus menabrak tembok besar bernama pragmatisme dan oportunisme merusak. Noviar dipaksa merintih untuk realitas yang sudah bergerak lebih cepat dari teori-teori sosialisme yang ia tiduri. Noviar disiksa kendali kuat di luar sana yang meruntuhkan semua argumennya di depan mahasiswa dan kaum muda yang kini lebih instan dan individualistis.

Perkaderan dan Massa Aksi

Sekian lama, Noviar berpegang pada keharusan bergerak untuk melawan rezim zalim bagi gerakan mahasiswa di mana pun berada. Namun pada akhirnya, ia terengah-engah. Hingga melewati masa satu dekade Reformasi, gerakan mahasiswa ternyata sering melemah lantaran aktor-aktornya yang mulai berpikir pendek.

Praktis, massa aksi tinggal serpihan masa lalu yang tidak bisa dipaksakan kontekstual hanya karena zaman yang tidak bisa dilawan. Noviar berhenti bermanuver dan mulai bergerak konsisten, mengawal perkaderan. Ya, tanpa perkaderan mahasiswa yang baik, gerakan mahasiswa akan keropos dan gampang ditekuk di tengah jalan.

Bagi Noviar, perkaderan bukan soal aturan main atau kertas organisasi. Ia menolak berbusa-busa di forum, tanpa aksi nyata. Ia memilih untuk masuk ke alam kader-kadernya dengan empati mendalam tanpa henti-hentinya. Sekali gagal. Dua kali gagal. Tiga kali dan seterusnya, ia mulai mengenal ritme gerakan mahasiswa ‘kekinian’. Hasilnya, Noviar bisa melahirkan Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI), setelah sebelumnya, ia juga aktif di Front Aksi Mahasiswa (FAM) UI.

Ia mulai bangga dengan lusinan buku yang ia punya. Ia mulai tekun melakukan diskusi intensif, di mana pun ia dan kadernya berada. Bahkan ia meminta tolong pada saya untuk hadir di forum-forum mahasiswa yang ia buat, resmi atau tidak resmi. Noviar menggelinding kuat, kembali tak terbendung.

Uang, Kekuasaan, dan Dedikasi

Sore itu, saya berkunjung ke kediaman Noviar di bilangan Pejompongan. Idul Adha 1433 H. Jumat, 26 Oktober 2012. Ia telah lama sakit. Kabarnya, ia gagal operasi usus. Sudah beberapa kali saya berkunjung, untuk memastikan, kondisi Noviar terakhir.

Setelah sedikit saling sapa, Noviar mulai terbuka tentang apa yang ia rasa selama ini. Tentang sakitnya. Tentang kawan-kawannya. Tentang idealisme. Tentang kekuasaan. Tentang uang. Tentang dedikasi. Dan juga, tentang menikah.

“Orang bisa berubah gara-gara duit. Makanya Loe ati-ati kalo sama duit,” ucap Noviar dengan renyah.

Redaksinya tidak sama. Tapi kurang lebihnya demikian. Dan saya tidak menyangka, itu adalah pertemuan terakhir saya dengan Noviar.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga Allah SWT memberi tempat terbaik buat Noviar. Amin ya rabbal alamin.

Artikel pernah dipublikasikan gema-nurani.com.