Titik 37

“Ni totat wat ayah (Ini donat buat ayah),” ujar Mutia sumringah.

Ia memberiku tali rambut berbentuk gembung seperti donat, dalam sebuah mangkok kecil mainan. Sebelum itu, Mutia menggandengku ke depan kitchen set hadiah dari ibunya untuk memastikan bahwa ia memang tengah memasak donat. Teknisnya, ia perlu waktu hingga setengah jam sampai donat siap disuguhkan. Dan aku, tidak diperkenankan beranjak dari tempat duduk yang ia sediakan untukku.

Sesekali Mutia menyuapiku. Terkadang selang-seling dengan boneka kelinci. Kali yang lain, ia berusaha menjelaskan kepadaku, seputar pernak-pernik table manner. Tak lupa, makan atau minum yang beriring ekspresi khas, “Mmm…. Cejaaapp (sedap).”

Bermain masak-memasak bukan satu-satunya agenda harian Mutia. Ia juga penyuka bersih-bersih. Mandi teratur ia terapkan pada boneka-boneka kecilnya. Sewaktu-waktu, ia memeriksa gigi para boneka dan tak lupa, menasihatinya agar selalu menjaga kesehatan gigi. Mutia sering turut mencuci, menyapu, mengepel, hingga menyeterika baju. Ia bergembira bila berkesempatan membuang sampah ke tempatnya.

Ketika tiba saatnya bermain bersama teman-temannya, Mutia lebih banyak mengamati, mendengarkan, atau sesekali menawarkan mainan. Pun bila semua mainan itu adalah miliknya. Ia tetap sama, tak tertarik mendaku bahwa ia lebih berhak atas semua mainannya dibanding teman-temannya.

Lucunya lagi, kalau pun sedang menginginkan salah satu mainannya, Mutia memilih untuk menunggu, hingga temannya puas bermain dan tidak memerlukannya lagi. Setelah temannya berganti mainan, Mutia tampak asyik dengan satu-dua mainannya itu, sendirian.

Karena pengucapan kalimatnya masih terbatas, sewaktu berkomunikasi, Mutia harus mengucapkannya berulang-ulang. Terkadang, saat berbicara, Mutia tak selalu mendapat respons antusias. Ia biasanya kembali terdiam dan lebih banyak menyesuaikan diri.

Soal makan, Mutia saklek, tapi uniknya, tidak merepotkan. Misalnya, terkadang ia sedang tak bernapsu pada nasi. Tapi waktu ibunya menyuguhkan singkong rebus atau ubi goreng, ia bisa sangat lahap makan. Suatu waktu, ia berminat meracik makanannya sendiri. Nasi sayur lodeh plus keju atau butter, contohnya. Tapi kalau pun tak ada, ia sunggguh menikmati nasi kecap saja.

Aku kini 37 tahun. Belum ada yang dapat aku banggakan, selain ambisiku untuk dapat dibanggakan, kelak. Belum ada yang dapat aku berikan, selain hasratku untuk dapat memberi, kelak. Belum ada yang benar-benar maslahat, selain doaku atas kemanfaatanku, kelak.

Aku kini 37 tahun. Menua dan semakin kurang berilmu. Menua dan semakin kurang bersyukur. Menua dan semakin ketakutan, apakah predikat takwa akan teraih. Menua dan semakin mangkir dari keikhlasan.

Aku kini 37 tahun. Syukurlah ada Mutia yang menyejukkanku dengan kemampuannya memasak, bersih-bersih, dan bersikap sewajarnya di depan publik. Syukurlah ada ibunya Mutia yang tak jemu mendidikkan semua itu. Syukurlah ada Mutia dan ibunya yang suka menciumku, meski aku terus menua dan mungkin, membosankan.

Pagi ini, Mutia menggandengku ke rak buku. Ia mengajakku membaca dan bernyanyi, “Dei dei yu yu… (Happy birthday to you).”