Putri Subuh

Apalagi sepertiga malam, bangun Subuh bukanlah perkara mudah bagi banyak orang. Teruntukku, misalnya, yang sedari muda lebih akrab dengan malam daripada siang. Subuh semacam penguji setia reguler yang konsisten atas semua khazanah bermanusiaku.

Namun, sejak Mutia hadir menemaniku, Subuh terasa lebih menyenangkan, atau lebih tepatnya, harus menyenangkan. Kalau tak benar-benar kecapekan, Mutia punya kebiasaan bangun tidur, hanya sesaat sebelum azan Subuh berkumandang. Terkadang, dengan menangis. Kali lain, ia turun tempat tidur lalu bermain, sendirian. Bisa pula, ia membangunkanku, tentu dengan caranya.

Setengah sadar aku sering kali digandeng Mutia, menuju kamar mandi. Biasanya, ia ingin ditemani berwudhu. Karena masih belum seimbang badan, terutama saat membasuh kaki, ia butuh pegangan tangan, khusus. Aku atau ibunya, maksudku. Kalau aku kurang sigap menurutinya pada sesi ini, Mutia bisa menangis, sangat keras.

Selanjutnya, mendandani Mutia pada suasana Subuh, sedikit kompleks. Dalam waktu singkat, ia perlu dipastikan nyaman, dengan popoknya sisa semalam, baju tidur yang masih berbau khas, juga pilihan jaket dan kaus kaki yang wajib dipakai, karena udara jelas masih dingin. Mengapa kompleks, karena Mutia yang bersemangat harus Subuhan ke masjid.

Belum lagi sepanjang jalan desa yang setengah belukar. Ayam berkokok dari atas pohon, anjing tetangga yang masih aktif menyalak dan sesekali melolong, atau kucing-kucing kebun yang masih sibuk berburu hingga dini hari. Mutia seperti menikmati semua itu. Aku pun rela berhaha-hihi bersama Mutia, seperti melupakan semua kantuk dan merindingku atas jalanan yang lengang.

Usai salam, Mutia biasanya mengajakku untuk segera pulang. Ia tidak begitu saat selain Subuh. Jangan kira, cepat pulang akan berbuah pada lanjut tidur yang terus terasa kurang. Mutia selalu punya acara, pada waktu-waktu itu. Memberi makan ayam tetangga, bermain kejar-kejaran dengan kucing tetangga, menyapu jalan umum di depan rumah, menyebar genggaman-genggaman pasir di tempat yang ia maui, sampai ke ritual siram-siram tanaman (baca: main air).

Beriring semburat langit jelang matahari muncul, Mutia sudah heboh dengan mainan-mainannya. Tetangga sudah mafhum dengan suara melengkingnya yang beradon ria menyusul tawa renyahnya. Entah, selalu saja ada yang lucu buatnya. Ia juga tak bosan mengajak berbicara, semua yang ia ajak bermain. Kalau tetangga sudah ada yang bangun, ia sukaria menemani, umumnya bersih-bersih pagi. Kalau belum ada yang bangun, Mutia tetap seru-seruan bersama mainannya.

Pada jam-jam itu, jalanan desa belum begitu ramai. Mutia bisa bebas bergerak ke sana ke mari. Sesekali jatuh tersandung sesuatu, saking bersemangatnya. Sesekali beraksi aneh. Menggendong botol seperti adik bayi, misalnya. Tapi lebih sering, ia salah kira. Contohnya, bisa naik ke tempat lebih tinggi, tapi belum tentu bisa turun. Atau petak umpet, tapi ia terus yang jadi.

Karena turut Mutia bersibuk riuh, aku pun terlatih siap sedia. Kurang tidurku menguap pelan bersama gegap gempitanya aksi Mutia. Deadline pekerjaanku mengering perlahan, menyusul semangat Mutia untuk memeluk pagi. Dunia antah-berantahku seperti berhenti, berganti dunia terbatas yang ternyata sangat menyenangkan.

Matahari Dhuha naik sepenggalah. Sekitaran rumah mulai terdengar aktivitas bermain anak-anak, seusia Mutia atau lebih besar. Atau anak-anak yang lebih muda dari Mutia, dimomong orangtuanya.

Ketika waktu itu datang, Mutia telah tertidur pulas, setelah mandi dan sarapan. Dan aku pun teronggok manis di awal hari, menjemput semua mauku atas dunia. Terima kasih, Putri Subuh.