Ramadhan Ketiga

“Yah… Ayaaahh. Alloohh….”

Mutia setengah berteriak di depan pintu, mengantarkanku pergi ke masjid. Berikut senyum lebarnya. Selalu begitu. Tangan kanannya memegang sendok makan. Ya, sebenarnya Mutia berkeinginan turut, tapi karena belum makan, ia harus makan terlebih dahulu.

Boleh dibilang, bagi Mutia, masjid adalah tempat menarik kedua, setelah rumah. Sejak ia bisa berjalan, meski belum lancar, Mutia selalu ceria bila diajak ke masjid. Teknisnya, hanya saat Shalat Magrib, padahal. Pun dengan bermukena kerudung ibunya, karena ukuran mukena untuknya, masih kebesaran.

Bila azan berkumandang, matanya lalu membesar, dan keluar kalimat wajibnya, “Yah… Ayaaahh. Alloohh….” Sering kali, ia juga menyetel kotak musiknya yang punya menu azan, dengan volume tinggi.

Bila aku atau ibunya tak bereaksi, ia mulai sibuk mencari sajadah kecil dan mukena yang biasa ia pakai. Kalau tidak, ia berkreasi cara agar dapat berwudhu. Ambil air wudhu di keran kamar mandi yang masih terlalu tinggi buatnya, hanya ia gunakan, bersamaan denganku atau ibunya. Bila sendirian, ia menyasar dispenser atau keran taman yang bisa ia jangkau. Persis, setengah bajunya pun sudah pasti, basah.

Pernah suatu ketika, ia berwudhu sinar matahari yang masuk dari celah ventilasi kamar. Mimik dan gaya berwudhunya tak kalah pakem dengan bila ia berwudhu air. Beruntung, ia belum pernah mencoba teko berisi teh, atau termos minumnya yang bersedotan, untuk berwudhu.

Bukan hanya wudhu dan kegirangannya setiap kali mendengar azan, atau jelang keberangkatan ke masjid, Mutia punya kebiasaan shalat ala dia, di mana pun dia ingin. Bisa di atas tempat tidur, bisa di karpet mainnya, bisa di atas sofa, bisa di teras rumah, bisa juga waktu digendong. Biasanya, tanpa rukuk, dari berdiri dan bersedekap, ia langsung sujud. Meski ia masih kepayahan di posisi sujud ala dia itu, biasanya juga, durasinya lumayan lama.

Mutia juga paham, setelah shalat, ia biasanya berdoa. Doa yang ia hapal, memohon kepada Allah agar pup-nya lancar. Maklum, Mutia masih berusaha keras belajar menguasai diri saat hendak pup. Momen pup terasa istimewa, karena itu mensyaratkan perhatian serius orangtuanya. Ia suka dipegang tangannya ketika pup.

Tak terasa, kini Mutia tengah dalam Ramadhan-nya yang ketiga. Ramadhan pertama, saat ia masih dalam kandungan. Beberapa hari setelah Ramadhan pergi, ia lahir ke dunia. Ramadhan kedua, saat Mutia baru mentas dari MP ASI (makanan pendamping ASI). Seperti tak lekang waktu dan mengguratkan selaksa semangat tentang hidupku yang harus terus berguna.

Ramadhan kali ini, Mutia tengah beradaptasi kuat pada lingkungan baru. Sekira lima bulanan terakhir, Mutia semakin akrab dengan sapi, tidak hanya dari buku. Ia sewaktu-waktu bisa melihat sapi dan mencandainya, karena tak jauh dari rumah, ada kandang sapi kelompok yang terawat. Ia terbiasa bermain tanah pasir di bawah rerimbunan bambu dan pepohonan khas desa, berikut kawan baru yang tak selalu sehat waktu bermain bersama.

Mutia juga menjadi nyaman berkunjung dan bermain ke kolam-kolam ikan. Ia bahkan berendam di kolam yang baru jadi dan baru diisi air bersih. Memancing ikan di kolam resapan, atau turun naik tangga rumah jaga kolam. Mutia juga lebih sering memilih menu ikan, daripada daging ayam atau daging sapi. Meski keju dan butter, tetap favorit.

Bangun pagi, Mutia aku ajak bernyanyi, “Mutia bangun pagi, alhamdulillah. Mutia bangun sehat, alhamdulillah. Ibun bangun sehat, alhamdulillah. Ayah bangun sehat, alhamdulillah. Sehat wal afiat, alhamdulillah.”

“Aem,” kata Mutia kemudian. Lapar, ternyata.

Purwomartani-Kalasan