Sang Penyapa Alam

Sejak lahir, Mutia akrab dengan cara menyapa. Menariknya, bukan hanya siapa, tapi juga apa pun. Ibunya sering kali mengajak Mutia untuk berbicara pada buku, cicak, bahkan kamar mandi. Walhasil, ketika Mutia telah tanggap dan mampu berkomunikasi verbal, ia tak segan menyapa siapa pun, juga apa pun. Berikut senyum renyah dan tatap mata simpatik itu.

Sebelum usia tujuh bulan, Mutia praktis hanya lekat berkomunikasi pada kedua orangtuanya, dan pernak-pernik di sekelilingnya. Sesekali ke luar rumah agak jauh, bila ke dokter atau memang tengah ada urusan sangat mendesak. Sisanya, rumah adalah satu-satunya kastil, peraduan, dan tempat bermain-belajar yang sulit dicari tandingannya.

Sewaktu usianya memasuki delapan bulan, Mutia mulai ke luar rumah dan berkomunikasi lebih intens pada masyarakat. Ya, masyarakat. Bisa anak kecil seusianya, lebih tua, atau lebih muda, bisa orang yang jauh lebih tua. Bisa seseorang yang ia kenal atau tidak. Bisa sesuatu yang ia tidak suka, atau bukan. Babak baru hidupnya terasa lebih berwarna, meski berwarna yang dimaksud tentu berbeda dengan berwarna saat di rumah.

Suatu ketika, Mutia dipangku ibunya, menunggu antrean administrasi rumah sakit anak. Persis di sampingnya, ada ibu muda tengah serius memainkan telepon genggam. Tak jauh dari tempat duduknya, ada seorang ibu berusia lebih tua, memangku bayi. Sepertinya, nenek dari bayi yang dipangku, dan tentu saja ibu dari ibu muda.

Mutia duduk lebih dahulu. Ketika si ibu muda duduk menyusul, Mutia melayangkan senyum khas dan tatapan mata binarnya kepada si ibu muda. Ya, Mutia hendak menyapanya. Hingga si ibu muda duduk dan membuka telepon genggamnya, bahkan dalam waktu yang cukup lama, ia ternyata tidak tertarik, pun hanya melirik Mutia. Meski sapaan tak berbalas, Mutia tetap tersenyum. Seperti biasa, ia lalu bermain bersama ibunya.

Pada kali yang lain, Mutia tertarik menyapa seorang anak kecil seusianya. Belum cukup saling tatap, apalagi bercanda bersama, orangtuanya buru-buru mengajak si anak pergi, tanpa sepatah kata pun pada Mutia. Waktu seperti berhenti. Mutia menatap si anak yang digendong ayahnya pergi sampai tak kelihatan. Setelah itu, seperti biasa, Mutia lalu kembali bermain bersama ibunya.

Tentu saja bukan sekali atau dua kali Mutia bersua kenyataan seperti ini. Lusinan, mungkin ratusan kali. Tapi Mutia ya Mutia. Ia tetap saja suka menyapa. Ia tetap saja merasa, semua orang bisa disapa, dan suka disapa. Ia tetap saja tak bosan tertarik pada hal dan orang baru, meski sesekali, tak bertahan lama.

Saat berkumpul dan bermain bersama kawan-kawannya, entah di rumah atau di luar rumah, Mutia tidak pernah tampak vokal. Ia lebih suka mendengarkan temannya bicara. Ia lebih suka memilih satu-dua mainan di dekatnya dan membiarkan mainannya dinikmati kawan-kawannya. Juga Mutia suka ikut tertawa, meski belakangan, kalau yang lain tertawa. Ia bertepuk tangan, kalau ada temannya yang bernyanyi. Ia menyanyi, hanya bila di rumah.

Anakku, semoga kau terus begitu. Sesekali bosan, bolehlah. Tapi, berusahalah untuk terus dan tetap begitu. Kau dibanggakan dan didoakan, karena memang untuk itu. Karena, kau tidak sedang menyapa apa dan siapa. Kau sedang menyapa alam. Kau sedang menyapa alam yang akan memperlakukanmu baik, bila kau baik. Pun sebaliknya.

Jogokaryan, 29 Oktober 2017