Search and Hit Enter

Mozaik 36

Anakku, ayahmu kini 36 tahun. Usia penuh kebahagiaan, meski ayah terus belajar berbahagia saat orang lain berbahagia. Bukan perkara mudah, ternyata. Karena, merasa berumur dengan setumpuk pengalaman, rentan menengadahkan dagu ayahmu, bahkan hingga ke sumsum. Padahal, ayah tahu, Jenderal Besar Soedirman wafat dua tahun lebih muda dari usia ayah saat ini, berikut jasa besarnya pada Tanah Air kita.

Anakku, ayahmu kini 36 tahun. Usia penuh kemerdekaan, meski ayah terus belajar merdeka dari kelindan ambisi duniawi. Bukan perkara mudah, ternyata. Karena, merasa mampu menentukan jalan hidup sendiri, rentan membuat ayahmu lupa, akan peran Sang Pencipta. Padahal, ayah tahu, Bung Hatta Sang Proklamator, dahulu, bertekad tak menikah, sebelum Indonesia merdeka. Beliau menikah pada usia tujuh tahun lebih tua dari usia ayah saat ini. Pernikahan mengesankan yang berbuah cinta, Meutia Hatta; semirip namamu.

Anakku, ayahmu kini 36 tahun. Usia penuh kesederhanaan, meski ayah terus belajar menyederhanakan persoalan hidup. Bukan perkara mudah, ternyata. Karena, merasa bersahaja di tengah kekhawatiran menjadi riya, justru merupakan riya yang menakutkan. Padahal, ayah tahu, kesederhanaan Pemimpin Besar Masyumi, Mohammad Natsir, bahkan hingga wafatnya. Makam beliau di Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Tanah Abang, Jakarta Pusat, tak berbeda dengan makam jelata.

Anakku, ayahmu kini 36 tahun. Usia penuh keberanian, meski ayah terus belajar berani pada kemapanan. Bukan perkara mudah, ternyata. Karena, merasa berani berbeda atas realitas pada umumnya, membungkus semua pilihan menjadi permanen, sementara hidup bisa jadi tidak linier. Padahal, ayah tahu, keberanian Pendiri Republik Indonesia, Tan Malaka, bahkan seperti mengabaikan keinginan pribadinya untuk hidup senang.

Anakku, ayahmu kini 36 tahun. Usia penuh keingintahuan, meski ayah terus belajar tahu pada pengetahuan yang sejati. Bukan perkara mudah, ternyata. Karena, merasa tahu hakikat atau sesuatu di balik sesuatu, tak selalu berbuah kerendahhatian. Padahal, ayah tahu, cendekiawan Muslim, Cak Nur, bahkan tak pernah menyebut dirinya sebagai cendekiawan. Kecendekiawanan beliau dirasakan manfaatnya bagi orang lain, bukan cendekiawan yang hanya disebut-sebut.

Anakku, ayahmu kini 36 tahun. Usia penuh keberuntungan, karena kau punya ibu yang dapat diandalkan untuk mengajarimu beruntung sebagai manusia, sekarang dan nanti, hingga berbuah kelak di Akhirat. Usia penuh cinta, karena kau punya ibu yang dapat diandalkan untuk mengajarimu apa itu cinta dan mencintai, berikut keberserahan diri kepada-Nya atas anugerah tak terperi detik per detik.

Anakku, ayahmu kini 36 tahun. Usia penuh harap, kelak kau akan tumbuh dan besar sebagai pribadi bertakwa berikut budi luhur dan akhlakul karimah nan berharap ridha-Nya selalu. Usia penuh doa, kelak kau tak akan pernah lupa mendoakan kedua orangtuamu. Usia penuh karsa, kelak kau akan hidup untuk kehormatan sebagai manusia, bukan penggila hormat. Usia penuh ingin, kelak kau akan selalu ingat muasalmu, karena hidup sungguh hanya sebentar.

Anakku, ayahmu kini 36 tahun. Terima kasih atas semuanya.

Jogokaryan, 15 Oktober 2017