Search and Hit Enter

Mendidik Pendidik

Mutia bersama Mbah Darmo Utomo.

Mutia. Kini ia delapan bulan. Berparas menawan, bertatap binar penuh keceriaan, cerdas penuh rasa ingin tahu, dan pemilik lusinan perilaku mengejutkan yang selalu berbuah kebanggaanku sebagai ayah, sebagai orangtua, sebagai teman, dan sebagai pendidik.

Delapan bulan lalu, aku saksi tunggal bersama tim medis, kelahiran Mutia. Sesaat tubuh merahnya diangkat dokter, aku telah tahu, ia seorang perempuan. Semirip doa beberapa kawan yang berharap, agar aku menjadi lebih berkasih dan lembut. Tak kurang tak lebih senada dengan mimpiku beberapa hari sebelumnya. Aku pun berucap syukur, sangat bersyukur.

Kehadiran Mutia membuatku semakin mudah merasa cukup. Ia pemeluk ke sekianku yang memperkuat semua ingin baikku. Mudah merasa cukup, tapi haus ikhtiar jariyah. Serasa telah dianugerahi semua hal, tapi terus yakin bahwa banyak hal yang dapat dilakukan. Sebuah inspirasi paradoksal yang penuh berkah.

Hari terus berganti. Mutia semakin besar saja. Itu tandanya, aku terus menua. Ia tidak selalu harus menetek ibunya, jelang tidur-tidurnya. Ia mulai jarang menangis saat bangun tidur. Ia selalu bangun lebih dini hari dibanding kedua orangtuanya. Ia tak risih bila terkadang bermain sendirian. Ia mudah memeluk kedua orangtuanya dalam banyak situasi.

Aku dan ibunya sadar betul bahwa bersama Mutia hanya dalam hitungan jari. Tak lama lagi, ia akan besar dan memiliki kehidupannya sendiri. Ia juga akan menikah dan lebih menaati suaminya, daripada kedua orangtuanya. Ia pasti punya doa dan ikhtiar yang jauh lebih mulia dibanding kedua orangtuanya.

Detik demi detik aku kerahkan semua yang aku tahu untuk kebaikan pertumbuhan Mutia. Tidak menonton TV, tidak berbicara dengan nada tinggi, mendahulukan keteladanan, bersabar pada keinginan sendiri, berkomunikasi penuh respek kepada orang lain, dan tak lupa, terus berdoa. Aku pun tak lelah berdoa, semoga ia bertumbuh dan besar sebagai seorang yang salihah.

Dan ibunya, tentu saja jauh lebih baik. Tak sepertiku yang lebih teoretis, perlakuan ibunya terpapar lengkap bahkan hingga dalam bentuk sentuhan. Berkalang apa pun, doa ibunyalah yang jauh lebih ijabah daripada doaku sebagai ayahnya. Mutia mulai dan belajar banyak memang dari ibunya, untuk pertama-tama.

Delapan bulan berlalu, apa yang telah aku lakukan sebagai orangtua, tetap saja tidak pernah berbanding lurus dengan apa yang aku idamkan atas Mutia. Berharap hidup dan kehidupan Mutia jauh lebih baik, sementara aku terasa belum sungguh-sungguh menyiapkan semua yang ia butuhkan kelak. Lama-lama aku justru merasa menjadi beban bagi Mutia, dengan semua citaku atasnya.

Jelang delapan bulan, Mutia mulai suka melambai tangan berikut ucapan ‘daadaa’ yang diucapkan orang-orang di sekelilingnya. Ia pun paham cara bertepuk tangan, meski ala gerakannya sendiri. Sedikit banyak, itu menghibur banyak orang yang berhasrat menyapanya. Semoga ia terus ceria dan membuat bahagia banyak orang.

Apa pun, meski perbuatan baik berkadar kecil, asalkan dilakukan terus-menerus, dapat berbuah kebaikan yang lebih besar. Dengan mozaik hal-hal kecil yang baik itulah kurenda harapan agar Mutia dapat tumbuh dan besar dengan mentalitas pendidik yang suatu saat nanti berkewajiban mendidik anak-anaknya.