Search and Hit Enter

Istiqomah

Kami berempat belas. Ya, persis. Aku menghitungnya. Duduk melingkar di Masjid Al-Huda Harnas Jageran, bertadarus sebisanya, menyambut malam perdana Ramadhan 1436 H. Hampir semua jamaah yang hadir berusia di atas 60 tahun, berkacamata, dan memilih mushaf berukuran sangat besar, karena penglihatan beliau-beliau yang tak lagi muda.

Kalam ilahi berawal dari Al-Fatihah lantas Al-Baqarah. Sepatah dua patah ayat dilafalkan, bermula dari Ketua Takmir yang terkadang memilih ‘ng’ untuk menyebut ‘ain. Ngabduhu, misal; bukan ‘abduhu. Ada yang lancar membaca, tapi sepertinya kurang bertajwid. Ada yang terbata-bata, karena mulai kesulitan merangkai idgham. Bahkan ada yang hanya mendengarkan, lantaran tak dapat mengeja mushaf.

Aku sungguh menikmati suasana ini. Larut dalam dialektika ingar-bingar kemutakhiran dan kuatnya pranata. Bahwa di tempat dengan kampus terbanyak di Indonesia, beberapa belas orang masih teguh pada pentingnya membaca Al-Quran bersama-sama, meski mereka telah sangat lanjut usia. Mereka terus begitu, terus bersama, pun aku tahu, jauh sebelum datang Ramadhan.

Aku teringat Gus Mus, seorang biasa yang terkadang ber-twitter ria, meski ia telah berusia lebih dari 70 tahun. Untuk terus belajar, katanya. Ia pernah bercerita tentang cara ia belajar melafalkan Al-Fatihah.

Sewaktu balita, Gus Mus dititipkan Ayahandanya, Kiai Bisri Musthofa, kepada seorang kiai kampung di bilangan Leteh, Rembang. Kiai Bisri berharap, anaknya mampu melafalkan Al-Fatihah dengan benar, karena Al-Fatihah termasuk rukun shalat. Ia takut, kelak, Allah SWT akan meminta pertanggungjawabannya hanya karena sang anak tak mampu melafalkan Al-Fatihah dengan benar.

Selama empat bulan, Gus Mus dicecar pelatihan ekstra-ketat. Materinya, pelafalan Al-Fatihah; tak ada sambilan lain. Ternyata, tak cukup sampai di situ, Kiai Bisri kemudian mengirimkan Gus Mus ke seorang ulama besar untuk belajar hal sama; melafalkan Al-Fatihah. Kali ini, selama tiga bulan.

Pelatihan luar biasa tersebut akhirnya berbuah. Usai tujuh bulan belajar melafalkan Al-Fatihah, dari dua orang kiai, Gus Mus akhirnya diijazahi Sang Ayahanda.

Mafhum adanya, karena Kiai Bisri adalah penulis kitab tafsir Al-Quran berbahasa Jawa, al-Ibriz Li Ma’rifah Tafsir al-Qur’an al-‘Aziz. Karya masterpiece yang hingga kini masih dijadikan referensi penting pondok pesantren tradisional.

Betapa penting memegangteguhi fondasi keilmuan, bahkan dengan jibaku yang sebenarnya memang itu pantas.

Waktu menunjukkan pukul 09.00 malam. Seorang ibu, yang juga tak lagi muda, mengantarkan senampan minuman jahe hangat. Senyum renyahnya menghalusinasiku tentang seorang yang turut bahagia menemani para kakek sahut-menyahut saling mengingatkan makhraj. Itu membahagiakan.

Sebutlah Ramadhan adalah salah satu cara belajar untuk becermin, aku memilih untuk terus memperbarui tafsirku atas waktu. Karena sebenarnya, tak ada beda menganga antara aku yang 34 tahun dan Bapak-bapak berusia lanjut di sekelilingku. Karena waktu akan sampai pada batas akhirnya, dan aku tak lagi dapat memperbarui tafsirku atasnya.

Aku berdoa, “Ya Allah, semoga hamba bisa istiqomah, seperti Bapak-bapak ini.”

Jogokaryan, 1 Ramadhan 1436 H