Berguna

Bersujud. (Foto: Aditya Nur Baskoro WordPress)

Bersujud. (Foto: Aditya Nur Baskoro WordPress)

Jumatan kali kemarin, aku terlambat. Tentu saja bukan berarti aku tak pernah terlambat Jumatan. Setelan batik dan bersarung ditambah peci hitam membuatku tampak bisa meraih sahnya Jumatan.

Masjid yang aku tuju tak berubah. Masjid Muhammadiyah Al-Huda Harnas. Masjid berpayung pepohonan sawo lebat di bilangan Jageran, tak jauh dari Masjid Jogokaryan Kota Jogja yang jauh lebih terkenal.

Kumandang azan telah separuh jalan sewaktu aku masuk ke bangunan utama masjid. Meski terlambat, biasanya masih ada satu atau beberapa sela shaf yg bisa ditempati.

Akhirnya, aku memilih duduk tak jauh dari mimbar khatib untuk memastikan, aku mendengar isi khotbah, sebagai syarat sah Jumatan.

Azan usai, dan aku turut berdoa bersama sebagian jamaah. Meski aku belum bisa menghapal doa setelah azan bahkan hingga kini, aku tetap membaca sebisaku.

Aku lantas menunaikan Shalat Sunah Qabliyah. Dulu aku diajari, shalat ini usahakan diperpendek bila khotbah telah disampaikan.

Terdengar Sang Khatib menyampaikan khotbah tentang tingginya akhlak Rasulullah SAW. Bahkan saat beliau diminta para sahabat untuk mendoa buruk untuk musyirikin, Rasul menjawab, “Aku diutus untuk menebar rahmat, bukan melaknat.”

Meski sedikit mengantuk, aku kuasakan terjaga. Ada yg bilang, saat Shalat Jumat, iblis dan pasukannya akan berusaha menidurkan jamaah. Ya, agar materi khotbah tidak terdengar.

Dalam setengah kantukku, seorang Bapak di samping kananku menggeser kotak amal masjid ke depanku. Aku baru sadar, dalam setelan batik menawanku, ternyata aku tak membawa uang sepeser pun. Untuk hal begini, aku selalu punya cara untuk berkelit, meski jelas-jelas kadang aku memang pelit.

Dengan agak malu-malu, aku geser kotak amal itu ke sebelah kiriku. Gengsi itu muncul begitu saja. Berbeda dengan puasa yang hanya Allah penilainya, sedekah adalah ibadah yang rentan riya.

Beberapa detik, jamaah di samping kiriku tak meraih kotak yang aku geser. Karena aku lihat ia memejamkan mata, dan aku kira dia tertidur maka aku hendak mengambil kotak amal itu lagi untuk aku geser ke jamaah selanjutnya.

Belum sempat aku raih kotak amal, tangan Bapak di sampingku bergerak menggapai-gapai kotak. Subhanallah. Aku baru sadar. Si Bapak ternyata buta.

Bertingkah sok altruis, aku pegang tangannya dan aku bimbing ke kotak amal. Belum selesai rasa kagetku, Si Bapak kemudian setengah berdiri untuk mengambil dompet di saku celana belakangnya.

Selesai memasukkan uang ke kotak amal, ia dibimbing tangan mungil di sampingnya. Seorang anak berusia sekira tujuh tahunan. Berpeci. Normal. Aku taksir, mereka Bapak dan anak.

Sedu sedan tak tampak mendidihkan darahku. Belum uzur kesiapku pada caraku beribadah yang baik, Allah memperlihatkanku pada mozaik indah seperti ini.

Belum lagi tentang tak kuasaku atas cara Sang Bapak membesarkan anaknya. Ya, bukan hal mudah meyakinkan anak tentang kecacatan Sang Bapak.

Sayup aku dengar Khatib berkata, “Semoga kita semua termasuk kalangan muttaqin dan termasuk umat Rasulullah SAW yang dilimpahi syafaatnya.”

Si Bapak Buta mengamininya. Persis, aku dapat mendengar amin itu.

Usai Jumatan, dalam pulangku berjalan kaki, aku menulis pesan untuk anakku kelak.

“Anakku, kamu harus tahu, ayahmu bukan siapa-siapa. Berusahalah menjadi manusia yang berguna, meski ayahmu bukan siapa-siapa.”