Search and Hit Enter

Simbah Putriku

UPLIK - Lampu senthir. Orang Rembang menyebutnya 'uplik'. Uplik menjadi sarana penerangan utama saat belajar dan mengaji generasi era 1980-an. (Foto: Tulisan Maul Blogspot)
UPLIK – Lampu senthir. Orang Rembang menyebutnya ‘uplik’. Uplik menjadi sarana penerangan utama saat belajar dan mengaji generasi era 1980-an. (Foto: Tulisan Maul Blogspot)

Sejak kecil, aku tinggal bersama Simbah Putriku di Rembang, sebuah kabupaten kecil bersejarah besar. Ia seorang, karena Simbah Kakungku telah meninggal, bahkan saat ibuku masih belia.

Nama beliau, Mutiah. Untuk era awal Politik Etis diberlakukan, nama ini tentu mengesimakan. Menurut sabda Rasulullah, Mutiah adalah perempuan yang dijamin masuk surga. Buyutku kabarnya memang tokoh terpandang dan berpendidikan. Bahkan Simbah Putriku termasuk salah satu dari sedikit orang yang bisa bersekolah di zamannya.

Beliau selalu bangun pukul 02.00 dini hari. Selain karena batuk kronis, tentu saja jam ini adalah waktu baik untuk shalat dan berdoa.

Menjelang Subuh, beliau mulai memasak untuk menu sarapan. Ketika itu, masih dengan kayu bakar dan lampu minyak sebagai penerangan.

Bila aku sedang tak tidur di langgar, ia pasti membangunkanku Shalat Subuh, sejak beliau masih sanggup berjalan kaki ke langgar untuk berjamaah, hingga ia tak kuasa lagi.

Pesannya lekat di ubun-ubunku bahwa bangun Subuh akan membukakan pintu ilmu terbaik. Bahwa Subuh adalah energi terbaik untuk menjalani hari.

Tak lupa ia selalu berdoa, “Mugo-mugo dadi wong apik yo, Le (Semoga menjadi orang baik).”

Bila tiba saatku belajar, Simbah Putriku seperti tak jemu menemaniku. Biasanya, ada segelas susu cokelat hangat Frisian Flag yang legendaris itu ia buatkan untukku. Saat duduk di sampingku, ia jarang bicara. Sesekali saja. Seringnya, beliau berzikir dengan tasbih kecil berwarna kecoklat-coklatan itu.

Bila pun ada yang diobrolkan, biasanya seputar doa harian, amalan sunah, atau menu sayur asem yg kusuka.

Satu hal yang terus memukauku hingga kini, Simbah Putriku jarang sekali keluar rumah. Beliau jarang aku lihat duduk-duduk bersama tetangga. Aku asing dengan omongan beliau tentang tetangga. Ia seperti tak biasa membicarakan perihal orang lain, tidak seperti umumnya perempuan.

Sekira 17 tahun lalu, beberapa waktu sebelum batuk kronisnya tak tertolong lagi, beliau terus mewasiatiku untuk mendoakan orangtua. Mungkin yg dimaksud adalah orangtuaku dan orangtua dari orangtuaku. Beliau wafat saat aku duduk di bangku SMA tingkat pertama.

Aku terus merindukan Simbah Putriku, hingga kini.