Ekonomi Maritim untuk Perekonomian DIY

MASA DEPAN DIY - Pelabuhan Tanjung Adikarto di Glagah, Temon, Kulon Progo sedang dalam pembangunan. (Foto: Skyscrapercity)

MASA DEPAN DIY – Pelabuhan Tanjung Adikarto di Glagah, Temon, Kulon Progo sedang dalam pembangunan. (Foto: Skyscrapercity)

Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan ekonomi Yogyakarta terhitung menggembirakan. Hal tersebut dapat dilihat dari rencana pembangunan beberapa proyek besar yang didesain mampu menginisiasi percepatan perekonomian. Sektor maritim termasuk prioritas utama.

Pemprov DIY tidak hanya merencanakan pembangunan Bandara Internasional Kulonprogo, kawasan industri baja, jalan tol Yogyakarta-Bawen, serta pengembangan kawasan perekonomian Stasiun Tugu dan Malioboro Kota Yogyakarta, namun juga pembangunan Inland Port di Kabupaten Bantul, pengembangan Baron Technopark, dan industri perikanan tangkap berskala nasional di Gunungkidul.

Selain pembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarto, beberapa proyek infrastruktur juga sedang dikerjakan, seperti tempat pelelangan ikan (TPI), shelter nelayan, pabrik es, serta docking atau tempat perbaikan kapal.

Apabila dilihat saksama, Pemprov DIY mulai concern pada ekonomi maritim. Hal tersebut jelas merupakan derivasi visi Gubernur, ‘Among Tani Dagang Layar’. Memutar kemudi ke arah visi maritim mulai determinan dan diyakini sebagai penggerak perekonomian utama Jogja.

Langkah memprioritaskan ekonomi maritim sudah sangat tepat, mengingat potensi luar biasa maritim DIY yang selama ini belum digali maksimal.

Oleh karena itu, masuk dalam skema fiskal daerah menjadi salah satu tumpuan penting untuk mendukung visi Gubernur ‘Among Tani Dagang Layar’ dan visi Presiden ‘Poros Maritim Dunia’ dalam satu paket perencanaan.

(Lebih) Mengurus Yogyakarta

Badan Kerjasama dan Penanaman Modal (BKPM) Yogyakarta mencatat, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DIY pada 2010 tumbuh 4,87 persen, atau lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan ekonomi tahun 2009, yakni sebesar 4,39 persen.

Di sisi permintaan, peningkatan pertumbuhan ekonomi didorong oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. Peningkatan konsumsi rumah tangga didukung oleh daya beli yang masih terjaga dan dukungan pembiayaan yang meningkat.

Sementara itu, peningkatan investasi didukung oleh tingginya kepercayaan pengusaha terhadap prospek ekonomi, sehingga kredit investasi di Yogyakarta cenderung terus naik. Pada 2010 mencapai 19,53 persen, sedangkan tahun sebelumnya hanya 17,01 persen.

Struktur ekonomi Provinsi DIY pada 2011 didominasi sektor perdagangan 20,79 persen, jasa 17,04 persen, dan pertanian 17,19 persen, dan industri pengolahan 13,28 persen.

Pada sektor pertanian, kontribusi subsektor pertanian jagung menjadi yang terbesar, diikuti ubi kayu. Sektor perdagangan kontribusi subsektor perdagangan besar dan eceran mempunyai andil terbesar, diikuti restoran dan hotel.

Komoditas unggulan Provinsi DIY berasal dari sektor pertanian dan jasa. Komoditas unggulan dari sektor pertanian adalah subsektor tanaman perkebunan dengan komoditas kelapa. Komoditas yang diunggulkan subsektor perikanan adalah perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Sementara sektor pariwisata mengunggulkan wisata alam, wisata adat dan budaya, serta wisata minat khusus.

Strategi mengkolaborasikan sektor daratan dan sektor lautan akan memperkokoh posisi perekonomian DIY, yang tidak lagi bertumpu pada citra kota dengan ratusan kampus. Bahwa DIY memang memiliki sumberdaya alam yang dapat diunggulkan, seirama dengan terus meningkatnya jumlah pendatang di Jogja, terutama mahasiswa.

Seperti diketahui, sejalan perkembangan perekonomian DIY, beberapa indikator kesejahteraan di Yogyakarta mengalami perbaikan. Pendapatan per kapita masyarakat di Yogyakarta tahun 2010 tercatat Rp 13,18 juta, naik dari tahun 2009 Rp 12,10 juta.

Persentase tingkat kemiskinan sedikit mengalami perbaikan, yaitu turun dari 17,23 persen menjadi 16,83 persen. Tingkat pengangguran terbuka di Yogyakarta turun menjadi 5,69 persen pada 2010. Nilai Indeks Pembangunan Manusia tahun 2009 tercatat sebesar 75,23, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, sebesar 74,88.

Artinya, Jogja yang dipenuhi kampus berkualitas tentu tidak hanya memintarkan sumberdaya manusia dari luar daerah, tapi juga untuk masyarakat Jogja. Lulusan kampus Jogja yang asli Jogja dapat berkontribusi intens membangun Yogyakarta.

Referensi: