Search and Hit Enter

Waktu dan Zaman

BANDUL waktu menunjuk bulan Februari 2005…

Senja baru saja beranjak. Tampaknya, malam ini akan bertambah berat. Ya, aku masih saja kelu. Sudah hampir tiga bulan ini, Konfercab IV HMI Cabang Sukoharjo tak kunjung usai. Jeda pikirku sudah tak mampu lagi menoleransikan semua ini. Keterlambatan forum, dialektika yang tak fokus, intrik-intrik sampah, dan sederet kenyataan pahit tentang mentalitas komunitasku yang tak juga berubah memaksaku untuk nekat, agar penderitaan segera berakhir.

Setelah berlama-lama dengan bentukan prasangkaku yang tak berkesudahan, aku memutuskan untuk bertemu Anto, Mantan Ketua Umum HMI Psikofar.

“Bos, bisa ketemu Anto, ngga?” pintaku agak hambar. Aku sambangi Anto di Sanggar Teater Ayat. Kabarnya, ia turut dalam pementasan mereka beberapa hari lagi. Hingga hari ini, ia masih dikarantina. Agar bisa mendalami peran, kata mereka.

“Oh, bentar. Saya tanya ke sutradara dulu. Antonya baru makan,” jawabnya agak khawatir. Maklum, pada situasi seperti ini, sutradaralah yang punya hak atas semua kru pendukung.

Sejurus kemudian…

“Eh, Rif. Ada apa nih? Gue baru makan,” sapa Anto singkat. Mulutnya penuh makanan yang belum tuntas dikunyah.

“Aku mau ngomongin Konfercab,” jelasku langsung ke persoalan. Aku tersenyum sekenanya, takut merusak suasana.

“Oke. Kita ke warung makan depan kampus aja.”

Tanpa banyak negoisasi, beberapa menit setelahnya, aku dan Anto sudah berhadap-hadapan.

“Kamu bisa nyalon jadi kandidat buat nyaingin Suroso, ngga?” ujarku membuka pembicaraan.

“Emang, kalo elo yang maju knapa?”

“Wah…. To, HMI kita ini udah keliwat politis. Aku mikir, kalo kita masih terus-terusan pake pola yang lama, nge-geng sana nge-geng sini, selamanya kita ngga bakal bisa solid.”

“Maksud lo?”

“Anak-anak masih fanatik aja sama kelompoknya. Mereka susah kalo diajak mikir bareng-bareng. Kalo Konfercab cuma buat melanggengkan pengotak-kotakan ini, aku sama sekali ngga tertarik.”

“Trus, apa hubungannya sama pencalonan gue?”

“Kamu kan agak free. Semisal dibilang masih turunan AD II, Psikofar tetep beda. Artinya, kamu relatif dipercaya ketimbang yang laen. Maksudku, biar kita bisa damai, trus Sukoharjo bisa kompak. Dari dulu, mereka bisanya cuma dukung-mendukung saling ngalahin, tapi ngga ada kontribusi positifnya.”

“Elo-nya mau ke mana?”

“Aku di LPL aja. Aku mau buktiin ke publik, kalo Cabang itu bukan institusi suci. Kalo HMI bisa hargai LPL, perkaderan bisa berimbang. Ngga ngintrik aja kerjaannya.”

“Eh, Rif. Gue kasih tau elo ya. Oke. Elo emang bisa deskripsiin Konfercab di mata gue jadi ranum. Tapi, elo pikir, gue mau nyari apa di Cabang? Sekarang, HMI udah busuk. Semisal mau nyari duit, HMI udah ngga bisa ngasih. Semisal, biar terkenal, HMI juga ngga dilirik lagi. Gue cuma bakal pusing terus-terusan ngurusin kader-kader ngga jelas itu. Trus, kalo semua waktu gue abis buat sesuatu yang ngga ada manfaatnya, gue mo ngomong apa di depan emak gue?”

Aku tercekat. Kali ini, Anto serius. Dia tahu, kalau ia sedang dituntut untuk segera menyelesaikan persoalan. Tapi, ia juga tengah mempersoalkan kondisi komunitas ini. Ia belum yakin, apa HMI memang masih layak dipertahankan sebagai organ mahasiswa berbasis nilai yang full misi suci seperti keislaman, kemahasiswaan, dan keindonesiaan.

Sebenarnya, ia tak jauh berbeda denganku. Baginya, memimpin Cabang bukan pilihan tepat. Ia juga ingin bicara bahwa HMI sudah tak pantas lagi dijadikan wadah perkaderan generasi Islam. Ia hanya tertarik berdiskusi dan turut memikirkan kondisi kaum mustadhafin yang sering digerus kezaliman penguasa daripada berhadapan dengan orang-orang oportunis yang hanya bisa memanfaatkan keringat kader-kadernya.

***

Beberapa bulan pasca itu….

Ternyata, Anto memilih untuk bergabung dengan kepengurusan Cabang sebagai Ketua Bidang Pembinaan Anggota. Tentu, ini formasi yang menjanjikan. Suroso bisa terpilih sebagai Ketua Umum Cabang tanpa sengketa yang berarti, Anto memandegai perkaderan, dan aku bercokol di LPL sebagai penerjemah ide-ide perkaderannya. Artinya, konflik laten yang selama ini sering dirasakan dengan mengatasnamakan kelompok tertentu bisa usai dengan memberikan kesempatan pada Suroso, bahkan tanpa dukungan. Andai persaingan masih ada, tarik-menarik dukungan terhadap kepengurusan baru akan terus terjadi seperti yang sudah-sudah. Maklum, dulu, bila kelompok yang kalah tidak diakomodasi di kepengurusan Cabang, mereka memilih untuk mundur dari kepengurusan. Legitimasi yang dikebiri ini tentu sangat mengerikan. Pasalnya, Cabang Sukoharjo bukan hanya milik kelompok tertentu.

Di sisi lain, lantaran terhitung orang kuat, Anto akan sangat disegani. Bidang PA akan menjadi rujukan bagi aktivitas organisasi. Tren akan dikuasai oleh mainstream intelektualitas dan keislaman. Ditambah dengan posisiku di LPL, akan mengukuhkan formasi ini sebagai solusi terbaik pada waktu itu. Bahasa politiknya, perkaderan bisa menang, meski hanya untuk satu periode.

Siapa sangka, kalau pergerakan HMI periode 2005/2006 adalah buah karya orang-orang seperti Anto yang tak pernah mau memperlihatkan kedigdayaannya di depan publik. Namanya memang tak tertulis di release koran. Ia juga tak pernah memimpin aksi demonstrasi. Ia mahasiswa yang bisa berdamai dengan tanggung jawab akademisnya. Semua tahu, IPK-nya lebih dari cukup, buat nongkrong S2 di Melbourne, Coppenhagen, atau setidaknya Kebangsaan Malaysia. Kader HMI Cabang Sukoharjo tahu kalau mereka perlu bersatu dan kritis terhadap kondisi. Ini sebuah reputasi ideologis bentukan perkaderan internal HMI. Anto-lah aktor kuatnya.

Kala itu, HMI Sukoharjo memiliki Senior Course terbanyak se-Jateng-DIY. Kala itu, LPL terbentuk setelah mati lebih dari dua tahun. Kala itu, tim ideologi lahir untuk merekonstruksi buah pikir pemikir-pemikir Muslim. Kala itu, ada Cabang Award; penghargaan terhadap pihak-pihak yang berprestasi. Kala itu, semua administrasi kaderisasi menemukan pawangnya. Tentu, ini prestasi yang mengagumkan. Bersama rekan-rekan yang lain, Anto ingin menegaskan kepada publik untuk menghargai diri sendiri—bahwa kita memang bisa berarti—tanpa harus nangkring menjadi Ketua Umum Cabang.

Anto memang tak pernah muluk-muluk. Dulu, waktu Komisariat AD II hendak melahirkan Psikofar, ia hanya tersenyum simpul waktu aku teriak, “Saatnya merdeka.” Saat para pengurus pertamanya enggan bertandang ke komisariat, ia nekat tidur sendirian di sana. Bahkan, ia pernah bangga berujar padaku bahwa malam Minggu adalah waktu yang oke buat membaca. Kalau aku datang padanya menawarkan banyak hal, ia paling doyan bilang, “Terserah Elo, Rif. Gue percaya aja.” Hmm.. kepribadian simpel di mataku.

Ia sangat menghargai privasi. Baginya, kebebasan individu untuk bersikap harus dihargai, bahkan saat ia ingin sendirian; mengunci diri di kamar. Tapi, saat ia pamitan di Konfercab V, ia berkhotbah kalau kader HMI harus integrated. Artinya, ia tak menyetujui pola-pola kader HMI yang sering memisahkan antara kepentingan pribadi dan organisasi. Ia tengah membicarakan paradoksi di HMI. Ia tak ingin, kalau HMI hanya diisi orang-orang yang pandai bicara moralitas, sedangkan pada praktik kesehariannya, mereka justru tak bermoral.

Pidatonya di pelantikan Psikofar lebih spektakuler lagi: “HMI adalah komunitas pinggiran yang menggelisahkan penguasa. Sekretariatnya berada di pinggir-pinggir kampus, menandakan kalau ia bukan penduduk kampus, tapi sangat berkepentingan terhadap kampus. Bila kampus tak memerankan tanggung jawab sebagaimana mestinya, ia harus siap-siap berhadapan dengan HMI. Kader HMI harus tahu apa yang akan ia perbuat. Artinya, ia harus sadar mengapa ia ada di sini, dan tahu akan menjadi apa di HMI. Kalau tertarik marxisme, jadilah Marxis yang baik. Kalau menyukai Freud, jadilah Freudian yang gigih. Kalau berniat menjadi insan kamil, jadilah generasi Muslim yang tangguh.”

Terakhir, ia berpesan padaku, “Elitisme, mementingkan diri sendiri, dan pola-pola manja harus dienyahkan dari Psikofar.”

***

Ah, sudahlah. Anto hanya kilasan sejarah yang tak akan pernah kembali. Ia juga bukan manusia yang tanpa cacat. Di masanya, ia rela bersekutu dengan Marlboro, meski kita sering berbicara tentang penjajahan neoliberalisme. Ia bangga dengan reputasi Bettencourt—gitaris band heavy metal, Extreme—meski kita sering menyisir autentisitas pemikir negeri ini. Habermas, Iqbal, Plotinus menjadi akrab di telinga kader-kadernya, meski ia perlu untuk menjura di depan pengurusnya tentang Psikofar yang tak berarti apa-apa tanpa kepercayaan diri mereka untuk mengaku sebagai pengurusnya. Ya, kapasitas intelektual Anto tak sebanding dengan kemampuannya untuk menjadi sosok yang layak dipercaya sebagai pemimpin.

Artinya, kalau aku berharap, Anto-Anto baru akan muncul di sini, aku telah berubah menjadi ‘fundamental’. Aku ahistoris. Sebab, sejarah tidak akan bisa terulang persis. Hidup akan terus dinamis dan membutuhkan tafsir serta eksekusi yang berbeda. Semua zaman memiliki pahlawan dan setiap generasi memiliki ego yang harus diperjuangkan. Sederhana saja, mereka ingin menjadi apa di HMI, dan ingin menjadi apa kelak? Ya, Just to be. ***