Search and Hit Enter

Unconditionally

Kalau Jepang harus menyerah tanpa syarat kepada sekutu, karena Hiroshima dan Nagasaki telah luluh lantak, tentu bukan perkara sulit. Meski Indonesia telanjur mendamba kemerdekaan pemberian ‘saudara tua’ atas nama Pan Asia, juga dengan jutaan rakyat yang disiksa karena romusha, berbagai tempat di negeri ini justru menyatakan perang terbuka pada penjajah Jepang. Bagi beberapa kalangan, Jepang tetaplah penjajah kejam yang telah menyengsarakan rakyat banyak. Belum lagi, tentang cerita mengerikan para mantan ‘budak seks’ tentara Jepang yang baru direspons pemerintah Jepang belakangan ini, dengan menyampaikan maaf sebesar-besarnya. Dengan tekanan publik internasional, tentunya.

Kalau Abdurrahman bin Auf memberikan banyak hartanya tanpa syarat untuk kejayaan Islam, tentu bukan hal sulit. Pada level ini, sahabat Nabi tersebut, memang telah tertempa bermacam siraman ruhani mumpuni dan jauh dari campur tangan politik kotor yang justru menenggelamkan Islam pada kondisi mengenaskan. Meski tidak menomorduakan kedermawanan itu, bagiku, Nabi yang masih hidup ketika itu tetap layak dianggap sebagai anugerah yang tiada terkira; faktor penting mengapa banyak orang baik.

Kalau ibu mengasuh anaknya tanpa syarat, tentu bukan wacana baru. Jutaan pengabdian sang anak padanya, tak akan dapat membayar setiap tetes darah yang pernah ia jaga untuk membesarkan buah hatinya. Tak ada alasan untuk meniadakan peran ibu sebagai sebab lahirnya seseorang ke dunia ini. Andai seseorang mengingkari ibunya, sama saja dengan ingkar pada sebab utama; Tuhan.

Kasih ibu kepada beta

tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi tak tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia

Kalau banyak orang miskin di negeri ini yang ternyata justru lebih dermawan, tentu bukan hal aneh. Bagaimana ia tak ringan tangan, bila setiap harinya, ia juga selalu kesusahan? Serba kekurangan membuat mereka berada pada titik suci pemberi sesama, dengan satu kelebihan ekstra. Ya, memberi tanpa syarat apa pun. Bangsa ini sebenarnya bukan bangsa yang rakus, bila tak dikuasai oleh orang-orang yang serakah. Dedikasi mereka bukan paksaan, tapi penuh keridhaan. Semua hal dapat diselesaikan dengan mudah dan cepat bila menempatkan kebersamaan pada tempatnya.

Bagiku, hidup yang penuh dengan ‘tanpa syarat’ justru menghilangkan banyak tendensi menyiksa. Bukan tak mungkin, semua keragu-raguan itu justru berubah menjadi mesin pembunuh efektif jiwa dan raga manusia, tanpa sempat untuk dipikirkan sebelumnya. Semua hal menjadi ringan dengan kenikmatan pengadaan sesuatu yang tanpa syarat. Memberi tentu membuat seseorang semakin merasa kuat dalam hidup, lantaran dapat menjadi arti bagi orang lain. Keuntungan ini tak lagi dapat terukur. Bahkan, tak dapat ditukar dengan apa pun. Sampai kapan pun, spirit untuk terus bertahan, jelas lebih penting daripada metode untuk bertahan. Tanpa semangat untuk melaju, serba-serbi dunia hanya tampak sementara dan tidak layak disandari banyak harapan.

Pola tanpa syarat juga memberi arti dinamisasi yang kental. Dengan tanpa syarat, seseorang akan terus menciptakan kreasi, tanpa terlalu menengok dan menghitung masa lalu. Karena ia tidak terlalu berkepentingan pada masa lalu (apa yang telah ia perbuat), ia tidak akan merasa terbebani untuk mengarungi masa depan. Maksudnya, orang yang berpikir tanpa syarat akan lebih siap berhadapan dengan hal-hal baru. Ia akan menikmati perubahan dengan caranya sendiri.

Tanpa syarat sama dengan mengabdi. Abdi itu budak. Budak tentu hanya berkepentingan melayani, tanpa terlalu mempersoalkan tuntutan. Setiap kali seseorang berparadigma tanpa syarat, ia akan melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati, lantaran ia tidak terlalu banyak berhitung. Setelahnya, bila gagal, ia juga dengan proporsional menghadapinya. Wajar saja, sebab mental tanpa syarat akan berefek pada pemahaman, bahwa semua ini memang telah waktunya terjadi.

Keberhasilan seseorang untuk berperan tanpa syarat sangat dekat dengan berserah diri kepada Allah. Tak peduli pada timbal balik justru memberi peluang tawakal yang tak terkira. Seseorang akan tenang menjalani hidup, tanpa beban pikiran yang terus mengejarnya, karena salah kira atau salah tebak. Hidup menjadi sederhana, meski dengan kompleksitas yang sangat. Sekali lagi, ia telah waktunya terjadi.

Terakhir, pola tanpa syarat akan menggiring seseorang pada keikhlasan. Hidup jelas tak mungkin bebas nilai. Maksudnya, semua telaah tentang hidup yang tanpa syarat tetap saja akan bermuara pada kepentingan: ridha-Nya. Kepentingan pada Tuhan tentu berbeda dengan kepentingan atas apa pun selain-Nya. Dialah yang layak disandari kepentingan dan nilai. Ya, tanpa syarat… unconditionally.