Search and Hit Enter

Selalu Ada

Foto: imgur.com
Foto: imgur.com

Seumur hidup, keluargaku tak pernah berkumpul di satu tempat, lebih dari sebulan. Aku terbiasa dengan kesebentaran yang tak bisa lagi ditolak. Wajar saja kalau kemudian, terlalu banyak standar di kepalaku. Sebab, dari dulu, tak pernah ada pesan moral yang merapat di cara hidupku. Kalaupun melintas, tensi dan durasinya terlalu singkat; berbeda dengan kawan curhatku yang pandai mengatur suasana hatiku; berbeda dengan guru ngajiku yang berjasa memberiku bekal berislam; berbeda dengan guru SD dan SMP-ku yang rela memprivatku, tanpa bayaran khusus.

Kelas V SD, aku mulai suka perempuan. Sewaktu itu pula, aku telah dapat merasakan indahnya lantunan Said I Love You But I Lied-nya Michael Bolton, tak seperti anak-anak lain yang lebih suka main kelereng atau petak umpet. Rekaman video klip yang penuh api dan kuda berlari itu terus aku ingat hingga kini. Setelah besar, aku baru tahu, kalau lagu itu memang masterpiece.

Aku juga telah suka menulis dan membaca. Surat menyurat sahabat pena juga aku pilih sebagai identitas ningrat. Imajinasiku tertata rapi, dan aku telah memiliki dunia ideal yang dari dulu memang aku damba-dambakan. Dunia yang kumaksud bukan dunia materi atau identitas yang merepotkan itu, tapi dunia tempat di mana aku selalu merasa dipenuhi jiwa petualanganku; tanpa ada hambatan sedikit pun.

Pada masa SMP, aku telah akrab dengan band-band gila-cerdas seperti Nirvana, Smashing Pumpkins, atau Chemical Brothers. Bagiku, mereka tampak berbeda dari yang lain, dan aku menyukainya. Jelas aku tak bisa turut bernyanyi bersama mereka, lantaran kursus Inggris yang hanya ada di kota-kota besar. Hidup di kampung juga tak memberiku ruang untuk membicarakan semua ini kepada orang lain. Praktis, aku memilih untuk berdiam diri dan menikmati semuanya dengan sedikit yang kutahu.

Sinetron Jepang Tokyo Love Story dan The Ordinary People juga memberiku kesan kuat tentang bagaimana tepatnya memandang lawan jenis. Rika Akana yang mandiri atau Narumi yang dewasa membawaku pada persepsi tentang perlunya aku pada perempuan yang matang. Hasilnya, selama itu, aku tak terlalu tertarik dengan cewe-cewe keren yang lebih memilih rileks dalam menjalani hidup.

Semasa SMA, aku benar-benar drop. Tiga tahun yang buruk, dan menyisakan kengerianku akan inferioritas peran. Waktu itu, aku doyan berkongsi dengan banyak orang sekadar untuk mengingini identitas. Sepertinya, aku tak percaya diri pada karakterku yang pernah aku pegangi hampir 10 tahun sebelumnya. Aku sangat terpengaruh cara pandang banyak orang, dan melupakan dunia ideal yang pernah aku maui. Entah apa yang telah kuperbuat selama itu.

Aku bukan jagoan, tapi aku pernah juga tawuran. Aku bukan yang paling pintar, tapi banyak anak yang berharap pada jawaban ujianku setiap kali mata pelajaran bahasa Inggris digelar. Aku tak terlalu terkenal, tapi semua dedengkot sekolahan pasti mengenalku. Aku bukan playboy, tapi aku pernah jibakui cewe yang aku taksir, sampai harus bergulung-gulung di aspal hot mix alias kecelakaan sepeda motor. Parahnya, belum lagi aku tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi, ia telah berbonceng ria dengan cowo yang tentu, jauh lebih keren dariku.

Sebenarnya, semasa SMA, aku telah banyak menulis. Tapi, aku hanya bisa mengirim banyak cerpenku ke MOP yang dusun itu. Sisanya, masih aku simpan sampai sekarang. Bagus juga. Setidaknya, dalam semua keterpinggiranku atas apa pun, aku masih sempat untuk membangun dunia idealku dengan tulisan. Barangkali, karena tulisan itu pulalah, aku masih dapat menatap indahnya dunia, hingga kini.

Kuliah sedikit menyembuhkan banyak penyakitku di masa lalu. Filsafat, tulisan, politik, koloni, dan sederet wacana sakti membangun pencitraan khusus atasku. Aku pernah terlena, naik daun, terjatuh, tidak disukai, diancam, dicintai, dirindukan, ditinggalkan, ditipu, dikhianati, dikerdilkan, dicampakkan, dipuji, dimaki, dikesampingkan, diagung-agungkan, dikeramatkan, direndahkan, dan didoakan.

Selama itu pula, aku hanya punya buku untuk ditulisi, komputer untuk dicurhati, beberapa kawan untuk ditumpahi persoalan, dan… Tuhan. Ibuku terlalu karismatis untuk kuadui banyak keluhan, meski aku tak pernah canggung untuk memeluk atau menciumnya. Saudaraku terlalu sayang untuk kuratapi banyak hal, meski aku selalu luangkan banyak waktu untuk saling meledek kelemahan masing-masing. Simpel, aku punya kesendirian, tapi semua tim di sekitarku sangat tangguh. Barangkali, karena itu pula, aku lantas dapat bertahan di banyak tempat, tanpa mengurangi tensi harmonisku pada semua orang yang aku cintai.

Aku membutuhkan banyak hal. Aku merindukan banyak hal. Aku menuntut bermacam garansi hidup. Aku sangat mendamba kesempurnaan. Aku selalu merintis kemandirian pikir. Aku jelas menginginkan sandaran. Aku jelas menginginkan dukungan, dan pengingat sadarku yang harus tetap terjaga sampai kapan pun. Namun, aku hanya butuh kepercayaan dan kemengertian. Dua hal itu membuatku selalu ada di mana-mana. Keduanya juga kuingini selalu ada dalam hari-hari dan masa depanku, tanpa sedikit pun meninggalkanku.