Katakan Saja

Konon, Sigmund Freud, kakek moyang psikoanalisis, menyisakan pertanyaan yang tak pernah bisa ia ungkap semasa hidupnya. Hingga meninggal, ia tak pernah tahu apa yang sebenarnya diinginkan kaum perempuan. Bagaimana mungkin, tokoh yang sangat menjunjung tinggi ekspresi libido itu justru harus banyak berpikir tentang keinginan perempuan? Bukankah dengan banyak ekspresi, keinginan untuk mengetahui semua seluk beluk perempuan akan dapat ia ketahui?

Keterbukaan ternyata bukan hanya perkara ‘menyampaikan’. Selain penyampaian juga bukan satu-satunya hal yang dapat dipilih untuk berkomunikasi, dalam melakukan penyampaian juga dibutuhkan standar khusus. Gaya ekspresifku akan bungkam saat mimik teman bicaraku justru malahan canggung. Komentar balikku tiba-tiba menurun ketika banyak orang yang tak suka. Bahasa tubuhku akan aku simpan pada waktu semua orang seperti tengah memaksaku untuk diam.

Setelah 30 tahun, data CIA baru dibongkar dan dibeberkan ke publik luas. Aturan ini untuk menunjukkan prestasi agen rahasia itu dalam bekerja, meski dalam tempo yang sangat lama. Sebagai data base penting, tak mungkin semua rahasia itu disampaikan kepada khalayak ketika peristiwa yang dimaksud baru saja terjadi. Selain dianggap ceroboh dengan membuka rahasia sebelum waktunya, langkah-langkah mereka untuk menyelesaikan persoalan juga akan semakin terbaca. Pola ini jelas model komunikasi yang terencana. Di sana ada cara yang mensyaratkan hal berbeda, bukan hanya pesannya.

Seseorang terkadang lebih menyukai masa lalu ketimbang masa kini, atau masa depan yang masih suram. Ia beranggapan, masa terbaiknya adalah masa yang tak pernah ia masuki lagi. Bagi mereka, di sana ada kesempurnaan persepsi karena tak dapat mereka jalani kembali. Momentum masa lalu menjadi sangat indah dan berkesan, hanya karena ia telah terjadi. Ketidakmampuan manusia untuk kembali di zaman itu memaksa mereka untuk semakin merindukan semuanya. Jadi, membicarakan masa lalu tentu lebih menenangkan ketimbang berspekulasi tentang banyak hal di masa depan.

Berkata juga hal sulit. Coppernicus tewas dieksekusi mati oleh Vatikan karena menyatakan bahwa bumi itu bulat, bukan datar seperti yang tercantum dalam Bibel. Al-Hallaj dilempari batu hingga mati karena mengatakan penyatuan dirinya dengan Allah. Widji Thukul, seorang penyair miskin dari Solo, yang menyatakan akan hancurnya kekuasaan Orba dalam waktu singkat menjelang 1998, hilang tak ada rimbanya. Beberapa orang yakin, ia diculik dan dibunuh penguasa.

Setiap masa dipenuhi bermacam perkataan yang kejam dan membahagiakan; yang sedih dan menyenangkan; yang absurd dan sangat terang-benderang. Apa pun itu, berkata-kata tentu adalah hal penting. Perkara bahwa menyampaikan perkataan mesti menggunakan banyak cara, itu hal lain. Pada prinsipnya, menyampaikan keinginan tetap saja merupakan syarat final kebebasan fitrah manusia.

Aku memang sangat suka mengira-ngira, tapi saat semua kalkulasiku buntu, aku akan mengaku, bahwa semua ini tak pernah aku mengerti. Aku memang lebih suka bahasa tubuh, ketimbang obral bicara yang tak banyak hikmah, tapi saat prasangkaku tak menemukan wadahnya, aku semakin tak tentu arah. Banyak juga kesalahan dalam hidupku yang lahir dari kira-kira tak akuratku itu.

Aku mendamba keterbukaan, tapi hanya untukku. Aku tak malu untuk bicarakan banyak hal, bila semua memang hanya untukku. Sedikit narsis, menginginkan kemengertian yang sangat, dan mengigaukan perhatian khusus. Aku melirik realitas dengan ketegaranku akan keterbukaan, yang terkadang tak terlalu aku suka. Ia menata hidupku lebih terarah, meski banyak hal tak dapat aku raih. Pastinya, berkata lebih aku nantikan… bila hanya untukku, dan meski mungkin, tak terlalu nyaman untukku.