Search and Hit Enter

Ridha

Sebetulnya, aku terlalu sering untuk tak sepakat pada sistem; apa pun. Pada level episteme, aku bukan termasuk orang yang gampang berkompromi. Apa pun motifnya, aku benar-benar tak menyukai kemapanan pikir, dominasi, atau penerimaan sesuatu yang apa adanya tanpa proses pemahaman memadai. Apalagi, menurutku, semua itu memang prinsip. Artinya, ia bukan kebutuhan lagi, tapi jalan hidup. Aku selalu merasa perlu untuk melawan, menyuguhkan antitesis, berkerling, skeptis, sedikit merendahkan, dan tentunya merasa superior.

Anggapanku, stabilitas selalu menyisakan kepicikan. Kreativitas menjadi mati dengan ‘selesainya’ hasrat pikir. Aku beranggapan bahwa lahirnya status quo adalah buah karya mental stabilitas; keinginan untuk selalu merasa cukup dan selesai. Padahal, tak ada yang pernah selesai di muka bumi ini, kecuali Tuhan.

Lebih jauh, mental ini lantas membuat seseorang untuk yakin dan berniat pada pengebirian kebebasan orang lain. Sebab, ia tak nyaman kalau terus-terusan dirongrong. Pada akhirnya, perbedaan pun dianggap sebagai sampah dan penyakit. Sepertinya, tak ada tempat untuk pluralitas, kemajemukan, perbedaan, heterogenitas, sikap berseberangan, dan kritisisme. Menurutku, pola ini sangat tidak manusiawi. Jelas tak ada kebebasan di sana. Bukankah manusia dilahirkan untuk bebas dengan segala fitrahnya? Tentu saja, yang kumaksud bukan bebas individual tanpa ketentuan. Tapi bebas untuk berkehendak apa pun sebagai fitrah.

Masalahnya, sering kali semuanya nihil. Aku terlalu jumawa dengan semua nilai yang aku yakini. Aku merasa nyaman dengan legitimasi moral yang hanya aku ciptakan sendiri. Aku sok moralis. Aku hanya sedang berdiplomasi; tak lebih. Ya, sekadar tampak sebagai muka pemberontak, tanpa cukup lisensi perlawanan. Standarnya pun masih simpang siur. Ya, sekadar berbeda.

Aku pun kadang terengah-engah dengan nafsu counter-ku yang susah untuk ditengarai motif ilmiahnya. Sekali lagi, kerendahan pemahamanku soal sistem sangat telak mengosongkanku. Aku seperti tampak kasat mata hanya saja tak benar-benar berarti. Semestinya, aku perlu meninggikan etos search engine-ku. Ya, biar semua kelakuanku bisa dipertanggungjawabkan.

Ternyata, tak semua orang bisa mendandani semua bingkai realitas yang aku bangun. Aku kesulitan menangkap kerja sama mereka hanya karena aku tak pernah bertanya, apakah mereka nyaman dengan semua ini. Pantas kan, kalau kemudian ada jarak komunikasi yang sulit untuk lumer, hanya karena kekhawatiran yang tak perlu? Wajar kan, kalau kemudian, semua selalu tampak dinamis di mataku tanpa ada wujud nyatanya? Semua indah, tapi aku tak pernah melihat bukti nyatanya.

Ridha memang perkara sulit. Ia dapat dimengerti, tapi sulit dijelaskan. Andai semua tak terjembatani, ridha menjadi hal penting untuk terus berbaik diri menjadi manusia. Andai semua tak sesuai yang diinginkan, ridha adalah pilihan bijak untuk berdamai dengan kenyataan. Ridha bukan tentang berbeda, juga bukan tentang identitas berbeda. Ridha mensyaratkan kesepakatan dan kemengertian yang luar biasa, meski dalam radius sekian, barangkali, tak akan banyak yang bisa diungkap tentang sesuatu.

Ridha bukan pula klaim sepihak. Aku tak dapat serta-merta berujar tentang pinta atau ingin yang sepertinya sangat aku tahu, padahal aku pun masih mengira-ngira maksud semua itu. Aku tak dapat menganggapnya semua wajar, kalau saja tak ada penjelas khusus tentang kewajaran itu. Artinya, ridha adalah pengakuan. Ia memberi peluang kebebasan, meski bahkan, rasio tak dapat menjawabnya. Ada ungkapan resmi tentang sesuatu, bukan hanya angan atau kira-kira semata.

Ridha berfinal pada kenyamanan, bukan ketidakterimaan yang tak berkesudahan. Walau sepintas tak banyak yang menyetujui sesuatu, ridha akan menjadi pra syarat penting untuk menyelesaikan persoalan. Berbagai kekhawatiran, ketidakpuasan, keinginan untuk marah, penuntutan, jelas bukan efek dari ridhanya seseorang. Kezaliman yang menumpuk menjadi dendam dan kezaliman lanjutan tentu bukan pula efek keridhaan.

Aku cukup wajar ketika harus mendahulukan semua hal pada koridor ridha. Sebab, andai barangkali, aku tak terlalu menyukai banyak hal, dengan ridha, kesalahan yang menurutku sangat telak akan dapat sedikit dinegoisasikan. Aku bukan meniadakan punishment, atau menganggap semua keburukan mesti diridhakan. Aku hanya berkeinginan, menyentuh masa depan dengan kekuatan ridha yang menurutku, akan bermuara pada keadilan.

Telah cukup banyak orang yang bertipikal kritis, tapi justru destruktif. Kalau tak berkenan menjadi agresor, mereka akan berubah menjadi destroyer. Parahnya, status ini sering naik pula menjadi predator. Agresor selalu bernafsu untuk menyerang, tanpa berpikir baik-buruk. Destroyer sangat berkeinginan menghancurkan orang lain, hanya karena dianggap rival yang kuat. Sedangkan predator muncul lantaran ia telah khawatir pada rongrongan orang lain. Apakah hidup seperti itu dapat dikatakan nyaman? Padahal, problem solver-lah yang dibutuhkan banyak orang. Intinya apa? Tawarannya apa? Maunya apa? That’s all.