Search and Hit Enter

Wisma Mumpuni

Foto: Monday Flash Fiction Blogspot
Foto: Monday Flash Fiction Blogspot

Ramadhan 1427 pukul 02.00 dini hari…

Aku pindahan kos. Semalam ini, aku bolak-balik entah berapa puluh kali. Setiap kali pindahan, aku baru sadar, kalau ternyata aset dan propertiku semakin bertambah banyak saja. Anehnya, aku tidak pernah mengenali barang-barang itu. Kaos itu… aku temukan di lemariku sewaktu masih kontrak bareng anak-anak Salman. Aku tak tahu, sebenarnya kaos siapa yang sering aku pakai ke mana-mana dengan PD itu. Parahnya, tak pernah ada yang pernah mau mengakui sebagai pemilik sahnya. Celana itu… aku temukan ada di lemari belakang sewaktu aku bercokol di Cabang. Anehnya, aku sering temukan setumpuk celana, tidak hanya satu.

Sepatu itu… jaket itu… tape itu… lukisan itu… buku itu… foto itu… lemari itu… kaset itu… rak buku itu… sprei itu… karpet itu… semuanya!

Praktis, setelah berpindah-pindah dari satu kos ke kos lain, lantaran aku sering kontrak rumah, barang-barang di kamarku tiba-tiba membludak drastis. Setiap ada yang bertandang, dan tak sempat membawa pakaian, pasti aku kasih. He he… aku tampak baik, padahal semua itu bukan punyaku. Aneh juga, kenapa banyak orang yang doyan menitipkan barang padaku, dan lupa mengambilnya kembali?

Aku baru ingat, selama ini, aku tak pernah sekalipun belanja pakaian. Sebesar ini, ibuku masih suka ribut kalau urusan baju. Segede ini, banyak orang yang suka menghadiahi aku pakaian dan makanan pantas pakai. Pfuh… mungkin, aku pantas mendapatkannya. Susah juga kalau mengelak. Apalagi, aku kan paling tak suka ganti-ganti baju. Capek nyucinya!

Sayangnya, tak ada orang yang pernah mau menitipkan padaku laptop kerennya, mobil, HP, LCD, modem, ISP, tiket beasiswa, formulir nikah, atau setidaknya, daftar orang baik. Seringnya, aku hanya temukan sepotong processor yang keren, tapi jelas tak berguna. Seringnya aku temukan casing HP yang jelas tak aku minati. Syukur-syukur, aku temukan buku kenangan atau buku telepon. Lumayan, aku bisa bergerilia kenalan, tanpa harus mengenal mereka terlebih dahulu. Sst… aku pernah mencobanya. Hasilnya, seorang janda muda beranak satu mulai memenuhi hari-hariku. Syukurlah, dengan sedikit keterangan, aku bisa menyelesaikannya. Setelahnya, aku superkapok.

Kos baruku berukuran besar. Meski demikian, tak banyak penghuninya. Ada dua pintu utama. Pertama, pintu khusus tuan rumah. Kedua, pintu garasi tempat keluar masuk penghuni kos. Garasinya besar. Aku bayangkan, tiga Pajero pun muat, dengan 10-an motor. Persis di samping garasi, ada kompleks I dengan empat kamar besar. Mungkin, lebih dari 5 x 3 meter. Banyak yang sudah berkeluarga. Rata-rata pasangan muda. Setiap kali melewatinya, aku pasti agak sungkan. Soalnya, mirip apartemen, dan risih juga kalau salah-salah lihat.

Kompleks I dibatasi oleh sumur dan kamar mandi yang juga berukuran besar. Jadi, setelah melewati garasi, ada pintu penghubung dan koridor yang lumayan jauh. Mungkin, 15 meteran. Apalagi, sekat itu memiliki dua pintu: masuk dan ke luar. Sumur menjadi tempat khusus di samping semua kompleks yang ada, tidak menjadi satu. Ada dua kamar mandi di depan dan empat sisanya di belakang. Kamar mandi ini juga tidak disatukan.

Memasuki kompleks II, tempatku, berderet kamar dengan format bangunan letter U. Empat kamar berderet di kanan dan kiri dan lima kamar menghadap pintu masuk. Di tengah letter, ditanami pohon pisang, rambutan, obat-obatan, plus tempat mencuci. Hanya empat kamar yang terisi. Nyaman sekali rasanya. Walau besar, tapi at home. Sedangkan kompleks III agak terpisah. Di sana, ada dua kamar dengan pintu khusus. Kompleks ini sudah agak lama kosong, tak berpenghuni.

Di kosku yang baru, cewe bukan muhrim tak boleh masuk, penghuni tak boleh gondrong, harus kumpulkan KTP, dan semua orang punya kunci khusus garasi. Baru kali ini aku punya kos serigid ini. Baiknya, semua jadi aman. Aku biasa meninggalkan kamar dengan kondisi masih acak-acakan, tanpa ada satu pun barang yang kemudian terdengar hilang. Semua penghuninya telah lulus kuliah, minus Kukuh. Jadi, benar-benar mirip apartemen. Serasa di Paris.

Dini hari itu, bersama Kukuh Wahyu Jumeneng, seorang kawan loyal, aku masih sibuk menata kardus-kardus dari garasi ke kamarku; berjarak lebih dari 30 meter. Aku ingat persis, malam itu juga, aku baru saja nikmati makian-makian seorang kawan yang menganggapku munafik. Ia begitu marah, waktu semua yang pernah aku katakan, tak berbanding lurus dengan kelakuanku, yang ternyata, sama binalnya. Bayangkan, badan secapek itu, pikiran selemah itu, ibadah Ramadhan yang belum tuntas, akhirnya memaksaku agak meratap. Huh, hari yang berat bagiku. Belum lagi, aku harus bangun pagi untuk Era Intermedia.

Gedebruk!!

Aku dan Kukuh saling pandang. Kukuh bergegas ke kompleks sumur. Aku mengikutinya. Ya Allah, ternyata…

Aku lihat ibu kos terkapar mengenaskan. Sepertinya, ubin yang ia lewati terlalu licin. Ya, ia terpeleset. Usianya lebih dari 70 tahun. Kudengar, ia merintih pelan, meminta padaku untuk membangunkan bapak kos. Sebenarnya, aku hendak membopongnya ke dalam rumah, tapi ia menolaknya. Ia hanya mau dibopong suaminya. Hem, iri juga rasanya. Sepintas kupandangi, meski telah keriput, ia masih tampak cantik. Saat kusentuh kulitnya, aku rasakan pengabdian yang sangat di masa lalu. Saksi tentang indah dan ngerinya dunia.

Aku berlari ke dalam rumah. Kubangunkan bapak kos segera. Dengan sedikit upaya, ibu kos pun telah berada di kamarnya. Tentu dengan berpayah-payah. Aku dan Kukuh hanya dapat membantu seperlunya. Ya, di rumah sebesar ini, mereka hanya berdua. Entah ke mana anak cucunya.

Aku termenung sesaat. Tapi, malam yang penat tak memberiku ruang untuk banyak berpikir. Sepertinya, Kukuh pun merasakan hal yang sama. Beberapa jam terakhir, aku tak banyak bicara. Benakku masih sibuk bertanya, mengapa malam ini terasa sangat berat.

Esok harinya, aku dengar, ibu kos masuk rumah sakit. Menurut bapak kos, beliau memang telah sering keluar masuk rumah sakit. Bahkan, telah puluhan tahun yang lalu. Bapak kos juga mengeluhkan biaya rumah sakit yang semakin mahal saja. Dan setelah beberapa hari, aku pikir, semua akan baik-baik saja. Ternyata, aku salah kira. Ternyata, ibu kos meninggal dunia.

Kali ini aku benar-benar termenung. Kenangan dini hari itu sangat kuat di kepalaku. Aku bisa merasakan kekuatan cinta aneh yang tak pernah terlintas di anganku sekalipun. Untuk ukuran pasangan selanjut itu, mengurus aset kos sebesar ini tentu bukan perkara gampang. Betapa hari-hari mereka memang habis diisi bersama-sama. Tak ada lagi keperkasaan fisik, tak ada lagi kegagahan masa lalu, tak ada lagi kejayaan identitas. Mereka hanya punya kebersamaan, untuk mengerti dan dimengerti. Apalagi kalau bukan cara mereka mensyukuri semuanya. Ya, aku suka cara mereka bersyukur.