Search and Hit Enter

Desaku yang Kucinta

Berangkat mengaji. (Foto: Kaskushootthreads Blogspot)
Berangkat mengaji. (Foto: Kaskushootthreads Blogspot)

Azan shalat Subuh terdengar sayup-sayup dari surau kecil di pinggir desa. Ukhti Khadijah bangun dan bergegas ke kamar kecil di belakang rumahnya. Maklumlah, di desa terpencil seperti ini, rata-rata kamar mandi memang terpisah agak jauh dari rumah.

Di luar, jalan utama kampung masih senyap. Beberapa perempuan lanjut usia tampak keluar rumah untuk menunaikan Shalat Subuh berjamaah.

Entah sudah berapa bulan lamanya, potongan tulisanku yang ini tak pernah sanggup aku selesaikan. Awalnya, aku berkeinginan untuk membangun realitas tentang indahnya hidup di desa dengan segala kesahajaan dan keberadabannya. Tak penting maksud tulisan ini akan ke mana. Sebab, aku hanya ingin memilih untuk bahagia, meski sebenarnya aku tengah vis a vis dengan segala citra global yang selama ini dekat dengan modernisme, kosmopolitan, dan permisif.

Sepertinya, aku memang harus mengawali semuanya. Desa yang kumaksud tentu bukan desa harfiah yang banyak dikelilingi sawah menghampar, gunung tinggi yang sopan, kebersamaan yang dirindukan, feodalitas yang tak jumawa, atau komunikasi yang berdedikasi. Desa di alam pikirku adalah senyum tulusku untuk ingar-bingar konflik horizontal, tanda aku perlu menyambanginya, meski tidak serta-merta menyelesaikannya. Desa di benakku adalah sunggingku untuk kebencian antarsesama atas apa pun, tanda aku wajib menyapa mereka, meski tidak serta-merta menenangkannya. Desa yang kudamba adalah kenyamanan jalan hari-hariku yang benar-benar berarti.

Sepinya desa yang kuinginkan mewajarkan perlunya merenung, tanpa ada eksekusi baik-buruk terus-terusan atas semua ulahku yang kadang tak proporsional. Ia memaklumi semua alpaku, andai aku tak tetap di jalur yang benar. Ia mengerti kecemburuanku atas dominasi sesuatu, yang bisa jadi membuatku tak tenang. Ia menjelaskan kegigihanku untuk pada temponya, agar tidak terburu nafsu dan bahkan, kehilangan daya. Sebab, semua hal ada tahapannya.

Jamaah Subuh yang kuadukan pada semua orang adalah inginku tentang ketaklukanku atas pentingnya menyimpan ego generasi; bahwa aku jelas membutuhkan kebersamaan, meski barangkali semuanya belum tampak nyata. Ya, Subuh menjembatani ideku di malam hari dengan kenyataan di siang hari. Dengan Subuh, aku tak tergopoh-gopoh menyongsong hari, hanya karena aku tak sempat merencanakan semuanya. Dengan Subuh, aku tak melulu berkutat pada ide melangit, karena sebentar lagi, setelah Subuh, aku akan berhadapan dengan hari yang sesungguhnya, dengan segala dinamika yang terkadang, menyesakkan. Kalau aku bisa berdamai dengan kenyataan, jauh sebelum semua hal terjadi, aku tentu tak akan kebakaran jenggot, andai mungkin, semua tak sesuai yang diinginkan.

Perempuan lanjut usia yang kuingin adalah tentang akhir dunia; bahwa kefanaan adalah harga mati untuk realitas materi. Untuk menjalani hidup, kesadaran tentang akan berakhirnya semua ini jelas tak dapat dipandang sebelah mata. Aku mendamba ketuaan dini yang mengingsutkan semua hawa eksistensiku ke ranah yang benar; supaya aku tak lagi gampang jenuh karena sesuatu, hanya karena aku tak direstui.

Di mataku, dunia ini memang tampak sangat pekat. Aku tetap khawatir, benarkah banyak orang baik di sana? Benarkah manusia tidak merendahkan manusia lain? Benarkah tak ada dengki? Benarkah tak ada penolakan atas kebenaran? Benarkah seseorang akan sulit menghargai orang lain? Benarkah kesan verbal tak terlalu penting? Benarkah kenyamanan sanggup tegak di atas kompensasi? Benarkah….

Aku meradang karena usahaku untuk memahami dunia ternyata sulit berbanding lurus dengan apa yang terjadi di depanku. Walau aku dapat mengerti, jiwaku tak bisa tenang. Kontradiksi ini justru menyiksa hari-hari dan tidur malamku. Resistensi ini wajib menempatkanku pada ‘menahan diri’ yang habis-habisan. Mengapa tak gampang-gampang saja memanjakan diri? Aku memang terlalu serius, tapi kalau manusia harus mengangkangi eksistensi orang lain, tentu itu lebih serius. Aku tak habis pikir, mengapa itu bisa terjadi. Seharusnya, tak harus selalu seperti itu, kan? Mengapa tetap saja selalu begitu?

Salahku tampak mengejar-ngejarku, bukan karena aku tak tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Aku tersiksa justru berusaha mendamaikan apa yang kupahami benar di satu sisi, dengan kenyataan yang sebenarnya tak terlalu benar di sisi lain. Banyak kompromi yang dapat kupahami dan kujalankan, tapi sangat merepotkan. Sekali lagi, aku tak tenang karenanya. Mengapa bisa begitu?

Kalau dibuat sederhana, barangkali kalimat lugas lebih menolong. Mengapa tak aku sampaikan saja kalau aku tidak berkenan? Mengapa tak aku katakan saja kalau mengerti itu ternyata menyakitkan?

Heh… pantasnya, aku perlu sadar, mengapa aku sering katakan kata mengapa? Ha ha… mengapa aku menjadi takut-takut? Mengapa aku ngeri dengan hal baru? Mengapa aku takut kalah? Ya… mengapa?