Search and Hit Enter

Tri Wijayanti Wied-Wied

Siluet Jilbab“Pinter amat sih jadi orang. Bener lho, aku pengin punya pacar mirip Mas,” kudengar Wied-Wied mengigau, suatu saat.

Aku terbahak keras. Wied-Wied temanku yang unik. Cewe mungil ini tak pernah mengkritikku keras, tapi ia paling tahu kapan harus tersenyum. Alasannya tentu bukan karena kapasitas intelektualnya yang di bawah rata-rata, tapi ia punya etika dan pola komunikasi yang terus ia jaga. Akhirnya, aku tak pernah menganggapnya buruk, meski mungkin banyak orang yang tak menyukainya. Bagiku, ia tetaplah cewe belia yang tak pernah tertarik beralis tinggi, apalagi berhasrat ‘membunuh’. Bagiku, ia lebih dari cewe biasanya yang mungkin, hanya tertarik adu kekuatan.

Aku sangat dekat dengannya, tapi aku tak pernah berpikir kalau ia perempuan. Ia pendengar yang baik, pandai membuatku tertawa, juga mengajariku kapan harus menempatkan gengsiku sebagai cowo. Bukan hal sederhana kalau tiap kali bertemu, ia paling sibuk memperhatikan penampilanku, cara bicaraku, cara tertawaku, atau sekadar membuatkanku secangkir teh manis yang sebenarnya aku tak suka. Ia takzim tanpa status apa pun.

Beberapa kali aku ke rumahnya bersama Iguh Rahardi. Pantas saja kalau ia begitu. Ibu Wied-Wied sangat menghormati ayahnya. Hingga usia senjanya, sang ibu masih menggunakan bahasa Jawa Krama Alus pada sang ayah. Beliau sering berfatwa pada Wied-Wied bahwa perempuan haruslah mengabdi, hormat pada laki-laki, dan bangga sebagai perempuan. Walau di dusun terpencil, Wied-Wied besar dengan sentuhan kosmopolit yang tetap tak melupakan akar budayanya.

“Wied, kamu ngga usah percaya sama cowo yang cuma jual mimpi. Kalo ada yang deket, tanya aja langsung, kapan ia bisa nikahi kamu. Kalo dia ngga bisa jawab, berarti cowo payah. Ngga usah dianggep.”

“Siapa sih yang deket sama cowo?” Wied-Wied agak malu-malu.

“Aku setuju aja sih kamu pacaran, tapi tanya langsung kepastian nikahnya. Tapi jangan lama-lama. Sama aja jual mimpi kalo begitu.”

“Ah, ngomongin apa, sih? Semuanya cuma temen, kok.”

Wied-Wied selalu begitu. Ia tak pernah PD dianggap dewasa olehku. Aku sadar kalau dia pasti berkeinginan sama semirip cewe-cewe seumurannya, tapi ia selalu tampak tak peduli saat bersamaku. Padahal aku tahu persis, ia sering malu-malu kalau harus bersimpang jalan denganku sementara ia sedang berduaan dengan seseorang. Atau tiba-tiba, ada yang bertanya, “Cowo yang sama Wied-Wied siapa?” Terang saja aku nekat membesarkan mataku, “MENEKETEHE!”

“Besok kalo udah pada nikah, kita bikin rumahnya deket-deketan, ya,” usul Wied-Wied garing.

Sempurna. Wied-Wied memang penganjur kebersamaan yang loyal. Justru itu yang kadang ia tampak tak beridentitas tegas. Ia terlalu lumer pada setiap hal. Walau tampak moderat, ia kesulitan untuk mengambil sikap bila tuntutan kondisi berlangsung sangat cepat. Di titik ini, aku bisa rasakan apa yang tengah dirasakan Wied. Mungkin, ia tengah kesulitan menyeimbangkan nilai yang ia yakini juga keinginan destruktif yang pasti juga ia punya. Meluncurlah ia dengan pedoman singkat, “So What?!”

Apa pun, Wied-Wied begitu perhatian padaku. Ia begitu tahu gelagat apa yang tengah menghantuiku. Walau ia tak pernah berinisiatif untuk menasihatiku, ia selalu tak rela bila aku justru tak lagi fighting. Wied-Wied mengajariku untuk dapat survive di tengah deruan citra yang mengharu-birukan keburukan seseorang.

Ia doyan menatapku dengan nanar mirip orang yang baru saja bangun tidur. Padahal, kalau pas dicuekin, aku tak pernah sadar kalau tiba-tiba, banyak semut mengerubutinya. Bukan, bukan karena dia manis. Tapi, banyak cemilan di kantongnya. Ia memang paling hobi memfasilitasiku dengan bejibun makanan enak. Kelebihannya, semua itu… GRATISAN. Ya… tentu pakai acara ngupil yang tak habis-habis itu. Dasar Wied-Wied.

“Wied, guru yang baik itu memang tak berpikir profit. Kalo tak punya uang, ia harusnya cari uang dulu, baru kemudian mengajar.”

“Setuju.”

Wied-Wied seorang FKIP.