Search and Hit Enter

Tradisi Besar

Foto: theplaidzebra.com
Foto: theplaidzebra.com

Dari dulu, aku sadar sepenuhnya kalau aku suka yang besar-besar. Ide besar, cita-cita besar di luar kemampuanku, akses besar, tradisi besar, hasil besar, juga semangat yang besar. Lantaran semua hal besar itu, aku kemudian terbiasa dengan pola hidup yang besar pula. Di batas ini, aku tak tertarik bersengketa dengan gagasan parsial tentang sesuatu. Bagiku, reputasinya bermasalah, terlalu membuang waktu, dan memancing hasrat khotbahku. Ide-ide yang tak menyulut aksi signifikan tampak kuyu di mataku. Ia melintas di benakku tanpa sedikit pun yang mampu mengisi relung episteme-ku.

Aku selalu meluangkan banggaku atas cita-cita di atas mampuku. Aku tak peduli kalau aku dibilang kemaruk atau loba. Sepertinya, aku tak perlu risih memindahkan jiwa inlanderku atas semua pranata sosial yang menurutku sangat kejam. Ya, semua berhak menentukan arah hidupnya, tak penting apakah dia Brahmana, Kesatria, Waisya, Sudra, bahkan Paria. Priyayi, Santri, atau Abangan hanyalah akal-akalan Clifford Geertz untuk meneguhkan penguasaan kolonial pada Hindia. Selayaknya ia berlaku di zamannya, bukan lagi di zamanku.

Akses yang kuladeni juga khusus. Aku sangat hormat pada cendekiawan. Maksudku, pendidik yang mengerti perubahan sosial, bukan pendidik yang berprofesi sebagai pengajar. Walau tak luput aku juga luangkan waktuku untuk para politikus, pebisnis, atau tokoh agama. Tapi tampaknya, tiga identitas sosial itu hanya dapat membingkai baju mereka menjadi elite, tanpa terlalu membesarkan porsi peran sosial mereka. Tanpa intelektual, mereka akan menjadi pembunuh efektif bagi beberapa kalangan yang barangkali sedikit berseberangan.

Tradisi besar yang kumaksud, tentu adalah egalitarian peran, moderasi sikap, pluralitas, inklusivitas, dan orientasi peradaban. Membaca akhirnya menjadi gaya hidup, bukan lagi kebutuhan, apalagi sekadar hobi. Beranalisis lantas menggiringku pada keharusan final tentang urgensinya. Tanpa analisis, aku akan sangat reaksioner. Menulis menjadi baiatku atas semua pahatan realitas yang aku jalani. Aku sulit bernapas tanpa membaca, berdiskusi, dan menulis.

Aku juga ngidam dengan hasil besar. Ya, aku perfeksionis. Meski dengan sadar aku sangat tersiksa, di batas apa pun, aku tetap berani menandaskan kesempurnaan yang aku maksud. Bila dengan sadar aku telah menjalani sesuatu, yang jelas-jelas bukan berstandar sempurna, aku serasa tak hidup. Aku sulit memaksakan diri untuk bergerak bukan atas mauku yang sempurna. Bisa jadi aku bisa saja berdamai, tapi itu tak akan bertahan lama.

Semangat besarku semakin membawaku ke idealitas alam bikinanku yang penuh kejutan, degup kencang, kekhawatiran, mereka-reka, dan letupan-letupan improvisasi hidup penuh manuver yang selalu membuatku belingsatan. Aku seperti menikmati semua ketidakpastian dengan caraku sendiri. Aku menjadi sangat betah untuk berlama-lama berhitung atas sesuatu yang sebenarnya, tak pernah aku mengerti. Aku hanya butuh semangat besar, untuk menjalani semuanya. Keringatku bisa jadi kering, tapi kepalaku tak akan pernah bisa aku kontrol, sepadan dengan dakuku yang jelas ingin bersandar.

Bertaruh apa pun, dengan semua itu, ternyata aku selalu bersekutu dengan ketidaknyamanan. Aku tampak toleran, tapi menyisakan kekhawatiran sangat tentang toleransi yang sebenarnya, aku tak setuju. Aku tampak mengerti dengan seabrek alasan, tapi bersamaan dengan itu, jujurku menyiksa banyak hal di kepalaku untuk berkabung atas kemengertian yang seringnya membuat khalayak silau. Aku tampak tak tersentuh, hanya karena barangkali, terlalu banyak syarat untuk bergaul denganku.

Sempurna. Walau aku tak berniat untuk mengganti semua polaku atas semua hal besarku, tapi aku perlu penggenap atau sebutlah itu… penyeimbang, untuk menenangkan sisi jiwaku yang lain. Aku belum berhasil utuh, lantaran belum bisa mendamaikan sisi luar jiwaku yang terang-terang berhasil di satu sisi, dengan keikhlasan yang masih simpang siur bersama keakuanku tentang reputasi di sisi lain.

Aku ingin menyederhanakan semua ini. Karena tak mungkin, kompleksitas berdiri sendiri. Tuhan pasti menyediakan kesederhanaan untuk berkelindan dengan kompleksitas. Hanya mungkin, aku belum sampai. Bila pun semua tampak kurang dan salah di mataku, semestinya aku dapat menganggapnya wajar dengan segunung legawa yang aku tak akan sangkal keabsahannya. Bila pun semua masih parsial dan dangkal di mataku, semestinya aku dapat menganggapnya sebagai proses menuju kesempurnaan. Aku tak perlu terburu-buru menyalahkan diri, lantaran tak dapat berbuat banyak.

Jelas aku ingin tertawa tanpa beban, bukan karena dipaksakan oleh doktrin universalitas atau toleransi; tapi karena aku memang benar-benar dapat menangkap sinergi antara tawa dan kedua doktrin itu. Setiap kali aku ragu atau khawatir, aku ingin mendesain semua ini dalam kerangka keniscayaan yang memang waktunya terjadi, tanpa perlu menuduhku sebagai orang yang tak berguna. Tentunya bukan juga tak mau tahu atas realitas yang tengah terjadi. Tapi, aku dapat menyeimbangkan semuanya pada proporsi yang pantas.