Search and Hit Enter

Soeroso

Foto: smallwinsinnovation
Foto: smallwinsinnovation

“Hei… performance itu sangat mendukung. Kalo kamu tetep ngeyel pake pola kamu begini, ya ngga papa. Tapi, orang lain pasti punya penilaian sendiri. Jadi orang itu yang rapi, sopan, enak dilihat… biar meyakinkan. Kamu itu kalah sama yang laen itu ya gara-gara itu.”

Ssst… ada yang menghardik. Mmm… bukan, tapi bergumam. Eh salah, dia sedang khawatir. Ya benar, Soeroso, seorang kawan veteran HMI Cabangku, tengah mengkhawatirkanku. Belakangan, ia tak jemu minum jamu. Bukan… maksudnya, ia tak jemu bertanya tentang kabarku. Sepertinya, dunia hendak berakhir, atau aku tampak seperti orang paling merana sedunia. Atau juga, aku sedang merindukan santunan agar tahu sopan santunan.

Aku sering meledek Soeroso. Bagaimana tidak? Bagiku, penyakit orang tua itu ada empat. Pertama, ia suka bercerita masa lalu. Kedua, ia suka membangga-banggakan keturunan. Ketiga, ia traumatis. Keempat, ia selalu khawatir. Nah, Soeroso punya keempatnya. Parah, bukan? Atau mungkin, Soeroso ingin tampak tua di depanku, biar aku sadar kalau dunia telah terlalu lama aku lewati, sementara aku belum apa-apa.

Orangnya tak banyak bicara. Seringnya, ia hanya menatap langit-langit kamar, kalau aku sedang berkhotbah. Masih untung ada langit-langit yang bisa ia pandangi. Semisal, pas di luar rumah, ia pasti memilih untuk memandangi kaki panjangnya. Sederhana saja, ia jarang sekali kontak mata denganku. Entah, barangkali ia tak ingin tahu lebih dalam tentang pesan kuat di balik mataku, yang bisa jadi ia tak sanggup imbangi kelanjutannya. Di matanya, aku terlalu perfeksionis, bahkan ambisius. Sementara, Soeroso lebih birokratis, taat aturan, hormat perencanaan, dan step by step.

Ia jujur dan bisa dipercaya. Kalau sulit menyelesaikan persoalan, ia akan diam atau tak berbuat apa pun, meski banyak tekanan dan hujatan memenuhi telinganya. Walau agak politis, tapi ia setia kawan. Meski tak banyak perempuan yang meliriknya, ia tetap PD untuk mempertahankan sikap lamanya; acuh pada mereka. Walau bukan dari kalangan intelektual, ia sangat menunjang berkembangnya budaya akademis bagi generasi penerus. Ia juga berpikir keras tentang nasib pendidikan negeri ini sekarang, juga di masa depan. Sekali lagi, semua itu ia lakoni tanpa terlalu banyak bicara.

Bergerak dengan diam tentu bukan perkara sulit bila tak dilabeli wewenang. Tapi bila diam untuk mengendalikan keadaan, Soerosolah ahlinya. Ia bergerilia menanamkan pengaruh dan prestasi, justru dengan mendiamkan senior-seniornya yang salah kaprah, lantaran ia berwewenang untuk mengeksekusi mereka. Ia hadapi keliaran kader-kadernya dengan diam, dan memberikan contoh bagaimana menjadi orang sabar yang baik, juga tahu kapan seseorang harus angkat bicara. Ia juga banyak diam waktu aku tak tentu arah. Meski ia sadar, aku butuh penanganan segera, baginya, mendiamkanku justru terapi ampuh untuk mengevaluasiku. Ia tahu, untuk angkat bicara, aku terlalu sulit untuk diperingati, apalagi diatur. Ia telah maklum sejak lama.

Membedah persoalan bersama Soeroso juga tak sesulit merunut episteme bersama Anto dan Awie. Ia lebih simpel dan sangat pasif bila klausul dibicarakan. Tapi, untuk urusan perencanaan dan taktis lapangan, Soeroso sangat unggul. Ia tekun memilahi kadar gerak yang barangkali masih tabu aku gali, seperti bernegoisasi dengan stakeholder politik di sebuah kasus. Sebab, bagiku, Anto, atau Awie, bargain prestasi lebih penting ketimbang lobi politik. Tapi begitulah, akhirnya semua dapat saling beri dengan kelebihan masing-masing.

“Aku selalu dukung kamu. Cuma kamunya juga harus serius. Kalau kamu masih suka main-main mending ngga usah macem-macem,” seruan Soeroso menyisir penatku.

“So, sekarang itu waktunya serius. Tapi hidup kan ngga cuma buat satu hal. Lagian, kalo banyak konsekuensi yang bikin kita keluar dari identitas, aku ngga setuju.”

“Maksudnya?”

“Hidup itu senang. Hidup itu menghargai orang lain. Hidup itu berpikir tidak untuk dirinya sendiri. Nah, kalo hidup cuma buat diakui ato nurutin keinginan sendiri, kita ngga bakalan bahagia.”

“Akomodasi dan mengerti orang lain itu juga penting. Komunikasi kamu ke orang lain soal idealisme kamu itu juga penting. Kalo kamu ngga mau ngerti, gimana kamu bisa dingertiin?”

Hem… sekeraskepala itukah aku? Bisa jadi, Soeroso tak terlalu paham apa yang kumaksud, tapi interest-nya untuk ‘mengawalku’ terang bukan kontribusi sederhana. Untuk Soeroso yang tak banyak bicara, tapi tergiur banyak memperhatikan dan mengarahkanku tentu anugerah bagiku. Pun tanpa solusi yang tak begitu prinsipiil, ia berkehendak menilik keseriusanku pada semua hal.

“Soal kamu sama cewe gimana?” tanyanya berdebum. Tumben-tumbenan dia tertarik pada persoalan ini.

Aku memutihkan mataku.

“So, kamu traktir aku bakso, ya?”

“Dasar.”