Search and Hit Enter

Orang Besar dan Kenyamanan

Socrates Quote. (Foto: inthereddest.com)
Socrates Quote. (Foto: inthereddest.com)

Dari dulu, aku sadar sepenuhnya kalau aku tak banyak berhasil dalam berbagai hal. Aku sadar, aku tak punya banyak pilihan untuk memiliki sesuatu. Aku sadar, sedikit celah yang memberiku peluang untuk berkoar bahwa aku akan mampu melakukan banyak hal. Anyway, dramatis juga kalo tiba-tiba aku ‘terpaksa’ mengakui semua ini. Walau persis, sebenarnya aku tak mau tampak picisan, dengan membuat semua ini menjadi mengharukan. Aku juga tidak berharap semua menjadi sentimentil, dan full perasaan.

Sekadarnya, aku kesulitan untuk menengarai keperkasaan Ibnu Sina yang hafal Al-Quran pada umur 5 tahun. Ia berkategori prodigy, jauh di atas genius atau summa cumlaude. Mungkin, semua karena peran sang ibunda yang memang menekankan banyak hal penting, akhirnya ia benar-benar menjadi orang penting. Mungkin, itu karunia Allah, yang sekali lagi, sulit untuk dipikirkan. Mungkin, ia memang pekerja keras yang benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk ilmu dan kemanusiaan. Mungkin, lingkungan tempat ia besar dikelilingi orang-orang pintar dan tradisi ningrat seputar indahnya berilmu.

Atau mungkin, tak ada alasan apa pun mengapa Ibnu Sina sebrilian itu. Ya, semua ini terjadi begitu saja, dan tak ada yang sanggup menilik lebih jauh apa yang sebenarnya tengah dan akan terjadi. Pastinya, Ibnu Sina dianggap orang terpintar di dunia bahkan jauh di atas Isaac Newton, Bapak Rasionalisme Eropa, atau Albert Einstein, penemu hukum relativitas, cikal bakal diciptakannya energi atom yang tentu saja sangat menyibukkan dunia.

Sebatas ini, aku juga sulit mengira-ngira ketekunan Bill Gates, pendiri Microsoft, korporasi raksasa dunia pencipta software-software komputer canggih. Awalnya, ia hanya tertarik pada matematika. Menurut dia, matematika dapat menerjemahkan semua keinginannya dengan pasti. Saat sekolah di Harvard, ia hanya tertarik pada perempuan yang punya grade nilai matematika tinggi. Itu harga mati. Tak ada yang lebih ningrat dari itu. Setelah ia tahu bahwa ia bukan satu-satunya mahasiswa yang mencintai dan menguasai matematika di Harvard, ia pun keluar dari Fakultas Hukum Harvard yang bergengsi itu dan berniat menghabisi IBM dengan mendirikan Microsoft.

Sejauh ini, Muhammad Hatta, wapres RI pertama terlalu pintar bagiku. Dengan semua keterbatasannya sebagai produk Politik Etis Belanda, juga bawahan Soekarno dan orang yang tak pandai menggugah kesadaran massa dengan agitasi dan orasi, ia tetap meneguhkan pentingnya distribusi kewenangan negara untuk memberikan proporsi berimbang agar tak sewenang-wenang. Ia berkehendak kuat membangun sistem ekonomi yang bisa memberikan kesempatan bagi semua orang. Jelas, orang miskin adalah tanggung jawab negara, juga setiap warga negara.

Sepantar ini, Onno W. Purbo, seorang pakar IT Indonesia yang berniat membangun 220.000 fasilitas internet di sekolah-sekolah terpencil, terlalu mulia untukku. Aku kesulitan berdecak atas antena kaleng yang dapat menggantikan hotspot mahal bikinan bule. Ia yakin, bangsa ini bisa entas dari kebodohan kalau tongkrongan mereka yang penuh lumpur sawah itu beriring ketahuan mereka tentang tradisi informasi global. Andai ada 10 Onno di negeri ini, barangkali AS bukan apa-apa.

Segerus ini, kegelisahanku tak pernah berhenti saat melihat Maria Audrey yang lulus kuliah pada umur 14 tahun, Wayne Rooney yang merajai persepakbolaan Inggris pada umur yang belum genap 17 tahun, atau Sherina yang beroktaf dua dengan komposisi orkestra yang indah dengan usia yang belum lagi 15 tahun. Tampak jelas kalau dunia sangat sulit untuk dibilang sederhana, apalagi tanpa keringat dan kerja keras. Adalah benar bahwa memang tak hanya satu faktor yang membuat mereka besar. Tapi mengapa aku tak bisa?

Katanya, hidup itu harus disyukuri. Oke, aku setuju. Kalau sekarang ada yang bisa besar dan kecil itu, karena memang sunatullah. Aku juga menyetujuinya. Hidup itu yang penting melakukan semua hal terbaik, dan besar atau kecil bukan urusan penting. Sebab, itu efek, bukan tujuan utama. Ya, aku masih menyetujuinya. Setiap orang pasti berguna untuk orang lain. Perkara sebesar apa dia tampak di depan manusia lain, itu hanya penilaian kesan, bukan sesungguhnya. Sebab, Allah yang paling tahu tentang baik-buruk seseorang. Pfuh… aku tetap setuju.

Tapi….

Kesalehan adalah kehendak untuk terus berbuat yang lebih baik di kemudian hari. Bila tak ada semangat ini, aku sudah mati. Sementara, tekadku tak terus-terusan meningkat untuk mengeksekusi realitas. Banyak ketidaknyamanan di sekitarku yang, hingga saat ini pun, aku masih sulit untuk memahaminya. Aku masih kesulitan menelan ludahku kalau saja melihat orang yang sulit tersenyum. Aku masih kesulitan untuk membesarkan mataku kalau saja melihat orang yang tak peduli apa pun. Aku masih kesulitan untuk menyunggingkan bibirku kalau saja melihat orang yang tiba-tiba terdiam, hanya karena ia tak mampu berbuat banyak atas kenyataan yang sebenarnya sangat ia tak sukai.

Katanya, seseorang akan nyaman bila berada pada jalan yang benar. Karena, tak mungkin kebenaran justru menawarkan keresahan luar biasa akan karut-marutnya keadaan yang jelas dibikin manusia. Karena persoalan muncul oleh manusia, berarti ia dapat diselesaikan oleh manusia. Betapa kebesaran adalah seberapa aku mampu menjadi manusia yang dapat membuat nyaman banyak orang. Apa pun itu.