Search and Hit Enter

Era Intermedia

Era IntermediaSuatu ketika di 2007….

Matahari belum benar-benar naik. Mataku masih sembab, sedikit kuyu, dan barangkali penuh guratan takdir yang mengabarkan pada orang-orang di sekitarku tentang hidup indahku. Waktu menunjukkan pukul 08.00 lebih. Pada jam-jam itulah aku langkahkan kakiku, selalu dengan berat, ke bunker hitungan masa depanku, Era Intermedia. Tak umum memang. Sebab, orang-orang sepertiku biasanya berangkat kerja jauh sebelum jam ini. Meski demikian, aku menyatakan, aku harus tetap innocent; sebagai konsekuensi tentang aku yang rajin gosok gigi.

Kulitku pun tampak kehitam-hitaman, lantaran tiap pagi dan sore aku mesti berjalan menantang sinar matahari. Saat berangkat, aku menyisir jalan dengan menghadap timur, sementara pulangnya aku rela menatap matahari yang hampir tenggelam. Praktis, separuh tubuhku sangat akrab dengan ultraviolet. Tapi sudahlah, barangkali tanpa itu, aku masih merasa sebagai turunan Anglosakson-Arya yang tak beruntung, karena lahir di kawasan Negroid Asia.

“Lembur terus, nih,” sapa Pak Satpam lembut. Kalimat ini seperti tak pernah bosan mendarat di telingaku. Ujaran serupa sering aku jumpai tak kenal surut. Beliau tak jenuh menyapaku ramah, meski aku tahu, aku tak berkategori biasa, lantaran datang sesiang ini.

Aku masuki ruang utama. Tak aneh kalau tak ada yang menyapaku, atau setidaknya melirikku. Semua tahu aku terlalu biasa untuk disapa. Walau aku hadir, sepertinya aku melayang-layang di tengah mereka. Benar, tak ada yang perlu dipusingkan dariku, lantaran aku biasa terlambat. Sst… aku tahu, di awang-awang aku melihat tulisan penting berjenis Lucida Handwriting (Biar sulit dibaca!), “KETERLALUAN.” Sok akrabku muncul hambar, “Mbak Asri, kancing bajuku ilang satu.”

Aku naik ke lantai 2, tempat tulisan-tulisanku biasa aku buat. Tangga yang aku lalui kunamai, ‘Ular Tangga’. Biar tak nyambung, aku tetap puas dan membanggakannya. Daripada membayangkan tangga-tangga di klip-klip musik R&B atau rap, atau I’ll Follow You Down-nya Gin Blossom, atau Tangga yang punya hit Terbaik Untukmu, lantaran tak banyak yang sepusing aku kalau omongkan musik, Ular Tangga itu pun lebih mirip… ya Ular Tangga, teman baiknya monopoli, truf, atau catur.

Aku buka pintu perlahan. “… kum!!!”

“… lam,” ada kawanan suara menjawab salamku.

“Kirain cuti lagi,” Mbak Rahmi, satu-satunya orang yang berhobi cuci baju dan piring, menyapaku santai. Ya, ia boleh bangga, tak ada yang menyaingi status ‘istri’ yang ia punya.

Aku tersenyum. Soalnya, kemarin aku telah ambil cuti, resmi juga tak resmi.

“Semalem tidur jam berapa?” Pak Taufik, makhluk unik pencinta semua hal berbau alternatif, berpartisipasi. Ia paling doyan meyakinkanku kalau banyak obat alternatif di sekitarku yang bisa dipercaya ketimbang medis umum.

“Biasa… pola lama. Kutukan,” timpalku.

“Harusnya memang punya jam beker yang bisa masak,” kata Mbak Rahmi lagi.

“Alaah… apa berani, dia. Ngobral omong aja ke mana-mana. Coba kalo suruh serius,” sela Mas Sarwoch. Ia bermata empat dan mirip Bo Bo Ho Etiopia.

“Ya nih. Diobral aja ngga laku, gimana kalo jual mahal?” jawabku sekenanya.

Benar, semua orang di ruangan ini telah berkeluarga minus aku dan Mas Sarwoch. Kata Mas Sarwoch, ada dua sebab mengapa orang terlambat menikah. Pertama, dia penuh dosa karena maksiat. Kedua, diragukan kejantanannya. Padahal menurutku, kalau aku terlambat menikah justru lantaran dekat orang yang belum menikah, seperti dia. Huh, harusnya dia nyadar, kan? He he….

“Emang nyari istri yang kaya’ apa, sih?” tanya Mas Ali nimbrung. Sosok yang satu ini paling gemar menyorakiku kalau sedang ngegame. Oya, dia juga rajin gosok gigi di kantor.

Belum sempat kujawab, Andi, mutant kelas dua yang pengin jadi Wolverine (padahal Wolverine itu mutant kelas empat), urun rembuk, “Cari cewe itu ya harus cantik, putih, mancung. Asal jangan doyan belanja. Jangan yang atos.”

“Kalo aku sih yang penting biaya perawatannya murah,” ujar Mas Sarwoch. Sst… padahal, tak ada yang pengin bertanya soal ini padanya. Tapi baguslah, tipe cewe yang ia bilang barusan mengabarkan pada dunia kalau ia memang orang susah.

“Cantik bukan jaminan. Yang penting hormat sama suami,” Pak Taufik bersuara juga… meski agak tertekan. Aku tahu, Pak Taufik sering deg-degan kalau melihat cewe bertipe funk. Tidak menenteramkan, begitu katanya.

“Hei… cari istri itu yang bisa bahasa Arab, bisa ngaji, ngga usah cakep-cakep,” Pak Wahid, sosok paling berpengalaman perikeistriaannya lantaran anaknya paling banyak, berkomentar juga.

Ya, menenangkan bagiku.

Meski sebenarnya, banyak hal yang tak kusukai di sini… tapi aku tak mau berpisah dengan mereka.

“Inget ya, jangan pernah berpikir kalo nikah itu bisa mengubah seseorang seperti apa yang kamu mau. Menikah itu bukan untuk disamakan, tapi melengkapi. Kalo dipaksakan style-nya, itu bukan cinta, tapi EGOIS,” Mbak Rahmi mengakhiri topik ini.