Search and Hit Enter

Yusuf Septy Bayu

Yusuf, sparing partner abadiku di HMI Salman, bertandang padaku suatu ketika. Hampir dua tahun ini ia membina keluarga ‘mudanya’. Meski banyak masalah, karena persiapan nikah yang tak begitu matang, tampaknya Ucup banyak belajar dari semua itu. Anak pertamanya, ia namai Revo; diksi Jerman yang sarat nuansa keseriusan, mencerminkan kekontroversian sang ayah di masa mudanya dulu. Ya, untuk ukuranku, bahasa Jermannya jelas lebih dari cukup.

Aku juga mengenal istrinya. Ia mantan pengurusku di HMJ IESP FE UMS enam tahun silam. Walau tak detail, aku sedikit tahu tentang karakter dasarnya. Aku juga sempat tak habis pikir saat tahu bahwa mereka memutuskan untuk bersanding. Ucup yang kukenal bertipikal ekstrem, tak kompromi, dan sangat idealis; hampir mirip istrinya yang superngeyel dan mau menang sendiri. Kalau keduanya harus bersatu, apa jadinya, begitu pikirku waktu itu.

Semasa awal-awal kenal, Ucup sangat berbangga padaku dengan status Neo-Nazinya Hitler. Setiap kali bersua, tak lupa ia berujar, “Heil Hitler!” seraya melambaikan salam ala penguasa Jerman pemakan jutaan orang Yahudi itu. Didukung dengan khazanah kebahasaan Jerman yang lumayan, Ucup semakin yakin bahwa bangsa Arya adalah rujukan terbaik dalam bersikap. Tak lupa, ia juga khatam mengunyah dedengkot-dedengkot pikir Jerman seperti Friederich Engels, Nietzsche, hingga Goebbels.

Hasilnya, ia pun sangat fanatik, anti kemapanan, dan sulit menoleransi arogansi. Rambutnya yang gondrong kemerah-merahan alami, kulit putih, face elok, dan mata berairnya semakin menyempurnakan semua citra Ucup sebagai sosok yang benar-benar berbeda. Boleh ditanya, siapa pun aktor pergerakan di Fakultas Ekonomi ketika itu pasti mengenal kebengalannya dalam mempertahankan keperkasaan argumennya.

Saat itu, aku adalah musuh ideologisnya. Bila Ucup berseru nasionalisme, aku pasti akan mendengung-dengungkan universalisme. Bila Ucup getol menyuarakan pentingnya ‘menghijaukan kampus’, aku pasti berprioritas pada perkaderan. Kalau Ucup mengusung liberalisme pikir, aku pasti sangat fundamentalis. Kalau Ucup anti birokrasi, aku pasti berkongsi dengan penguasa. Benar-benar tak ada ujungnya. Bahkan saat Salman dikomandani Ucup, beberapa kawan bilang, pemilik de facto Salman adalah aku.

Aku belajar keras, karena aku tak rela melihat Ucup bersinar sendirian. Aku mati-matian membaca buku, lantaran sering kali kulihat ia duduk tertidur dalam posisi membaca. Aku menguras semua energiku untuk membangun pengaruh dan prestasi, sebab Ucup kuanggap berbahaya bagi kebaikan dunia. Aku mendelik keras tentang kekakuan Ucup, karena menurutku, aku tak cukup percaya diri membiarkan cara pandangnya berkembang pesat di komunitasku. Bahkan, saat aku tak terlalu peduli pada cewe juga lantaran Ucup yang doyan ‘mencoba’ makhluk lembut itu.

“Gaya Loe kaya ngga doyan cewe aja,” cibirnya suatu ketika.

Puncaknya, Ucup menyatakan mundur dari Salman dengan alasan, wewenangnya telah kuambil. Ia merasa, status Ketua Umum yang ia sandang cuma formalitas, sedang semua agenda Salman ada di bawah pengaruhku. Efeknya, tak hanya Rapat Pleno II yang beriring mundurnya sebagian pengurus, Rapat Anggota Komisariat yang sedianya juga digelar pasca itu, harus mundur tiga bulan. Kalau semua bisa didamaikan, itu pun ditunjang oleh lobi-lobi serius di tingkat senior bahwa aku dan Ucup harus konsiliasi. Akhirnya Salman dapat diselamatkan.