Search and Hit Enter

Wijasto

“Fase transisi memang sulit, Wie. Aku tahu kalo semua ini belum ideal. Tapi gara-gara aku gampang beradaptasi, aku sering melupakan idealitas yang aku punya. Aku justru larut di tempat aku berada. Efeknya, aku tak bisa progresif. Jalan di tempat gitu, lah.”

“Bagus. Seengga-engganya kamu sadar sedang begitu. Parahnya kalo kamu ngga sadar kalo kamu lagi jalan di tempat.”

“Gimana mo nikah kalo begini.”

“Ha ha…. Ngga gitu, jalanin aja dulu.”

Wijasto. Anak-anak biasa memanggilnya, Awie. Ia tokoh penting HMI Komisariat Ahmad Dahlan II. Dulu, AD II seperti kuburan massal bagi orang-orang yang ingin menembus mereka dengan cara-cara baru. Mereka sangat eksklusif, elite, tak mau tahu, dominan, politis, arogan, juga merasa paling ningrat di HMI. Entah doktrin apa yang diwajibkan hadir di benak kader-kadernya hingga mereka bisa se-PD itu. Bukan AD II kalau tak raja kepanitiaan. Bukan AD II kalau tak sibuk setting isu bila berhadapan dengan institusi lain. Bukan AD II kalau tak bertatap sinis pada komunitas lain yang sering dianggap lebih rendah. Bukan AD II kalau tak dipenuhi orang-orang penting kampus. Banyak prestasi AD II yang dapat dibanggakan, tapi banyak pula perilaku kader-kadernya yang tak mengacuhkan kebersamaan.

Setelah bertahun-tahun tenggelam dalam ide konsolidasi yang hampir fanatik itu, Awie hadir menetralisasi semuanya. Ia mulai tertarik membicarakan filsafat, korelasi filsafat dan ilmu pengetahuan, pentingnya mengikat organisasi dan akademis (bukannya dikotomis), atau sekadar menjanjikan nuansa kebersamaan di komisariat. Meski Awie tampak berbeda dengan para pendahulunya, tapi ia tetap punya budaya aneh. Setahuku, Awie tak pernah bersalaman dengan perempuan. Ia ramah, enak diajak bicara, didambakan banyak cewe, tapi tetap saja canggung kalau harus memboncengkan perempuan. Beberapa cewe bahkan menyatakan kegemasannya terang-terangan.

Tren Awie ini menuai gaya baru di AD II. Mulai saat itu, anak-anak AD II mulai tertarik merespons orang lain. Karena tingkat diskursus keilmuan yang lebih intens, mereka lantas merasa perlu untuk berbagi perspektif, agar objektif. Sebab, tanpa objektivitas, analisis mereka akan tampak parsial. AD II tak lagi terbebani eksklusivitas dengan seabrek setting-setting sektarian. Kini mereka lebih ekspresif dengan mengejawantahkan apa yang mereka ingini, bahkan dengan pihak-pihak yang selama ini sulit untuk diajak bekerja sama.

Awie seperti mengajarkan kebebasan dengan caranya sendiri. Ia tak menolak kebebasan pikir, tapi ia lekat pada citra uswah yang dapat dipercaya. Seumur-umur, aku tak pernah dengar track record keperempuanan Awie. Ia getol konsolidasi organisasi, tapi tak lupa sekolah. Ia mulai membangun komunikasi dengan dunia luar, tapi tetap menegakkan identitas komunitas tempat ia dibesarkan.

“Kalo kamu masuk ke fase apa sekarang, Wie?” tanyaku suatu ketika, sebelum ia menikah.

“Ya itu. Sama. Aku juga merasa kalo semua ini belum ideal. Sekarang ini, aku sedang mempersiapkan semua potensi yang aku punya untuk tetap menjaga idealitas itu.”

“Kalo nikah?”

“Aku pengin punya lembaga sendiri.”

“Ya sih. Tapi kita kan bisa anggap istri itu partner, bukan pelengkap. Jadi bisa dilakukan dua-duanya. Bangun sistem dan nikah.”

Awie bertipikal privat. Ia lebih privat dari Anto. Barangkali hanya ibunya yang tahu apa yang benar-benar ia mau. Ia tampak profesional dalam bekerja, hingga ke pembicaraan-pembicaraan privat semisal perempuan. Aku benar-benar tak habis pikir kalau kontrol dirinya bisa sekuat itu. Bukan kategori wajar, menurutku. Tak aneh kalau kemudian Awie sangat sulit disentuh oleh siapa pun.

Saking privatnya, aku pun tak pernah berniat untuk mempersoalkan semua penolakannya atas apa yang aku mau. Ya, aku tahu persis kalau Awie benar-benar tak mau dengan kesadaran yang cukup. Walau kemudian aku harus bingung, mengapa ia begitu. Pada beberapa hal, akhirnya aku melihatnya sebagai sosok yang kurang tegas.

“Kita ini kan pernah satu pemikiran, kenapa ngga kita gabungkan saja? Hal yang tak bisa dilakukan di satu sisi dapat ditutup oleh kelebihan yang lain. Biar kita bisa berbuat yang terbaik.”

Ooo… Awie sebenarnya adalah sosok proporsional. Ia tak mau banyak hal yang ia anggap baik justru tak dapat ia tangani, hanya karena ia benar-benar tak mampu. Kali ini, ia mirip Anto.