Search and Hit Enter

Sitorus

“The only good die young”

Benar, berbahagialah orang-orang yang mati muda di atas idealismenya. Aku timpalkan kalimat ini pada Sitorus, seorang awak kemanusiaan berkarakter rigid yang pernah membekap hari-hariku dengan cita-cita mulia bernama keadilan sosial. Nama aslinya, Widya Saputra.

Belakangan, ada kabar kalau ia terkena flex paru-paru; penyakit kenisyaan bagi sekutu nikotin. Aku berpikir, jangan-jangan flex paru-parunya itulah yang akan mengantarkannya menghadap-Nya. Dan ia akan mati muda; dengan tetap memegangteguhi idealismenya.

Makhluk yang satu ini agak bersinyalemen keajaiban. Hadir bersamaku saat ia telah lulus LK II, strata mahapenting dalam tataran perkaderan HMI, yang bahkan terlintas di benakku pun tidak. Ya, aku merasa, untuk berangkat ke LK II, bekal yang kubawa haruslah lebih dari cukup. Perawakan gondrong yang metroseksual mendesakkan kesan mimik anak band atau setidaknya, pengagum sensualitas. Ah, ternyata aku salah. Ia pembaca buku ulung, piawai beranalisis komtemplatif, dan seloroh aktifnya menukik.

Sitorus bisa membuatku ‘bertanya’ banyak hal. Ketika itu, aku belum benar-benar tahu makna kesungguhan, meski aku telah merasa perlu untuk bertatap tajam. Bahwa memang butuh 1000 cara untuk membendung 1000 kebohongan. Bahwa memang diperlukan sedikit kerlingan hati pada ketidakadilan. Aku tahu, meski belum terpatri kuat, ada sedikit ilham yang bergelayut di setiap kedipan mataku.

Aku tahu, bahwa banyak orang akan mengeluh, lantaran membutuhkan energi ekstra bila hendak bernegoisasi soal ini. Ini bukan tentang siapa yang lebih tinggi. Ini juga bukan tentang siapa yang lebih suci. Ini tentang relasi kemanusiaan yang membutuhkan klasifikasi, mana inisiator dan mana pendukung perubahan.

Sitorus ajari aku untuk meyakini, learn to say no. Sebab, keberanian itu anugerah. Dan anugerah paling besar adalah keberanian meruntuhkan hasrat rendah. Juga tentang sabar melayani sesama. Makanya aneh, kalau kemudian berdikari bukan jadi pilihan penting. Ada ketidakberanian di sana.

Suatu ketika, kejamnya korporasi mewanti-wanti masa depan untuk lebih kompetitif, dan melupakan status itu. Sitorus pernah marah karena seorang saudaranya tidak diperlakukan manusiawi oleh perusahaan tempatnya bekerja. Ia tegaskan, sistem itu harus ditaklukkan.

Pada kali yang lain, tidak kondusifnya institusi pendidikan membuat jejaring impian generasi penerus yang abu-abu. Ya, Sitorus pernah gencar mewacanakan akuntabilitas kampus sebagai tempat penggodokan generasi kritis. Ia marah kalau kemudian, mahasiswa hanya berharap lulus tanpa pemberdayaan.

Begitulah, untuk berjalan tegak dengan semua ‘kebengalan’ itu, ternyata memang tak akan bisa digeber hanya dengan hitungan jari. Keyakinan tak akan bisa dicomot sekadar dengan bermanis-manis senyum. Bahkan untuk berdiktat atau menjadi hantu perpustakaan.

Tapi jelas, Sitorus bukanlah simbol beringasnya idealisme. Ia hanya mengabarkan, aneh saja kalau orang-orang seperti aku ini masih sering mempersoalkan kekurangan diri.