Search and Hit Enter

Pseudo-Ekspresionis

Ternyata canggung juga mengutarakan banyak hal manis di kepalaku. Rasanya, kadar kemaskulinanku menurun drastis. Meski sebenarnya aku tergila-gila pada lawakan, untuk menjalani hari dengan paradoksi-paradoksi lucu itu, aku tak mampu. Benar, tertawa adalah pembalikan realitas atas sesuatu yang bisa jadi tak mungkin sebagai sarana menetralisasi kekurangan diri dan ketidakpuasan. Dengan tertawa, meski sementara, jalan terang untuk menyelesaikan persoalan akan lebih terbaca dengan jelas.

Umumnya, aku memang bercanda, tapi tak kurang dari cooling down-nya Kennedy sewaktu di bawah tekanan Pentagon. Ketika itu, Kennedy tengah berseteru dengan mereka perkara Krisis AS-Kuba yang akan memicu terjadinya perang dunia ke-3. Bagi Kennedy, tawaran Pentagon untuk menggelar invasi ke Kuba terlalu terburu-buru.

“Tuan Presiden, AS dalam bahaya. Kalau Anda tak segera bertindak, banyak orang AS akan mati. Tidak tahukah Anda bahwa Anda tengah terjepit?” Jenderal Le May, Kasau AS, bertanya dengan nada memaksa.

Gertakan ini bukan hanya tak enak didengar, tapi juga inkonstitusional. Semua tahu, Presiden adalah pemilik otoritas negara atas kebijakan perang. Dalam sistem presidensiil, ia adalah komandan tertinggi armada perang, di atas semua mesin tempur yang ada. Walau berstatus warga sipil, ia memiliki kewenangan untuk mengendalikan alat pembunuh massal milik AS yang sangat ditakuti dunia itu.

Kennedy tersenyum. Ia pandangi wajah Jenderal yang baru saja mengancamnya. Tak ada tatap tajam kemarahan. Tak ada alis tinggi kegerahan. Tak ada bentakan keras kekecewaan. Tak ada mimik ketus peng-under estimate-an. Ia hanya perlu berkomentar singkat. Sebaris kalimat penting pun menyelesaikan semuanya.

“Apakah kau tidak sadar bahwa kau terjepit bersamaku.”

Simpel bukan? Bahkan Kennedy tidak sempat berpikir untuk memecat Jenderal Le May, walau sebenarnya ia bisa. Bahkan Kennedy tidak merasa perlu untuk menuntutnya, meski sebenarnya ia berhak. Bahkan Kennedy tidak ingin mengurangi rasa hormatnya, walau sebenarnya ia sangat pantas melakukannya.

Itu baru Kennedy, salah satu orang baik di ‘Negeri Pembunuh’ seperti AS. Bagaimana dengan Rasulullah Saw.?

Seorang nenek-nenek pernah bertanya kepada beliau, “Rasul apakah orang sepertiku akan masuk surga?”

Dengan tersenyum, Rasul menjawab, “Manusia seperti nenek, tidak akan masuk surga.”

Terang saja si nenek hancur hatinya. Ia merasa, semua ibadahnya selama ini menjadi tidak berguna. Perkataan ini bahkan keluar dari Nabi Allah, yang jelas terjaga kesahihannya. Sang nenek pun menangis tersedu-sedu.

Rasul pun kembali angkat bicara, “Nek, di surga kelak, semua orang akan sama. Di sana, mereka tidak muda juga tidak tua. Jadi, kalau nenek masuk surga, tidak dalam kondisi seperti ini.”

Si nenek kemudian lega. Coba lihat, Rasul tidak serta-merta menjawab apa yang dimaui si nenek. Rasul jelas mengajarkan kepada umatnya bahwa ada cara yang lebih ningrat untuk berkelakar. Ia tidak hanya contoh yang baik dalam berkemanusiaan, tapi juga teladan yang berdedikasi untuk mengajarkan nilai, pun pada saat tertawa; pun pada seorang nenek.

Begitulah. Sepertinya, aku memang tak pandai melawak. Aku juga tak percaya diri dapat menyenangkan hati orang, turut menyelesaikan persoalan orang, untuk mengentaskan kesedihan orang, atau menjadi contoh yang baik dalam kesenangan. Bagiku, aku hanya ingin ekspresif, tanpa perlu untuk berpura-pura bahwa aku ingin dianggap pandai menghibur orang. Sederhana saja, aku juga sangat membutuhkan itu, bahkan mungkin, lebih dari yang dipikir dan dimaui orang lain.

Tapi, untuk berbuat sesuatu bagi orang lain, kalimat Kennedy yang lain menjadi penting. Ia mengatakan, “Meninggalkan pendapat sendiri ada amoralnya. Kita semua di sini karena merasa bahwa kita lebih mampu dari orang lain.” Bukan tengah berbangga diri, tapi untuk melakukan hal terbaik memang harus terlebih dahulu meyakininya.

Di luar batas apa pun, aku hanya ingin menjadi yang terbaik. Misalnya, saat aku menjelaskan bahwa mengasihi itu bukan perkara sulit. Misalnya, saat aku mengaku bahwa aku membutuhkan kasih itu. Misalnya, aku perlu mendudukkan keduanya pada konteks yang tepat. Ya, kapan aku mengasihi, kapan aku dikasihi, dan kapan aku menjalani keduanya.

Satu lagi, percaya adalah hal penting. Terima kasih atas semuanya.