Search and Hit Enter

Nina Sumberrizqiana

“Ninoel, aku mau bikin event di Prambanan. Buka bersama sama anak-anak korban gempa. Kamu nyumbang, ya,” bunyi SMS-ku mengawali semuanya.

Kalau urusan duit, Ninaku yang ini mirip ibuku. Sewaktu masih satu kepengurusan di HMI Komisariat Salman, ia tak pernah bosan melabeliku anak asuh. Sebagai Bendum di bawah naungan Daulat Tuanku Fathul Alam ketika itu, ia memang paling perhatian. Kalau Alam harus jaga image agar koloni solid, Nina sering menenteramkan koloni dengan sentuhan keperempuanan yang tentu, sangat penting. Saat itu, dana umat di Salman bahkan terhitung paling besar se-HMI Cabang Sukoharjo.

Nina tak pernah neko-neko. Ia pejuang behind the scene yang dihormati kawan se-korps, walau mungkin, tak terlalu dikenal publik. Kalau persoalan terlalu berbelit-belit di rapat-rapat formal, omelan-omelannya sering membendung deras khazanah argumentasi forum yang di atas kertas lebih reputable. Sepertinya, ia tak sungkan dengan kebesaran baju filsuf atau politikus mahasiswa yang disandang rekan-rekannya. Ia tampak tahu persis bahwa mereka hanya doyan menjustifikasi gagasan, tanpa ada upaya nyata yang harus segera ditempuh. Gerak langkah komunitasku menjadi terarah dan nyata gara-gara Nina yang doyan bilang, “Sekarang, konkretnya apa?”

Ia juga paling rajin berkunjung ke ajang-ajang solidaritas seperti pernikahan, kawan susah, besuk, atau sekadar makan lotis bareng. Ia tak terlalu peduli dengan beban ideologis yang selama ini digembar-gemborkan senior-seniornya menyoal Islam inklusif, kader umat dan bangsa, atau apa pun. Nina hanya butuh kebersamaan dan penyelesaian persoalan bersama.

Klimaksnya, gara-gara servis Nina yang komplit, perempuan lain seperti tak lagi menarik di mata komunitasku. Bila pacaran hanya untuk membaptis kawan bicara atau sandaran hati, Nina dapat memberikan lebih dari sekadar sapaan soft ibu-ibu. Kalau pacaran hanya untuk target status ‘laku’ atau ‘tidak laku’, Nina bahkan menyadarkanku tentang pentingnya tanggung jawab, bukan hanya ‘punya-punyaan’.

“Aku nyaman bareng kalian itu soale aku bangga kumpul sama orang-orang pinter,” fitnahnya suatu saat.

Dasar Nina. Semua tahu, tanpa Nina, Alam akan tampak arogan dengan desain ideal rausyan fikr-nya. Tanpa Nina, Salman akan belingsatan memburu status keakuan, tanpa ingat lagi pentingnya perkaderan personal. Tanpa Nina, orang-orang di sekitarku akan terus hobi berhitung, tanpa ada celah bersyukur sedikit pun. Ya, Nina dapat diandalkan menjadi refresher, tiap kali status mahasiswa bersanding dengan kompleksitas persoalan masyarakat.

Ya, bagaimana mungkin mahasiswa yang masih belajar harus turut berkontribusi pada perubahan sosial, sementara presiden sekalipun belum tentu berhasil. Tapi… Nina selalu meyakinkan komunitasku bahwa ini memang penting, hanya saja jangan pernah lupa untuk tersenyum dan menikmati keseharian. Ia sadarkan semua orang tentang indahnya hari-hari meski dengan lusinan target idealis.

“Bencilah dosa seseorang, tapi jangan pernah membenci orangnya,” fatwanya suatu waktu, membelah kesektarianan sikap kalangan moralis.

Nah, kali ini, ia tampak lebih humanis dan islami dari sebagian penghuni Al-Azhar atau Paramadina sekalipun, yang masih saja berjuang untuk mengukuhkan pentingnya eksekusi bagi kalangan tak bermoral, bukan malahan mendampingi atau menyerap potensi kebaikan mereka. Nina ingin menegaskan pentingnya berempati, walau ia tahu bahwa pilihan baik-buruk tetaplah hal penting. Untuk bernaung di bawah hitam-putih norma, mencintai orang yang salah pun adalah keharusan, agar ia tak terus-terusan larut. Nina mengabarkan kemengertian tanpa meninggalkan nilai kebenaran dan norma apa pun yang ada. Sosok yang sabar dan tekun di mataku.

Beberapa bulan lalu ia menikah. Setelahnya, aku baru sadar bahwa tak akan ada lagi seseorang yang rajin menyapaku dengan mimik kritis, walau tanpa penjelasan kritis. Nina sering tak banyak teori, tapi ia paling tak bisa menyembunyikan ketidaksukaannya. Kalau Nina memutuskan untuk berdiam diri, mungkin akulah orang yang paling takut itu terjadi. Apalagi, ia tak suka cowo-cowo pembohong yang tidak menghargai care orang lain, atau setidaknya, sulit mempertanggung-jawabkan kepermisifannya. Sekali lagi, walau semua itu didukung dengan segudang referensi dan segunung argumentasi brilian. Ya, bukti sangat penting, ketimbang hanya menjual kesan baik.

Aku juga tak lagi punya pawang penting bila harus berkonsultasi tentang perempuan. Biasanya, ia juri kelas wahid buat cewe-cewe yang pernah berputar di sekitaran anak-anak Salman. Kalau Nina suka, prospek sang cewe ke depan tentu akan lebih baik, ketimbang bila dia tak berkenan. Mirip ibu suri.

Benar, telah saatnya Nina bahagia.

Apa boleh buat, aku harus menjadi laki-laki sepenuhnya, yang harus memutuskan semuanya sendiri, dengan tanggungan risiko yang juga harus aku tanggung sendirian. Bila membutuhkan Nina, aku harus pelan-pelan melupakan sosok nyatanya di hadapanku. Aku mesti mulai memaknai spirit nilai yang dipahami dan dinasihatkan Nina agar aku bisa bahagia. Sebab, Nina terlalu jujur untukku. Nina terlalu tulus untukku. Walau mungkin, aku tak pernah berkepentingan terhadapnya, kecuali makan.