Search and Hit Enter

Mustamar

“Kabar buruk, nih. Masa aku disuruh belajar agama dulu sama jadi karyawan tetap. Kalo ngga gitu, dibilang ngga layak jadi calon menantu. Belajar agama sih aku bisa. Tapi juga ngga secepet itu. Trus, kalo dipaksa jadi karyawan, wah… melanggar prinsip namanya. Kita kan punya misi bertarung dengan kapitalisme, biar masyarakat mandiri. Wirausaha, dong.”

Perkenalkan… namanya Mustamar. Panggilan sayangnya, Tambir. Fuad, mantan Kabid PPA HMI Salman, menyebutnya Tambur. Ada juga yang kasih label, Gembur. Tapi, aku mendaulatnya, Mustambur. Keren, kan? Sosok yang ini sangat bersahaja. Ia berstandar grass-root, aktivis sosial, penggerak masyarakat bawah, pencinta solidaritas, setia, dan yang penting… mencintai ibunya.

Aku mengenalnya saat kujemput ia hendak LK 1. Ketika itu, perawakannya sangar, matanya merah, rambutnya acak-acakan, bertindik, dan jarang bicara. Pertanyaan sederhana sempat pula terlintas di benakku, “Beneran ngga sih orang model dia mo masuk HMI?” Tapi sudahlah. Aku juga tak terlalu memusingkannya.

Beberapa minggu kemudian, ia telah sangat berubah. Dengan sedikit manuver, ia duduk bersamaku di kepengurusan HMJ IESP. Prestasi gemilangnya, ia sempat merongrongku agar mundur dari tampuk Ketua Umum, lantaran tak mengapresiasi kerja-kerjanya. Konflik ini berawal dari pernyataan resmi HMJ yang aku tanda tangani, lantaran bidang yang ia kawal (Keorganisasian dan Kemahasiswaan) tak mendelegasikan orang di event yang digelar LEPMA (Lembaga Pengembangan Mahasiswa). LEPMA, lembaga riset mahasiswa FE ini adalah organisasi mahasiswa pertama yang aku rambah di fakultas. Aku berutang budi pada mereka. Jadi, aku sangat malu saat HMJ tak berkontribusi ke LEPMA.

Pernyataan maaf terbuka dari HMJ-ku terhadap LEPMA dinilai Mustambur sebagai pencacatan citra, dan Ketua Umum harus mempertanggung-jawabkannya. Aku pun menyesal dan mengundurkan diri.

Ternyata, ujungnya tak sebesar konflikku dengan Ucup. Setelah pengunduran diriku dari HMJ, Mustambur menyapaku lembut, “Bagus. Itu namanya, maju menang… mundur juga menang.”

Aku tersenyum. Konflik ini selesai tanpa harus berlama-lama. Aku pun tak jadi mundur, dan kepengurusan selesai tanpa keretakan yang berarti. Buntutnya, Mustambur sebenarnya hanya ingin mendinamisasi keadaan, bukan benar-benar ingin menggusurku.

Ia juga partnerku di Salman. Aku berkarya di bidang PPA, sedang ia di bidang PTK/P. Biasanya, PPA dan PTK/P tak pernah rukun. PPA merasa bahwa kaderisasi adalah miliknya. Bila kemudian, keringat kader harus ‘dijual’ PTK/P ke kampus, PPA tentu akan marah besar. Tapi, bersama Mustambur, Salman bisa kompak. Prestasi waktu itu, Salman berhasil telak mempersoalkan adegan ciuman di depan inagurasi Program Pengenalan Akademik atau Ospek FE. Saat itu, Wamsinomi, UKM musik tengah show menyanyikan lagu hit. Seorang audiens cewe peserta Ospek mendadak tampil ke panggung membawa setangkai kembang dan… cup cup cup.

Salman marah lantaran tak ada seorang pun yang mempersoalkan ini. Gara-gara tuntutan Salman, semua lembaga mahasiswa di FE distempel Salman sebagai ‘kafir’. Ospek yang dari awal sering digembar-gemborkan kebaikan berdisiplin dan bermoral ternyata bermuara pada kepermisifan. Sempurna, tak ada perlawanan berarti dari KAMA FE. Semua mungkin beranggapan Salman ‘sok suci’, tapi mereka tak bersuara. Aku dan Mustambur pun melenggang dengan identitas ‘paling bermoral’ di FE. Who’s care?

Beberapa waktu yang lalu, Mustambur resah pada pilihannya untuk beranjak pada fase ‘ingin menikah’. Sepertinya, langkah ini tak segampang yang direncanakan. Ia serius. Tapi, ia harus berhadapan dengan kekuatan cara pandang masyarakat yang selama ini lebih bereputasi ketimbang eksistensi yang diingininya. Aku agak merinding. Pasalnya, untuk berdamai dengan kenyataan, juga masyarakat, Mustambur paling berbakat ketimbang anak-anak Salman yang lain. Bila ia harus menjura, tanda tak mampu, bagaimana dengan masa depanku? He he… berlebihan, ya.

“Denger-denger kamu ada masalah soal cewe di Solo,” tanya Mustambur membelah kebekuanku pada kenyataan. Ketika itu, ia tengah mempersoalkan kesiapan mental sebelum menikah. Kalau aku tak seemosi dengannya, tentu aneh. Pasalnya, sudah waktunya.

“Emangnya knapa?” aku balik tanya.

“Kamu itu, lho. Ngga ada kapoknya. Udah dibilangin jangan nyari cewe yang nilai spekulasinya tinggi, masih nekat aja. Ntar kalo gagal lagi gimana?”

Mulutku melar, tanda tak ada perlawanan.

“Cinta itu seperti kasih ibu,” tuturku menyandingkan kecintaan Mustambur pada ibunya. “Ya, hanya memberi… tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia,” lanjutku menyusul tawaku yang berderai keras.