Search and Hit Enter

Muhammad Zaky Wahyuddin Azizi

“Orang tua itu faktor penting dalam menikah. Restunya adalah kunci keberhasilan keluarga.”

Muhammad Zaky Wahyuddin Azizi. Itu nama lengkapnya. Kawanku yang ini pembaca buku ulung. Selain berkacamata, ia paling cinta pada semua hal berbau data. Ia gila kliping. Ia maniak internet. Ia kolektor buku-buku klasik yang sudah tak dicetak lagi. Ia juga sangat rajin mendokumentasikan sesuatu, termasuk foto, komentar, dan tulisan tangan. Wajar saja kalau kemudian, ia tampak seperti perpustakaan berjalan. Cara bicaranya pun selaras dengan katalog dan klasifikasi referensi yang ia punya. Saking nyamannya, ia mungkin sudah tak ingat, kapan terakhir kali ia harus mengingat-ingat. Ya, ia juga pelupa berat. Overload informasi, bahasa Toeffler.

Malam itu, aku dan Zaky mengupas tuntas keresahan wajar seorang laki-laki paruh puber kedua, yang sudah semestinya bicara nikah. Soal perempuan, Zaky memang tak se-interest aku. Ia lebih suka dijodohkan daripada berpusing-pusing ria memanifestasikan bermacam rumus dan manuver. Semasa di Salman dulu, ia bisa dekat dengan cewe mana pun, lantaran ia tak pernah tampak berkepentingan. Ia mirip resi atau biksu yang betul-betul dapat memberikan servis nyaman bagi banyak cewe yang membutuhkan ketenangan batin atau krisis PD. Walau kepala Zaky penuh dengan bermacam standar kemanusiaan, ia punya kelebihan khusus, yakni menjelaskan duduk perkara dengan bahasa yang lebih sederhana, juga solutif.

Tapi, suatu ketika, ia mulai menatap pentingnya berkontribusi atas jodoh. Maksudnya, meski orang tua bisa saja memberikan alternatif jodoh, sebenarnya, ia juga berkepentingan atas lisensi dan kualifikasi. Sebab, kepercayaan terhadap orang tua harus didukung dengan test case, biar tak taken for granted. Entah… atau mungkin, ia terlalu banyak bergaul denganku, yang terlalu matematis dalam mengalkulasi sesuatu. Singkatnya, ia menjadi berkepentingan untuk menentukan sendiri calon istri, tentu dengan restu orang tua.

“Yang penting iman. Itu yang utama,” desisnya memberikan kriteria normatif.

Untuk menjelaskan iman ini, Zaky tentu tak hanya membutuhkan syahadat, tapi juga integritas individu. Bila di kehidupan nyata seseorang memisahkan antara uang dan Allah, shalat dan sosial, atau dakwah dan kepentingan, tentu itu mengurangi kadar iman yang ia maui. Zaky percaya, dengan iman, keluarga akan dapat bertahan dari semua kompleksitas persoalan dunia. Iman pada kekuatan yang dapat memberikan petunjuk pada manusia jelas bukan hal sederhana.

Resistensi ini perlu untuk tetap eksis di dunia dengan penuh penyerahan diri yang transenden. Bila seseorang masih suka panik, gelisah, dan menyalahkan orang lain, artinya ada persoalan dengan imannya. Sebab, Tuhan tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan manusia, dan dunia ini akan berakhir. Bila masalah diciptakan manusia, ia juga harus diselesaikan oleh manusia. Ketakutan tentang persoalan yang tak akan usai, jelas adalah bentuk iman yang perlu perenungan ulang.

Lebih jauh, Zaky mengajariku keberanian yang terukur tentang sebuah pilihan. Selama ini, aku bertipikal alternatif, bukan kontroversi. Seringnya, aku selalu berpikir alternatif, dengan mencari cara atau strategi baru ketimbang berseteru di satu titik dengan siapa pun. Aku gemar menemukan lahan kosong agar dapat menjadi penguasa tunggal tanpa ada perlawanan yang berarti. Nah, Zaky memberikan arahan tentang perlunya memilih dan mempertahankan pilihan; bukan malah memberikan kesempatan kepada orang lain, lantas aku mencari alternatif lain. Ya, meski ia tahu, sebenarnya aku tak suka memangkas kesempatan orang. Namun, sekali lagi, Zaky memberiku perspektif baru tentang pentingnya konsistensi pilihan yang selama ini aku anggap sebagai intoleransi.

Zaky berujar bahwa kepentingan itu sah, asal ditujukan pada hal-hal mulia. Mengalah atau toleransi itu tak selamanya baik, bila ternyata dapat merugikan atau menyakiti seseorang, walau mungkin, bermaslahat pada skala yang lebih luas. Artinya, sah-sah saja aku berambisi pada sesuatu, bila aku yakin ini yang terbaik untukku dan ridha Allah Swt. Zaky menganggapku aneh bila terus-terusan mundur ketika bergesekan kepentingan, meski sebenarnya, aku dapat mencari alternatif. Win-win solution dapat dicapai dengan pemahaman, bukan hanya dengan memberikan kesempatan kepada orang lain.

Jadi, sikapku untuk menjadi manusia alternatif harus mulai diarahkan pada konsistensi sikap yang justru akan melahirkan banyak alternatif bagi khalayak luas. Bila kemarin, aku menganggap alternatif hanya untukku, sekarang, lantaran memperjuangkan keinginan, pilihan ini sebenarnya dapat menjadi alternatif yang berefek luas, bukan egoisme. Sebab, dengan mempertahankan keinginan di satu jalan, tanpa berpaling ke alternatif, akan melahirkan kesepakatan dengan lawan. Di sana ada kesepahaman setelah sengketa. Di sana ada toleransi tentang ‘jatah’ atau rezeki orang setelah kompetisi. Citra bersikap toleransi yang selama ini aku maknai dengan bersikap alternatif telah berganti dengan toleransi karena kesepakatan. Karena, seseorang harus bahagia bila saudaranya bahagia setelah bersaing, bukannya memaksakan kehendak sendiri; juga bukan menyingkir karena tak mau berbenturan.

“Di atas langit masih ada langit. Bila kita membanggakan sesuatu, pasti ada yang lebih dari sesuatu yang kita banggakan tersebut. Jadi, aset utama dalam menghadapi hidup, termasuk menikah, adalah keinginan yang kuat, bukan yang lain,” ujar Zaky mengakhiri khotbahnya.