Search and Hit Enter

Muhammad Anwar

Beberapa waktu lalu, aku mengiba di depan Muhammad Anwar, kawan perdanaku bicara filsafat hampir tujuh tahun silam. Dulu, tokoh ini biasa menemaniku hingga subuh untuk mengurai rasionalisasi pemikir-pemikir kelas dunia. Pada batas tertentu, kesimpulan tentang dunia yang by design memang benar-benar tampak nyata di benakku.

Bersama Aan, logikaku pun bisa tersusun lebih baik, tanpa harus serius menatap diktat-diktat epistemologi, falsafatuna, lingua franca, atau logos-logos yang membingungkan itu. Setidaknya, aku tak perlu nekat jadi hantu perpustakaan.

Telah sekian lama Aan tak banyak bicara tentang apa pun padaku. Bila hingga kini ia masih tertarik untuk tetap miskin komentar, tentu itu semakin membuatku kesengsem, meski sebenarnya aku juga tak sedang merasa perlu untuk menganggap ini sebagai persoalan. Ya, aku hanya ingin berbagi cerita agar setiap detik yang pernah aku dan dia punyai dapat terekam baik, entah dengan sadar atau mungkin, khilaf.

“An, tolong ajari aku cara menikmati hidup, dong,” pintaku agak klise.

Ia cuma tersenyum. Mimiknya tak beringsut dari tatapan kalem yang selama ini tak pernah bisa aku tembus maknanya. Ia memang selalu begitu. Ia betah dengan polah minimalnya yang sering membuatku malas untuk mengira-ngira pikiran-pikirannya. Setiap kali ‘bertempur’ cara pandang denganku, ia tak pernah merasa telah menang, dimenangkan, atau mungkin kalah. Ia selalu saja menganggapnya wajar, seperti semua itu memang telah saatnya terjadi.

“Aku tersiksa juga, An. Perasaan, di mataku, semua hal tak pernah ada yang beres,” lanjutku masih agak serius.

Aan masih kelu. Kekhawatirannya tentang celah hidup yang tak bisa aku tambal seperti hilang di matanya. Sepertinya, aku tak layak diceramahi. Ia nilai permohonanku sebagai basa-basi. Senyum kosongnya terus mengembang menyisir ke-ngeyel-anku untuk meyakinkan Aan kalau aku sedang serius.

“Oke, kalau kata kamu, kebodohan terbesar apa yang harus kita akui sekarang?” tanyaku tak surut juga.

“Ah, aku udah ngga pikirin,” jawabnya singkat, masih dengan senyum simpulnya.

Aku menyerah. Barangkali Aan merasa lebih sengsara dariku, tapi ia tak mau banyak bicara padaku. Ia tampak tak mau merepotkanku. Setidaknya, ia telah baik-baik menjadi pendengarku yang baik dan turut terharu saat melihatku begitu bersemangat mendesakkan pentingnya memaknai kenyataan. Walau aku tahu, sekelebat pun, tak kutemukan rasa penasaran Aan terhadap semua pintaku barusan.

Atau mungkin, ia justru kasihan padaku, dan memberi tenggang kepadaku agar dapat lebih memaknai hari-hariku, tanpa ada penjelasan darinya. Ya, senyumnya memaksaku untuk mengaku bahwa Aan lebih bahagia dariku. Ia tak perlu banyak bicara, agar aku sadar kekuranganku. Suatu saat, andai aku telah mengerti, barangkali ia akan menjelaskan semuanya, termasuk mengapa ia malas bicara.

Aku tak mau pusing-pusing. Tentu bukan karena aku merendahkan semua kesan yang dibangun Aan. Bukan karena Aan yang tak lagi berminat membedah banyak hal krusial seputar pemaknaan hidup. Bukan juga karena Aan yang tak lagi merasa perlu ‘berjibaku’ bersamaku. Ya, aku terlalu percaya padanya. Aku tak mau pusing, karena aku percaya, Aan tahu yang terbaik untuknya dan… untukku. Bahkan bila pun ia merasa perlu untuk menertawakanku.

Aan pun berlalu, tetap dengan tatapan senyap yang, sebenarnya tak terlalu aku suka.

1 Comment

Comments are closed.