Search and Hit Enter

Loyalitas Politik

Adlai Stevenson, Presidential runner-up of 1952 and 1956 dan US Ambassador to the United Nations pernah berkata, “Ketakutan kita pada sesuatu, justru membuat kita menjadi penindas.” Ia memberi kabar penting pada rakyat AS dan dunia bahwa untuk membangun tatanan politik yang aman, tidak lantas melegalkan penindasan atas orang lain.

Seperti diketahui, Stevenson adalah satu-satunya pejabat AS yang menawarkan politik ‘jalan belakang’ (back channel), ketika AS bersitegang dengan Soviet pada saat terjadi Krisis Kuba. Ia meminta Presiden Kennedy untuk menempuh jalur diplomatik, ketimbang menggelar invasi yang akan berisiko pada Perang Nuklir.

Usulan ini dirasa naïf oleh jajaran kabinet Kennedy, setelah pada ketinggian
lebih dari 72 ribu kaki, U2, pesawat pengintai milik AS, berhasil memotret 32 buah Middle Range Ballistic Missile (MRBM), sejenis rudal jarak menengah antardarat, tipe SS-4 Sandal dengan jangkauan 1000 mil dan hulu ledak nuklir 3 megaton, berikut 3400 personel yang sedang melakukan mobilisasi pra-invasi di Kuba. Soviet tengah membidik kota dan instalasi militer dari tenggara Washington dengan jangkauan senjata yang hanya membutuhkan waktu 5 menit, dan lebih dari 80 juta warga AS akan terbunuh sia-sia. Pentagon berkesimpulan, Uni Soviet akan menginvasi AS diawali dengan pengiriman rudal, lantas penaklukan U.S. Navy dengan puluhan armada perang laut mereka, melalui Kuba.

Namun, setelah ketegangan semakin memuncak, Kennedy akhirnya meminta
Jaksa Agung, Robert Kennedy, untuk bertemu Anatoly Dobrynin, Duta Besar Soviet untuk AS, guna mengakhiri ancaman perang masing-masing Negara adidaya. Seperti diketahui, Krisis Kuba pun berakhir tanpa senjata pemusnah massal, meski kemudian dunia sangat bersemangat menghubungkan pembunuhan Presiden Kennedy dengan keberhasilan ini. Ya, ternyata banyak yang tak suka pada Kennedy.

Bila mau digarisbawahi, kalimat Stevenson di atas menjadi sangat penting, ketika dalam berpolitik, setiap orang tidak perlu takut pada apa pun. Sebab, ketakutan—atau dalam beberapa hal bisa berarti kecurigaan—yang berlebihan akan membuat seseorang menjadi penindas; menjadi manusia yang tega kepada manusia lain. Bila ditilik lebih jauh, hikmah yang didapat Stevenson itu ternyata lahir dari dua kali kegagalannya bertarung dalam pemilihan presiden tahun 1952 dan 1956.

Kepercayaan Internal
Bisa jadi, dalam politik, kepercayaan adalah pilihan kata klise. Bagaimana mungkin dalam berpolitik dikenal kepercayaan. Umumnya, seseorang akan menjadi kawan bila ia ada dalam satu kepentingan yang sama. Sebaliknya, tiba-tiba seseorang akan sangat bernafsu untuk bermusuhan dengan mantan kawan politik, bila di tengah jalan tidak berada dalam satu gerbong kepentingan.

Namun, simaklah lebih dalam. Bagaimana mungkin, membangun masyarakat
tanpa kepercayaan? Jelas akan tercipta chaos dan instabilitas. Dalam bergerak, dibutuhkan kepercayaan internal berupa world view, aturan organisasi, kesepakatan, hingga toleransi dan saling mengerti. Tanpa semua itu, soliditas akan menjadi barang mahal, lantaran kepentingan yang dibangun tidak berdasar pada kepercayaan internal.

Bahkan Francis Fukuyama (1995) berkeluh tentang pentingnya masyarakat modern yang penuh tata nilai kepercayaan. Ia tentu resah melihat mosi tidak percaya yang dibangun oleh masyarakat dunia atas semua kebijakan rakyat dan pemerintah AS. Ia sadar, setelah semua kesalahan bangsanya, harga yang harus dibayar untuk menutup semua itu ternyata sangatlah mahal.

Bahkan Kenneth O’ Donnel, asisten khusus Presiden Kennedy pernah menegaskan bahwa hal yang paling penting dalam politik adalah loyalitas. Ia
menambahkan, bisa jadi pimpinan melakukan kesalahan dalam pengambilan
kebijakan, tapi tidak lantas dianggap sebagai kesalahan general, yang dijadikan biang semua persoalan.

Bahkan Jenderal Wiranto merasa perlu untuk meminta berhenti dari jabatan
ketika Presiden Habibie menyangsikan loyalitasnya. Sebab, bagaimana mungkin, orang berjalan tanpa kepercayaan dan loyalitas? Dapat dimengerti bila kemudian, Sang Jenderal sangat menekankan pentingnya jalur konstitusional untuk menyelesaikan persoalan kebangsaan, lantaran sikap ini adalah bentuk kepercayaan dan loyalitasnya pada UUD 45 dan Pancasila.

Dedikasi
Kepercayaan dan loyalitas itu seperti dua sisi mata uang. Keduanya sangat
berarti bagi bangunan masyarakat, termasuk politik. Namun, kepercayaan dan loyalitas hanya bisa dicapai, ketika ada dedikasi atas semua aktivitas seseorang. Maksudnya, dedikasi pada sesuatu yang tidak bisa dikesampingkan hanya karena berbeda pendapat; hanya karena suka atau tidak suka; hanya karena berbeda rezeki; hanya karena berbeda jabatan.

Dedikasi ini penting sebagai kontrol diri. Bila tidak berkesempatan meraih
posisi tertentu yang dimaksud, seseorang akan merasa perlu untuk bekerja lebih keras lagi; bukannya malahan melakukan manuver politik yang tidak perlu. Bila banyak pihak yang menyangsikan kualitas kerjanya, seseorang lebih memilih untuk menaikkan ilmu pengetahuannya daripada menggelar intrik-intrik yang merusak.

Berapa banyak perkara kebangsaan negeri ini yang tidak selesai hanya karena tak adanya kepercayaan, loyalitas, dan dedikasi? Banyak orang berbondong-bondong membaik-baikkan kelompoknya, tanpa mau bekerja keras. Banyak orang menjual mimpi, tanpa mau benar-benar berbakti. Banyak orang berbaik sangka, hanya karena satu kepentingan; bukan karena benar-benar ingin berbaik sangka.

Sudah saatnya semua pihak saling percaya dalam wadah yang telah disepakati bersama. Bila hal ini tercapai, perjuangan seberat apa pun akan menemui hasil terbaiknya. Sedikit mengutip kalimat orang bijak bahwa orang rendah adalah orang yang sibuk membicarakan orang lain; orang kerdil adalah orang yang berbangga pada dirinya sendiri; orang biasa adalah orang yang selalu bicara peristiwa di sekitarnya; orang besar adalah orang yang berbicara gagasan.

Jadi, loyalitas yang terukur adalah loyalitas yang dibuktikan dengan gagasan, lantas menggelarnya menjadi aksi nyata, untuk kemudian terus dievaluasi agar semakin baik, menuju cita-cita perjuangan yang disepakati bersama. Dan aktor politik yang baik adalah orang-orang yang penuh inspirasi dan gerak; bukan hanya bicara, apalagi jago intrik semata.