Search and Hit Enter

Kukuh Wahyu Jumeneng

Malam telah larut….

Sesosok tubuh tegap mendatangi kamar tidurku. Aku tak mengenalnya, tapi aku juga tak kuasa menolak kedatangannya. Jelas, aku tak mengundangnya. Meski sebenarnya aku tak terlalu khawatir dengan pria ini, mimiknya yang sulit kugambarkan membuatku tertarik untuk benar-benar memperhatikannya. Tampaknya, pria ini tak biasa tersenyum. Tatap matanya pun tajam dan bersuara tegas.

“Aku datang untuk menjemput nyawamu,” ujarnya singkat.

Waa!!! Ternyata ia Malaikat Maut. Sontak aku langsung deg-degan tak keruan. Masa sih secepat ini, pikirku. Kenapa tak ada tanda-tanda sebelumnya. Berderet pertanyaan memenuhi kepalaku dengan sangat cepat. Aku masih saja tak percaya dengannya. Tapi, lama-lama, aku semakin berkesimpulan, kalau ia memang hendak mencabut nyawaku, terserah siapa sebenarnya ia.

“Ehm… jangan sekarang, ya. Gimana kalo besok?” pintaku pelan.

Mendadak, ia menghilang. Aneh, waktu itu juga aku lantas tahu kalau sebenarnya aku sedang bermimpi, meski belum tersadar. Antara sadar dan tidak, aku tahu persis, kalau aku tengah dieksekusi dalam mimpi. Terlintas dalam benakku, andai aku bisa bangun sebelum ia datang lagi, nyawaku tentu tak akan diambilnya. Pikirku waktu itu, ia tak akan bisa masuki alam sadarku.

Dan… sekuat tenaga, aku pun berusaha keras untuk terjaga. Sulit sekali rasanya. Semua energi yang kupunya aku kerahkan untuk dapat terbangun.

Beberapa saat kemudian, aku pun berhasil membuka mataku… tepat sebelum pria itu datang kembali.

Napasku memburu. Aku takut. Makhluk apa yang sedang mengutik-utik tidur malamku? Nyatakah, atau mungkin, hanyalah bunga-bunga tidur? Aku replay realitas barusan semampuku. Tepat, aku berkesimpulan kalau ini memang serius. Kekhawatiran yang sangat pun merayapi benakku. Pfuhh… ternyata aku tak cukup iman untuk menghadapi semua ini.

Kulayangkan pandangku ke sekeliling rumah ini. Tak ada orang.

Oya, ada Kukuh Wahyu Jumeneng, kawan HMI Salmanku yang ketika itu memutuskan untuk bersamaku serumah.

Sejurus kemudian, aku telah bersama Kukuh dengan pernik-pernik ceritaku seputar mati, mimpi tentang kematian, dan hikmah dari mimpi tentang kematian.

“Makanya buruan tobat,” fatwa Kukuh singkat. Ia pun kembali tidur. Padahal, aku ingin lebih banyak dari itu.

Kukuh memang simpel. Ia tak banyak berkomentar tentang semua perilakuku, tapi dialah orang pertama di sampingku ketika aku sedang dilanda senang, sakit, ambisi, atau juga, bimbang. Setiap kali bertemu dalam pembahasan tertentu, ia sering berujar, “Sing penting kabeh seneng.” Ya, walau tak memuaskan, tapi melegakan. Maksudnya, untuk membedah sebuah persoalan memang tak lantas seketika berujung pada solusi brilian. Tapi setidaknya, emosi yang stabil adalah langkah pertama untuk menggagas persoalan yang ada. Nah, Kukuh paling tahu kapan kalimat-kalimat menenangkan itu muncul.

“Milih cewe itu harus yang keibuan, putih, pinter masak, orang rumahan, trus bisa ngilangin stres,” gumamnya suatu ketika. Aku bingung, soalnya matanya terpejam.

“Hei… ngigau apa wangsit?” teriakku tersedak, menahan tawa.

“Kamu tuh payah. Nyari cewe kok penginnya yang ideologis, suka baca buku, temen mikir qualified,” ia masih saja ngedumel soal cewe.

“Lho… hidup itu bisa dinikmati kalau orang bisa memaknai hikmah, bukan hanya yang tampak. Tuhan bisa dirasakan keadilan-Nya kalo kita bisa berpikir tentang hikmah. Makanya kita butuh cewe yang bisa diajak mikir,” timpalku agak diplomatis.

“Ngomong ke tembok sana! Hikmah what?! Pertama kali kamu nilai cewe itu ya pasti dari baju, penampilan, cara bicara, trus kesan kalo ia memang mahal,” Kukuh berontak.

“Setuju. Tapi kan ngga sepenuhnya itu. Pasangan bisa selaras, kalo masing-masing dapat melihat kelebihan masing-masing dengan hikmah. Kondisi verbal hanya salah satu sarana.”

“Kita ini kan keras. Jadi kalo mesti barengan sama cewe yang keras juga, mo jadi apa keluarga.”

“Jangan berlebihan. Semua cewe punya potensi keibuan, kok.”

“Ya, tapi kalo semisal udah jadi pola, gimana? Kalo orang udah biasa dengan kultur begitu, pasti akan susah mengubahnya.”

Kukuh belum menyerah. Ia bombardir semua pandanganku tentang perempuan dengan seabrek data dan argumentasi nyata. Ia tak suka kalau aku berbaiat pada sesuatu yang tidak realistis. Menurut Kukuh, ada keinginan yang sulit dicapai karena memang kita tidak benar-benar memiliki kekuatan atas hal itu. Jadi jangan terlalu memaksakan diri.

“Kalo kata Kennedy, semua persoalan di muka bumi ini dibuat oleh manusia. Artinya, semua persoalan itu juga harus diselesaikan oleh manusia dengan cara manusia. Ngga usah terlalu membeda-bedakan orang di kelas-kelas tertentu, trus berkesimpulan kalo satu kelas akan kesulitan akses atas kelas yang lain,” elakku kental maksud, agar Kukuh dapat menyetujui semua standarku.

“Asal jangan ketinggian. Jatuhnya sakit,” sela Kukuh tepat.

“Sadar akan posisi itu wajar dan harus, tapi menipiskan potensi diri itu juga tak bagus. Kita kan beranggapan bahwa semua orang berhak bahagia dengan caranya masing-masing. Pejabat ya seneng, rakyat kecil ya seneng, meski jelas secara kasat mata uang pejabat lebih banyak ketimbang rakyat kecil.”

“Itu kalo pejabat ketemu yang sama selevelnya, dan rakyat kecil bersanding dengan rakyat kecil. Bagaimana kalo kemudian kenyataannya pejabat harus bersanding dengan rakyat kecil? Nah, bahagia itu ditafsirkan berbeda oleh orang-orang yang memiliki pola hidup berbeda. Bila persepsi tentang kebahagiaan itu tidak bisa dipertemukan, muncullah konflik.”

Aku terpekur. Aku tahu, kalau komentar Kukuh tak sepenuhnya benar, dan aku dapat meng-counter-nya. Tapi sepertinya, ada benarnya juga.

“Wah, kalo kita tunduk sama konsep status sosial, ningrat ato bukan, kaya ato miskin, mulia ato bukan, selamanya kita menyetujui status quo, dong. Menganggap orang lain lebih rendah kan ngga boleh,” ujarku kemudian.

“Terserah lah. Asal kamu seneng aja,” pungkasnya. Kali ini, dengan mulut yang agak monyong.

Tawa pun meledak sangat keras. Walau serius, semua hal tak harus segera diselesaikan kesimpulannya. Bila susah didamaikan, kalimat pentingnya, asal seseorang nyaman menjalaninya. Itu saja. Dan itu yang kusuka dari Kukuh.

1 Comment

  1. narasine kurang runtut urutane dan bahasane kurang dramatis, mask malaikat koq jalan-jalan. jadi gak enak dibaca

Comments are closed.