Search and Hit Enter

Iguh Rahardi

Iguh Rahardi “Lu kemane aje? Nyari permaisuri apa gimane?” SMS Iguh menirukan aksen Budi. Beberapa hari ini aku malas melirik HP. Wajar kalau beberapa SMS Iguh tak aku balas.

Iguh Rahardi. Ia sangat dekat dengan Budi Gunawan Sutomo. Wajar kalo ia tahu banyak soal Budi, termasuk cara dia bicara. Selain satu angkatan di Pondok Shabran, mereka satu faksi di HMI menyoal gerakan mahasiswa. Meski keduanya dekat denganku, tapi lokus garapannya berbeda. Bila mereka sering tampak di koran atau TV, aku justru yang memunculkan mereka di media-media itu. Bila mereka sering menenteng megaphone di jalan-jalan, aku justru sering memanfaatkan kamera untuk mengekspose mereka. Keduanya lebih dekat dengan gaya public figure, sementara aku tak terlalu suka popularitas. Begitulah, tak banyak yang tahu kerja sama ini; cukup Budi dan Iguh.

Iguh identik dengan pekerjaan teknis. Setiap kali kepanitiaan dibentuk, profesi kutukannya adalah kepala divisi perlengkapan. Sejak aku kenal dia, hingga pensiun, ia kesulitan untuk melepaskan takdirnya itu. Ditunjang badannya yang tambun, senyumnya yang renyah, dan cara bercandanya yang familier, Iguh pun praktis sangat disukai banyak orang dari semua kalangan; berbeda denganku. Banyak cewe yang ikhlas bercerita seputar persoalan hidup ke Iguh, karena ia layak dipercaya. Banyak pihak yang merindukan dia, karena ia memang pekerja keras. Seumur-umur kenal Iguh, tak pernah ada cacat hubungannya denganku.

Kawanku yang ini bertipikal solidarity maker. Ia paling tak suka menyakiti orang. Salah-salah, saking tolerannya, ia sering nurut walau harus melanggar norma. Walau kadang permisif, Iguh sangat loyal terhadap kawan dan komunitas. Pernah suatu ketika, gara-gara miskomunikasi dengan organ mahasiswa tertentu, aku dan Iguh harus berurusan dengan ratusan massa mereka. Entah, bila memanas, barangkali aku dan Iguh harus bengep bareng untuk menetralisasi kondisi.

Banyak yang bisa dikenang dari kerja samaku bersama Iguh. Rata-rata memang seputar kepanitiaan dan gerakan mahasiswa. Kalau aku tak punya uang, Iguh sediakan uangnya untuk dimakan bersama. Kalau Iguh belingsatan tanda tak dapat berpikir keras-keras, ia pun aku hadiahi dengan lawakan-lawakan yang tak lucu, tapi Iguh pasti tertawa. Ya, ia tak pernah tega aku sakit hati. Walau ia banyak melakukan perilaku nista, ia adalah orang pertama yang tak merelakan aku untuk bersentuhan dengan semua perbuatan kotor itu. Untuk kongkalikong politik, setting penggembosan gerakan, pemanfaatan jabatan, hingga dukung-mendukung, Iguh tak pernah melibatkan aku sebagai aktor. Iguh tahu, aku harus tetap steril sebagai sosok yang ‘disucikan’ meski aku tahu, aku tak suci.

Ketika itu, ia telah setengah tahun di Samarinda. Selain berkarier, ia berniat serius untuk belajar menghadapi hidup. Bila kemarin, di atas kertas, ia selalu diperhitungkan di pentas gerakan mahasiswa, kali ini, tentu lebih sulit, karena bersentuhan langsung dengan masyarakat yang lebih plural.

“Emang antum mau nikah kapan, Men?” tanya Iguh suatu ketika.

“Bukan nikah kapan, Guh. Kalo kata kamu, aku pantesnya nikah sama siapa?”

“Ha ha ha…. Punya Panjero dulu, dong,” tawar Iguh.

Sejak masih sekolah, aku dan Iguh paling ngiler dengan Mitsubishi Pajero, mobil keluaran Jepang berharga ratusan juta itu. Ia sering plesetkan Pajero dengan Panjero. Sayangnya, Iguh keberatan tuntutan. Pacarnya punya tuntutan lebih soal reputasi kekayaan. Wajar kalau dari dulu, ia sudah sangat tertekan kalau bicara masa depan, termasuk menikah. Padahal, dengan sadar ia tahu, kakinya tak secepat kepalanya. Apalagi Iguh sangat dekat dengan kaum miskin di daerah-daerah kumuh. Semua itu jelas membangun benturan perasaan yang amat sangat.

“Budi aja udah bisa ceramah soal cewe gitu, kok,” kataku simpel.

“Makanya Elu jangan kejar setoran terus,” timpal Iguh.

“Ya Guh. Kamu serius dong. Kamu nikah duluan, biar dunia tahu, orang-orang kaya kita itu bisa nikah.”

“Tapi kaya-nya masih lama. Kita kan masih berburu dan meramu begini.”

“Ngga lah, Guh. Hidup itu ngga sesulit itu. Lagian, siapa sih yang tahu. Orang nyatanya juga kita sering jumpai kan, kalo hidup itu bisa loncat-loncat tapi kita ngga sadar.”

“Oke. Kalo begini, baru nyadar, kalo ane Sarjana Agama. He he….”

“Biar bisa bahagia, Guh. Menikmati hidup.”

“Biar sekarang masih di hutan Kalimantan.”

“Ha ha ha !!!”

Iguh juga cerita kalau sebagian uangnya ia sumbangkan ke masjid di dekat rumahnya… tiap bulan.

“Kalo yang ini jangan diekspose, ya?”

Ya, Iguh tak mau riya.

1 Comment

  1. Ini lagi. kurang deskriptif menjelaskan profile Iguh. Bagi orang yang kenal Iguh, bisa membantah tulisan ini. Bagi orang yang kenal Iguh, bingung membayangkan sosok Iguh seperti apa.

    Piye to Rif, dah lam berkutat di dunia menulis koq tulisanmu kurang nyaman. Bok sing konsisten dengan gaya tulisan. Ojo gur seperti orang lagi bergosip atau malah kaya orang sing tidur + nglindur.

Comments are closed.