Search and Hit Enter

Fathul Alam

“Opie’, adikku, mau nikah. Wah, pusing juga kalo begini. Semisal belum lulus apa rezekinya yang beda sih, ngga terlalu soal. Tapi kalo udah senggol acara nikah begini, malu rasanya. Kesannya, aku kalah dewasa trus belum cukup mental juga.”

Hari belum benar-benar pagi. Subuh saja belum menjelang di luar sana. Ketika itu, Fathul Alam, godfather-nya oksidentalisme HMI Sukoharjo, mampir. Ia baru saja tiba dari Banten, asal nasabnya. Belum juga kantukku benar-benar hilang, kalimat-kalimat penting telah meluncur deras memenuhi telingaku. Aku maklum, orang penting yang satu ini bertipikal autentik. Maksudnya, ia sangat gemar berekspresi dengan cara pandang yang asli ia dapatkan sendiri, bukan adopsi apalagi plagiasi. Walau kental eksistensialismenya, ia menyatakan tegas bahwa ia bukan penganut Jean Paul Sartre, biang eksistensialis Barat.

Praktis, untuk merunut komentarnya tentang menikah itu, aku mesti berpayah-payah menyusun partisipasi yang bukan meniru-niru atau setidaknya, kalau pun aku berniat mengutip, Alam belum sempat mengetahuinya. Soalnya, bila tak hati-hati, aku bisa dianggap tak memiliki kepribadian, malas berpikir, atau bahkan, kufur nikmat. Dahsyat, kan? Berasa di area Khalifah Al-Ma’mun.

“Mang kamu nyari cewe yang kaya’ apa, sih? Kalo penginnya tinggi, putih, cakep, kaya, trus anaknya kiai ya susah,” timpalku mengusung egalitarianisme peran.

“Eh, ngga bisa gitu. Sekufu’ itu perlu. Nabi aja bilang kalo kita nikah bisa lihat cewe dari cantiknya, kekayaannya, keturunannya, juga agamanya. Jadi, nasab itu tetep perlu,” tutur Alam berdesing kuat.

“Waduh, asal kamu tahu, Lam. Orang yang suka membesar-besarkan nasab itu mirip iblis. Dia kan bilang ke Tuhan kalo ia dibikin dari api, knapa mesti harus bersujud pada Adam yang dibikin dari tanah. Ngga level, katanya,” aku masih berpantang.

“Lho. Orang baik itu jelas dapat orang baik. Kalo keluarganya baik, kemungkinan kalo anaknya baik kan lebih besar ketimbang keluarga yang awut-awutan.”

“Ya. Tapi, predikat baik itu kan Tuhan yang kasih, bukan kita. Jadi, yang milihin kita cewe yang sebaik kita itu ya Allah.”

Pfuh… eskalasinya tajam. Sebenarnya, Alam hanya ingin berbagi tentang keresahan seputar adiknya yang hendak menikah. Mengapa jadi berbelit-belit begini? Mungkin, citra Alam di mataku telanjur mem-figur. Pantas saja aku agak strength saat mendiagnosis persoalan bersama. Ada semacam standar yang sering dijalani bersama tanpa kesepakatan seperti berpikir alternatif atau tuntutan untuk berbagi progresivitas.

Oya, dulu, dialah yang perkenalkan aku pada sederet pemikir Timur Tengah kenamaan seperti Ali Syariati, Fazlurrahman, Hassan Hanafi, atau Murtadha Muthahhari. Dedengkot-dedengkot logika Yunani semisal Thales, Socrates, Plato, Aristoteles, hingga Plotinus mewarnai hari-hariku bersama Alam. Berbeda dengan Aan yang agak applied, Alam sangat doktriner. Ia mirip guru bahasa Arabku di Ibtidaiyah dulu, yang tiap kali ketemu harus menghafal seabrek mufradad. Jadi, ia peletak dasar kebutuhanku akan pentingnya membaca buku dan mengubah mind set-ku agar meyakini kebenaran dengan epistemologi yang cukup; tidak taken for granted atau tertipu pseudo-agama (kalimat ini selalu saja muncul tak jemu di setiap deskripsinya tentang eksistensi).

Bila aku melabelinya sebagai Oksidentalis Sukoharjo, lantaran dialah yang paling getol menyuarakan pentingnya cara pandang bahwa Barat bukan segalanya. Tingkah generasi muda Islam yang kebarat-baratan jelas merupakan bentuk keinferioran sikap yang harus dihilangkan. Sebab, menurut Alam, Barat berperadaban profan; tidak berstandar transendensi yang cukup. Jadi, adalah lemah bila seseorang masih beranggapan kalau Barat itu superior dan layak diikuti karena mereka tidak berbaiat pada kesempurnaan hakiki.

“Begini, sebenarnya, masalah orang sekarang itu justru pada kesakralan nikah yang mulai menurun. Gara-gara hidup yang semakin kompleks, rata-rata orang menikah di umur 30 tahun. Orang hanya menuruti keinginan publik bahwa menikah adalah status baru yang harus dimiliki,” Alam mulai merespons persoalan ini dari sudut pandang yang berbeda.

Aku suka kalimat ini. Pasalnya, tampaknya dialektika ini tak akan berlama-lama lagi. Angin konkret sepertinya akan menghampiri, walau mungkin, belum begitu solutif. Alam mulai menyusun das sollen ketimbang berlama-lama menggelar das seign.

“Hidup itu kan seharusnya semeleh, begitu kata orang Jawa. Kalo kita terus-terusan pakai standar orang, kita ngga akan bahagia. Bahagia itu ya ketika kita bisa menikmati pilihan kita,” lanjut Alam melegakanku.