Search and Hit Enter

Dewi Sielfira Nuraini

“Malem pejuang!” sapa Sielfira lembut via SMS.

Kukenal Sielfira di LK II HMI Kudus awal tahun 2004. Tak ada manuver khusus pada perkenalanku dengannya. Menjelang pembukaan LK II, anak-anak Jogja nekat hendak membubarkan forum plus kompor-kompor ke semua peserta. Konsolidasi pun digelar untuk mendesakkan tuntutan pada kepanitiaan. Beruntung, argumentasi yang dibangun memalukan. Menurutku, selain picisan, tipe tekanannya lebih tepat dikategorikan destroyer, bukan hanya agresor. Aku tak suka mental seperti ini. Mereka ngeyel bayar murah dan akan pulang kembali ke cabang masing-masing kalau tuntutannya tidak diluluskan.

Di forum itu, hanya delegasi Sukoharjo yang tak setuju LK II dibubarkan. Pertanyaan kuncinya, “LK II adalah ajang perkaderan, bukan politisasi kelompok atau cabang tertentu. Bila tuntutan digelar, lantas tidak dipenuhi, apa garansi bahwa LK II tetap bisa diselenggarakan karena pertimbangan perkaderan?”

Tak ada yang bisa menjawabnya. Lantaran terlalu berpolemik, anak-anak Jogja bahkan provokasi fisik. Syukurlah, beberapa rekan sesama Jogja menenangkan forum dengan tetap berkepala dingin. Akhirnya, diambil kesepakatan, diserahkan pada pilihan masing-masing. Forum pun bubar ke kamar masing-masing.

Sukoharjo meeting mendadak. Beberapa anak wakil dari Sukoharjo putar otak untuk membendung kecenderungan peserta yang memang menuntut pembubaran LK II bila tuntutan mereka tidak berhasil. Meski telah tengah malam, akhirnya direkomendasikan untuk menculik satu-dua orang dari berbagai cabang untuk meminta konfirmasi mereka akan keberlangsungan LK II keesokan harinya. Sebab, tak mungkin semua cabang setuju untuk gagal. Kedatangan mereka dari jauh tentu benar-benar untuk menyukseskan LK II.

Serang, Jember, Pekalongan, hingga kemudian Cabang Bandung menyatakan akan berubah pikiran kalau ada pembicaraan dengan kepanitiaan. Bersama beberapa wakil cabang-cabang itu, anak-anak Sukoharjo melakukan pembicaraan khusus seputar permasalahan yang dihadapi. Ringkasnya, LK II tetap berjalan dan anak-anak Jogja pulang ke cabang asalnya untuk membuktikan kekonsistensian mereka atas inisiasi yang mereka lakukan di awal.

Setelah pagi menjelang, materi LK II dilangsungkan normal. Aku lihat, beberapa anak yang semalam menolak LK II sudah mulai luluh dan turut ambil bagian dalam forum, meski agak malu-malu.

Koneksiku yang paling dekat denganku adalah HMI Cabang Bandung. Mereka berjumlah dua orang, satu cowo dan satu cewe. Ternyata mereka pacaran. Si cowo, kebetulan bernama sama denganku, lebih senior ketimbang si cewe. Si cowo pengurus Korkom UNISBA dan si cewe pengurus KOHATI Cabang Bandung. Untuk ke LK II, si cowo bela-belain untuk mengongkosi semua keperluan si cewe ke Kudus. Misi sucinya, LK II tentu akan membuat si cewe akan semakin qualified. Entahlah bila maksudnya tak hanya itu.

Saking akrabnya, di lokasi LK II, banyak waktu yang aku habiskan bersama dua anak Bandung ini. Aku tak tahu pasti, walau pacaran, aku sering dipaksa buat temenin mereka diskusi, jalan-jalan, atau sekadar menikmati langit di sekitaran Colo Kudus yang indah. Aku juga tak terlalu ambil pusing, apa nanti aku seperti orang lain atau apa. Keluarga kecil pun terbentuk cepat di LK II Kudus.

Dua tahun kemudian, aku bertandang ke Bandung. Si cowo tak lagi pacaran dengan si cewe. Sewaktu, aku ketemu si cewe, ia bilang, Istikharahnya menjawab penolakannya itu. Meski si cowo sulit menerimanya, si cewe bisa menjelaskan lebih lanjut dengan beberapa kalimat penting. Baginya, level keagamaan si cowo tak sama dengan keluarga si cewe. Maksudnya, si cewe berdarah ningrat pesantren, sementara si cowo penganut Islam yang agak-agak substantif (tidak mengedepankan syariat).

Si cowo yang belum lulus juga alasan vital lain. Belum lagi tentang beberapa perasaan si cewe yang sulit dijelaskan. Pasalnya, si cewe punya banyak keinginan besar untuk diwujudkan, sementara si cowo hanya monoton mendampinginya, tanpa ada dukungan akses, pengetahuan, juga modal sosial yang lain. Tak seimbang buat si cewe. Praktis, tak ada ruang lagi buat si cowo untuk terus bersanding dengan si cewe.

Aku terpekur nanar. Masih jelas di kepalaku saat keduanya bicara mesra, belanja buah pisang, atau si cowo yang benahi jilbab si cewe gara-gara anginnya terlalu kencang, dulu di Kudus. Berarti, ada kesalahan besar yang tak terbendung dan sulit diselesaikan. Ya, apalagi kalau bukan pola pikir, sikap, dan perilaku yang telah lama bersemayam pada si cewe, sebelum ia mengenal si cowo. Walau si cowo bisa perkenalkan gaya-gaya baru bergaul dan si cewe sangat menikmatinya, tapi fakta tegas bilang, semua itu tak akan berguna tanpa penyesuaian pola masing-masing, termasuk semua hal di luar mereka.

“Cukup lah, ngga usah dibahas. Semua dah selesai. Eh, kalau orang kaya elo itu pacarnya kaya’ apa, ya? Ngga kebayang, tahu!” Sielfira beralih topik. Ya, si cewe yang aku maksud itu… Sielfira.

“Tau nih. Ngga laku-laku sampe sekarang.”

“Ngga percaya.”

“Ya.”

“Knapa emang?”

“Soalnya, kalo mo ketemu aja, mesti baca buku apa dulu. Punya tema diskusi apa. Jadi, serbasusah.”

“Ha ha. Elo emang gila.”

But, I don’t care about it. Lagian emang mesti gitu, kan?”

“Trus nyarinya yang kaya apa, sih?”

“Hei… capek aja. Susah banget damai sama kenyataan. Perasaan, ngga ada yang salah sama pikiranku kalo bikin kriteria, eh… tetep aja ngga sesuai yang dipenginin. Seringnya aku yang ngga direstui, bukannya aku yang nolak.”

“Soalnya, semua-semua elo logikain, sih. Makanya jadi susah.”

“Ngga kok. Begini… orang baik hanya untuk orang baik. Berhubung kriteria baik itu cuma Allah yang tahu, berarti kita cukup berbuat yang terbaik menurut kita, juga berusaha jadi orang baik. Apa-apa kalo baik, hasilnya juga baik.”

“Nah, gue suka gaya lo!”

Sielfira sangat berarti bagiku. Walau jauh, ia tak pernah berhenti bertanya perkembangan hidupku. Setiap kali aku punya gagasan kecil tentang sesuatu, selaksa motivasi membanjir di kepalaku, lantaran dia sangat mendukung semua yang aku mau. Awalnya, aku berpikir, karena dia besar di Bandung, wajar-wajar saja kalau polahnya familier. Gaya kosmopolit yang melekat bersama intelektualitas inklusif ala HMI semakin memanjakanku dan membuatku berkesimpulan bahwa dia memang sangat tahu, bagaimana memperlakukan cowo dengan semestinya. Ya, ia tahu apa yang cowo mau.

Akhir 2006 dia menikah. Sebelum menikah, aku sempat bertanya, “Calon suami Sielfira doyan baca juga, ngga?” Ia tak mau jawab. Setelah lama berselang, aku pun berpesan singkat, “Hal penting yang harus diingat sebelum menikah adalah jangan pernah menyesalinya.” Aku tak tahu pasti. Soal nikahnya ini, Sielfira tak pernah ceritakan sebelumnya. Yang kutahu, pasca bubaran dengan cowonya yang dulu, ia tak berniatan pacaran lagi. Ia pengin langsung menikah, tanpa khitbah. Hingga kini, ia tak pernah ceritakan apa pun tentang suaminya. Dan… aku tak lagi ingin tahu.

“Hei cah elek, masih jelekkah? Gimana nulis bukunya?” SMS singkat Sielfira menyapaku beberapa waktu lalu.

“Woi… ke mana aja, Nek? Gimana nikahnya? Udah bisa kasih advice, dong.”

Advice-nya, buruan nikah. Inget umur, elo udah tua. Nikah tuh enaaaak banget.”

He he…. Tetap saja dia tak banyak berubah. Semoga dia bahagia.