Search and Hit Enter

Budi Gunawan Sutomo

“Sekarang, kalo lihat cewe cakep, sempet kepikir buat tertarik ngga, Bud?”

“Ngga dong. Kan harus setia.”

Glek! Sejak kapan Budi percaya kesetiaan? Bukankah zoon politicon, bahwa manusia dilahirkan untuk berkepentingan lebih ia yakini, ketimbang homo socius, yakni pentingnya manusia untuk berkelompok. Setahuku, kesetiaan jelas diksi yang klise di mata Budi selama ini. Ia telah lama berkutat pada skenario alam tentang homo homini lupus, saat manusia yang satu akan memakan manusia yang lain untuk memperoleh eksistensi. Memilih dunia semirip civil society tentu dambaan Budi guna meyakinkan dirinya juga publik, tanda Budi yakin, bahwa dunia belum pada jalur yang benar. Ya, ia kritis untuk itu; salah satunya.

Budi Gunawan Sutomo. Ia memang sosok kontroversi. Pada masa awal sekolahnya di UMS, ia sempat berjanji pada Tuhan, bahwa ia rela diambil nyawanya bila masih bersekutu dengan drugs. Benar, sekian waktu, ia tak dapat melepas ketergantungannya pada barang setan itu. Ia bahkan harus kehilangan motor saat bertransaksi mendapatkannya. Saat orang tuanya tak peduli lagi, ia sadar tengah salah besar, dan harus segera menyadarinya.

Setelah berhenti dari drugs, adrenalinnya ia kerahkan ke gerakan mahasiswa. Hasilnya fantastis. Semester tiga, ia sanggup mendesain konstitusi KAMA UMS UMS bersama senior-seniornya. Biasanya, seumuran itu, beberapa orang lebih memilih mengekor atau paling banter, menganggap diri underdog, atau meski tampak pandai, ia pasti tak PD unjuk eksistensi. Budi berbeda. Ia pembaca bandel, pendiskusi semalam suntuk, juga penyisir kasus yang tekun. Meski tak pandai mengurus badan, dan terkenal doyan tidur, ia dapat mempersembahkan karya-karya terbaiknya pada gerakan mahasiswa. Publik Solo benar-benar mengenalnya sebagai aktor gerakan mahasiswa.

Untuk belajar marxisme, ia merapat ke PRD, komunitas yang tak populis dan bahkan tak disukai orang-orang HMI. Untuk mengambil peran gerakan, ia memilih berakrab-akrab ria dengan buruh pabrik atau petani di sudut-sudut perkampungan kumuh. Ia menikmati semua itu sebagai bagian dari dirinya. Meski reputasi politiknya tak terlalu mendapat tempat di kalangan internal HMI, Budi melenggang tak terbendung dan tercatat sebagai ikon gerakan.

Tapi, sejak ia memutuskan untuk ‘berdua’, pandangannya tentang arti sebuah kepercayaan menjadi lebih terukur, tidak hanya kasat mata, atau sebatas kepentingan semata. Belakangan, Budi tengah menyandingkan naluri revolusionernya dengan kefemininan peran perempuan. Ia bersemangat untuk berdamai dengan kenyataan bahwa ia memang membutuhkan kepercayaan dan pendukung setia. Aku tahu, itu hal sulit. Tapi… Budi berhasil.

“Sekarang, kamu kaya orang-orang dong, Bud. Nganterin belanja, anter-jemput, siaga kalo ada apa-apa,” tanyaku memastikan.

“Ya. Perempuan kan gitu, Men!”

Ceile!! PD banget Budi menyatakan ketahuannya tentang perempuan. Aku terang saja meradang. Kenapa bisa secepat ini? Seharusnya, Budi kan harus menurunkan egonya terlebih dulu untuk memberi ruang pada cewe, atau setidaknya, belajar mengalah-lah. Budi seperti lupa akan semua piranti kesan yang selama ini ia bangun, bahwa perempuan tak ubahnya laki-laki yang tampak menarik bila revolusioner.

“Trus kalo ntar dia minta kerja dan urus anak barengan, gimana?”

“Ngga lah. Repot,” ujar Budi.

Ha ha ha…. Budi mulai posesif. Ia tak lagi merestui peran lebih perempuan. Ia mau, perempuan harus lebih fokus pada pendampingan laki-laki. Budi pengin juga difanatiki. Ia tak malu lagi menyatakan, takluk di depan cewe. Baginya, ia memang banyak berubah gara-gara cewe.

“Tapi inget, nyari cewe itu yang penting ngga egois,” nasihatnya sempurna.