Search and Hit Enter

Apri Sulistyo

“Orang progresif itu partnernya harus orang rumahan. Orang yang selalu bilang, everything’s gonna be okay.”

Apri Sulistyo. Ia pencinta Mr. Big dan Dream Theater keluaran Gontor yang dapat mengkristalkan semua pengetahuanku tentang pemikiran-pemikiran dunia. Selama ini, buah pikir orang-orang penting itu hanya dapat aku ceritakan, tanpa dapat aku rumuskan dengan jelas bagaimana mengaktualisasikannya. Berbuah semangat yang tak pernah padam dalam menggagas kondisi, prasangkaku menjadi semakin tertata dan lebih bisa melihat banyak hal yang semestinya dilakukan untuk mewujudkan masyarakat Madani ala Rasulullah Saw. itu.

Suatu ketika, Apri bicara perempuan; lokus bahasan yang jarang sekali dia sentuh. Ia percaya pada love at the first sight, yang tak aku setujui. Ia lantas mengisahkan cerita unik di film yang pernah ia tonton.

Suatu ketika, seorang pengusaha kaya lajang meminta pada seorang suami, “Bolehkah istri Anda saya pinjam sehari saja. Anda boleh meminta bayaran berapa pun.” Sontak saja sang suami marah besar.

Setelah semuanya mereda, sang suami bertanya, “Apa yang kauinginkan dari istriku.” Si pengusaha menjawab, “Aku membutuhkan kekaguman yang hanya pernah aku miliki sekali dalam hidupku. Sewaktu masih sekolah, suatu saat aku tengah berdiri di penyeberangan dekat lampu merah. Sepintas, di dalam bus kota, ada seorang perempuan cantik menatapku lantas tersenyum kepadaku. Karena aku tak ingin tampak murah, aku putuskan untuk memalingkan muka. Tapi, setelah bus pergi jauh, aku baru sadar bahwa aku membutuhkan dia.”

Apri ingin menggarisbawahi kenyamanan yang hanya dapat dirasakan dan sulit diceritakan. Tanpa kenyamanan, relasi antara laki-laki dan perempuan hanya terbungkus kesan yang bisa jadi sulit bertahan lama. Ia mendambakan perempuan yang bisa membuatnya at home, kapan dan di mana pun. Ia sulit membayangkan bila ia harus kerja keras, sementara ketika pulang, suasananya masih sama. Baginya, tak penting apakah si cewe itu pintar atau tidak, tapi yang penting emosinya matang dan takzim pada laki-laki. Si cewe dapat diajak senang, susah, juga berkomunikasi, meski mungkin tak solutif. Sebab, kenyamanan sulit direkayasa. Bila perempuan harus mirip laki-laki dengan tingkat kompetisi yang sama, hidup tidak akan seimbang.

Ia menilai, Clinton dan Hillary bukan pasangan ideal. Sebab, keduanya memiliki pamor yang sama-sama besar di depan publik. Apri mencontohkan, Nurcholish dan istrinya sangat serasi. Meski besar di luar, Nurcholish tampak biasa saja di depan istri dan anak-anaknya. Sang putra bahkan pernah berkomentar, “Bagaimana mungkin ayah yang aku kenal biasa saja, tapi banyak dihujat orang dan dianggap besar?” ia tak habis pikir dengan perlakuan orang-orang terhadap Cak Nur yang menurutnya biasa saja.

Lebih jauh, Apri berujar kalau cewe-cewe yang telah terpola egois sejak lama akan kesulitan bekerja sama dengan orang-orang progresif. Benturan akan sering terjadi lantaran biasanya, ia dapat meluluskan keinginan sesuka hatinya. Bila ia harus berhadapan dengan orang yang menuntut tensi pikir tinggi dan tanggung jawab lebih luas, tentu kedewasaan dan kematangan emosi adalah hal sulit. Mengerti akhirnya menjadi barang yang sangat mahal.

“Sebentar, sombong itu ada dua. Pertama, merendahkan orang lain. Kedua, menolak kebenaran. Maksud cewe yang sombong itu yang kaya’ apa?”

“Cewe sombong itu yang sok yes, merasa paling didamba, suka mempermainkan perasaan orang, suka membangun kesan, sebenarnya mau tapi susah mengungkapkannya, dan melakukan apa yang dimaui saja, tanpa mau mendengarkan orang lain.”

Apri juga suka cewe yang bisa blak-blakan dan egalit. Dengan blak-blakan semua persoalan dapat lebih gampang dicerna dan gampang diselesaikan. Relasi ini tidak hanya melahirkan prasangka-prasangka yang belum tentu benar, tapi menghabiskan waktu dan energi. Sementara itu, egalitarian peran akan membuat relasi semakin kuat. Tak ada lagi siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah. Keduanya akan beranggapan komplemen; susah mencari penggantinya.

“Kita kan berusaha menjadi manusia yang baik. Perkara nanti ada hasilnya atau tidak; berhasil atau tidak; menang atau tidak, itu kan efek aja.”

“Semisal tidak sesuai yang diinginkan, gimana?”

“Ya harus diterima.”

“Ngga… ngga…. Kita ngga sekuat itu kalo benar-benar ditinggalin.”

Wah. Benar juga. Soalnya, Rasulullah juga sangat bersedih sewaktu khadijah meninggal. Allah bahkan memberi servis khusus, pertanda beliau sungguh-sungguh shock.